3 Pelatih Wakil Jateng-DIY di BRI Liga 1: Pertaruhan Nama Besar Tim, Jangan Sampai Malu-maluin

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Solo - Dalam hitungan hari lagi sepak mula BRI Liga 1 2021/2022 dimulai. Seluruh tim peserta telah menjalani berbagai persiapannya demi mampu melewati persaingan dengan maksimal.

Tidak hanya bagi para pemain yang tekun berlatih dan menjaga performa setelah sekian lamanya sepak bola Indonesia vakum akibat pandemi COVID-19. Para pelatih pun juga siap memimpin skuadnya bertempur.

Pelatih-pelatih yang telah ditunjuk menjadi nakhoda, tak kalah siapnya dengan anak buah. Dengan tugas menyiapkan berbagai rancangan taktik permainan maupun menyusun kedalaman skuad.

Selain merekrut pemain yang menjadi kebutuhannya, mereka telah menyusun program latihan. Mulai dari mengembalikan kondisi kebugaran, meningkatkan stamina, memberikan sentuhan suasana kompetisi, hingga menjaga mental menjelang medan pertempuran dimulai.

Baik pengalaman saat bermain maupun ketika sudah menjadi pelatih, akan dipadukan dengan kemampuannya meramu strategi. Hal itu bakal membawa pengaruh besar untuk konsistensi timnya.

Di wilayah Jateng-DIY terdapat tiga tim yang tampil di BRI Liga 1 nanti, yakni PSIS Semarang, PSS Sleman, dan Bhayangkara Solo FC. Masing-masing memiliki pelatih berkarakter untuk mengarungi persaingan kompetisi, demi

Bola.com menyajikan ulasan tentang kualitas, potensi, dan karakter ketiga pelatih jagoan Jateng-DIY:

Imran Nahumarury (PSIS Semarang)

Caretaker PSIS Semarang, Imran Nahumarury saat memimpin sesi latihan di Stadion Citarum, Semarang, Jumat (13/8/2021). (Dok PSIS)
Caretaker PSIS Semarang, Imran Nahumarury saat memimpin sesi latihan di Stadion Citarum, Semarang, Jumat (13/8/2021). (Dok PSIS)

Pria asal Tulehu, Maluku yang namanya lama dikenal sebagai pesepak bola nasional di era 90-an. Ia lahir di Tulehu pada 12 November 1978. Bakatnya dimaksimalkan oleh PSSI melalui program Baretti di Italia.

Kebintangannya sebagai pemain adalah saat berseragam Persija Jakarta. Lama bermain untuk Macan Kemayoran hingga ia ikut berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia di tahun 2001.

Lantas Imran berkelana ke sejumlah klub seperti Persib Bandung, Persita Tangerang, dan Persikabo Bogor. Setelah pensiun, dirinya melanjutkan karier sebagai pelatih. Diawali dengan menjadi asisten pelatih di sejumlah klub.

Akhirnya ia berjodoh dengan PSIS di musim 2020. Ia membantu tugas Dragan Djukanovic sebagai pelatih kepala. Imran mampu membawa pengaruh cukup besar, termasuk pernah menggantikan peran Dragan dalam sebuah laga di Piala Menpora dengan hasil positif.

Sebenarnya, Imran Nahumarury belum dipastikan sebagai pelatih kepala untuk PSIS musim ini. Tim Mahesa Jenar sedang mencari sosok pengganti Dragan Djukanovic yang sejauh ini belum ditentukan.

Saat ini, Bruno Silva dan kawan-kawan terus digemblengnya untuk mengejar jadwal Liga 1 yang semakin dekat. Terlebih setalah ditinggalkan Dejan Antonic, Imran bertekad membuat timnya semakin siap tempur.

Sambil menunggu kedatangan pelatih kepala meneruskan Dragan Djukanovic, Imran punya tugas secara untuk bertahap untuk mengembalikan kondisi fisik, meningkatkan Vo2Max, dan mematangkan taktikal.

Meski dikejar tayang jadwal yang kurang ideal, PSIS dibawah asuhannya untuk sementara dalam tren positif. Selain pemain yang dalam kondisi prima, mental PSIS meningkat dengan beberapa hasil menawan dalam uji coba.

Dejan Antonic (PSS Sleman)

PS Sleman - Dejan Antonic (Bola.com/Adreanus Titus)
PS Sleman - Dejan Antonic (Bola.com/Adreanus Titus)

Pelatih asal Serbia yang didatangkan PSS pada awal tahun 2020. Saat itu dirinya menggantikan posisi Eduardo Perez yang melatih PSS hanya seumuran jagung, melanjutkan tugas Seto Nurdiyantoro.

Nama Dejan Antonic jelas tidak bisa disepelekan sebagai pelatih kenamaan di Liga Indonesia. Selain pernah berkarier sebagai pemain saat aktif bermain, Dejan juga sukses sebagai pelatih dengan pernah membesut Pelita Bandung Raya, Persib, Arema, Borneo FC, dan Madura United.

Di awal kedatangannya untuk PSS, Dejan Antonic sempat mendapat sorotan para pendukung PSS, karena dinilai kurang membawa permainan kurang greget. Seperti halnya dengan tekanan cukup hebat ketika PSS dalam posisi terjepit sebelum memastikan lolos ke babak delapan besar Piala Menpora.

Rentetan hasil yang kurang maksimal tersebut membuat para pendukung PSS cukup kesal dan seolah menyalahkan Dejan Antonic. Eks pelatih Madura United tersebut dianggap gagal memaksimalkan potensi tim dengan deretan pemain yang cukup mewah.

Perlahan tekanan demi tekanan dapat dilaluinya, hingga mampu membawa keberhasilan PSS lolos ke fase gugur. Bahkan hingga sukses mengunci perangkat ketiga turnamen Piala Menpora 2021.

Setelah tampil di Piala Menpora, tim Elang Jawa yang dipimpinnya menggekar pemusatan latihan di Bekasi sekaligus menjalani serangkaian uji coba. Termasuk saat kembali di Sleman.

Meski secara kekompakan tim mengalami peningkatan, PSS justru mendapat hasil kurang memuaskan di beberapa uji coba. Diantaranya menelan kekalahan dari tim Liga 2 seperti Persiba Balikpapan dan AHHA PS Pati.

Liga 1 yang sempat tertunda membuatnya kembali pulang ke negaranya di Serbia. Dejan Antonic kini tak punya banyak waktu lagi, setelah kembali ke Sleman. Selain mengembalikan kondisi skuadnya, ia juga punya tugas mencari dua pemain asing baru untuk melengkapi kuota legiun asing PSS.

Paul Munster (Bhayangkara Solo FC)

Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, memberikan arahan kepada pemainnya saat menghadapi Bali United pada laga Shopee Liga 1 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jumat (13/9). Bhayangkara bermain imbang 0-0 atas Bali United. (Bola.com/Yoppy Renato)
Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, memberikan arahan kepada pemainnya saat menghadapi Bali United pada laga Shopee Liga 1 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jumat (13/9). Bhayangkara bermain imbang 0-0 atas Bali United. (Bola.com/Yoppy Renato)

Ia dipercaya membesut Bhayangkara FC pada pertengahan musim 2019, menggantikan posisi Alfredo Vera. Paul Munster berasal dari Irlandia Utara dan tergolong pelatih muda denhan usianya yang masih 39 tahun.

Debutnya sebagai pelatih dimulai pada tahun 2012. Munster ditunjuk jadi pelatih Assyriska BK di Divisi Sepak Bola Swedia. Di musim berikutnya ia diangkat menjadi manajer Örebro Syrianska IF di Divisi 1.

Ia juga sempat ditunjuk menjadi pelatih Timnas Vanuatu hingga akhirnya direkrut The Guardians (pelatih Bhayangkara FC). Prestasi musim pertamanya cukup apik, dengan sukses finis di urutan empat klasemen akhir Liga 1 2019.

Alhasil Munster dipertahankan untuk kembali membesut Bhayangkara FC di musim 2020, sebelum kompetisi digugurkan akibat pandemi COVID-19. Serta turnamen pramusim Piala Menpora 2021 dengan hasil kurang maksimal.

Bersama Bhayangkara FC, Munster punya banyak waktu dan persiapan bagi timnya. Program latihan yang terus berjalan baik saat masih di Solo maupun kini di Jakarta, membuat konsentrasi Indra Kahfi dkk. tetap terjaga.

Materi pemain yang tak banyak berubah juga menjadi keuntungan baginya. Minimal tak perlu banyak waktu membangun chemistry di timnya. Di sisi lain, cukup lengkapnya amunisi pemain, membuat Munster tak akan kesulitan memilih komposisi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel