3 Pemain Persik Kediri yang Sukses Mematahkan Mitos Sial Angka 13

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Kediri - Dalam numerologi, ada mitos angka 13 dianggap pembawa sial atau ketidakberuntungan. Bahkan, kepercayaan ini diyakini sebagian orang di belahan dunia mana pun.

Di sepak bola, lain ceritanya. Angka 13 dikaitkan dengan kesialan, tapi ada juga yang mengaitkan dengan keberuntungan.

Banyak pesepakbola yang enggan menggunakan nomor punggung 13 karena dikatikan dengan mitos sebagai angka sial. Namun, ada beberapa pemain yang justru memilih angka 13 dan membuktikan sukses dengan angka itu.

Contohnya Michael Ballack, Park Ji-sung, Alessandro Nesta, Maicon, hingga Danny Murphy.

Di sepak bola Indonesia, ada tiga pemain Persik Kediri yang pernah dan tetap mengenakan jersey bernomor punggung 13.

Karier mereka mulus-mulus saja. Mereka bertiga sama sekali tak meyakini 13 sebagai angka sial. Siapa saja?

1. Budi Sudarsono

Budi Sudarsono mulai bergabung pada latihan perdana Persik di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Selasa (11/8/2020). (Bola.com/Gatot Susetyo)
Budi Sudarsono mulai bergabung pada latihan perdana Persik di Stadion Brawijaya Kota Kediri, Selasa (11/8/2020). (Bola.com/Gatot Susetyo)

Mantan striker Timnas Indonesia ini sejak menggeluti si kulit bundar telah memilih angka 13 sebagai nomor favoritnya. Sosok yang akrab dijuluki Si Piton ini mampu menepis mitos sial angka 13.

Buktinya, sejak meniti karier profesional pada 1999 hingga pensiun 2016, Budi dua kali sukses meraih gelar juara bersama Persija (2001) dan Persik (2006).

Beberapa klub besar juga pernah dibelanya. Mulai Persebaya, Persik, Persija, Sriwijaya FC, Deltras, dan Persib. Budi Sudarsono terakhir kali membela PSCS pada Liga 2 2015 yang batal digelar, karena PSSI dibekukan FIFA.

Budi Sudarsono juga jadi langganan Timnas Indonesia di berbagai ajang Internasional sejak 2001-2010. Kehidupan pribadi Budi pun hingga kini juga berjalan lancar.

Pada Liga 1 2020, Budi mengawali karier sebagai pelatih kepala di Persik. Tapi sayang, dia belum memperlihatkan kualitasnya polesannya. Karena kompetisi Liga 1 2020 dihentikan PSSI akibat pandemi COVID-19.

"Saya tak percaya mitos seperti itu. Kalau saya percaya, dari ajaran Islam berarti saya syirik kepada Allah SWT. Kesuksesan seseorang tak tergantung angka, tapi berkat kerja keras," tuturnya.

2. Gunawan Dwi Cahyo

Gunawan Dwi Cahyo saat memperkuat Persik Kediri. (Bola.com/Gatot Susetyo)
Gunawan Dwi Cahyo saat memperkuat Persik Kediri. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Pemain kelahiran Jepara, 20 Mei 1990 ini juga tak percaya angka sial 13. Dia mengawali karier sebagai pemain junior di Persijap 2004-2009.

Bek tengah berpostur jangkung ini mulai jadi pesepakbola profesioal bersama Persik 2009. Di Persik, dia mewarisi nomor punggung 13 milik Budi Sudarsono yang saat itu telah hijrah ke Persib.

Debut profesional Gunawan Dwi Cahyo memang tak menyenangkan. Karena dia gagal menyelamatkan Persik dari jurang degradasi pada ISL 2009-2010. Namun kegagalan Gunawan ini karena mitos sial angka 13.

Buktinya, hingga kini dia masih membela Bali United. Gunawan juga sukses menjuarai Liga 1 2018 bersama Persija. Beberapa klub yang pernah disinggahinya adalah PSIS, Persik, Arema FC, Persijap, Sriwijaya FC, Mitra Kukar, dan Bali United (2020).

Kehidupan pribadinya juga sangat menyenangkan. Pada 13 Juli 2012, dia menyunting Okie Agustina.

3. Faris Aditama

Kapten Persik, Faris Aditama (ungu). (Bola.com/Gatot Susetyo)
Kapten Persik, Faris Aditama (ungu). (Bola.com/Gatot Susetyo)

Orang ketiga pemupus mitos angka sial 13 adalah Faris Aditama. Saat ini dia sebagai kapten tim Persik. Seperti Budi Sudarsono, Faris adalah pemain asli Kediri.

"Saya tak percaya mitos seperti itu. Angka 13 malah enak, karena tak ada pemain yang berani memilihnya," ujarnya.

Penyerang sayap ini matang di tingkat junior. Selama empat tahun dia ditempa di Arema U-21 dan Persik U21, U23. Baru pada 2010, Faris Aditama naik ke tim senior Persik. Faris mewarisi jersey Persik bernomor 13 setelah ditinggalkan Gunawan Dwi Cahyo hengkang ke Sriwjaya FC.

Karir Faris Aditama memang tak seglamor Budi Sudarsono dan Gunawan Dwi Cahyo yang pernah bermain di klub-klub besar. Karakter sebagai loyalis membuat Faris hanya bermain di Persepam dan Persik.

Namun soal prestasi dia tak kalah dibanding keduanya. Dua kali Faris mengembalikan Persik ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia pada 2013 dan 2019. Prestasi terakhir, dia memimpin rekan setimnya meraih gelar juara Liga 2 2019 sekaligus mempromosikan Persik ke Liga 1 2020.

Video