3 Persiapan Penting BI untuk Terbitkan Rupiah Digital

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan saat ini BI tengah mempersiapkan penerbitan Central Bank Digital Currency (CDBC) atau rupiah digital. Tujuannya untuk mengakselerasi keuangan dan ekonomi digital di tanah air.

“Salah satu tantangan yang kita hadapi dalam digitalisasi adalah bagaimana Bank Sentral memperkenalkan mata uang digital. Kami sedang mempersiapkan itu (CDBC), bank sentral lain juga mempersiapkan hal yang sama,” kata Perry dalam acara 15th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference and Call for Papers 2021, Kamis (2/9/2021).

Perry menegaskan saat ini Bank Indonesia telah bergabung dalam sebuah kerja sama untuk mempersiapkan mata uang digital. Oleh karena itu, Bank Sentral masih mempersiapkan 3 aspek persyaratan utama untuk meluncurkan mata uang digital.

Aspek pertama, yakni Bank Indonesia mempersiapkan desain mata uang digital supaya bisa diterbitkan, diedarkan, dan dikontrol keberadaannya sebagai alat pembayaran.

“Sama seperti mata uang kertas, CDBC merupakan bentuk lain dari uang, yang berbasis digital, di mana bank sentral menjadi otoritas tunggal yang dapat menerbitkan, mengedarkan, sekaligus mengendalikan rupiah digital yang akan dikeluarkan," jelasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Infrastruktur

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kedua, pentingnya mengintegrasikan infrastruktur antara sistem pembayaran dengan pasar keuangan. Lantaran, mata uang digital memerlukan infrastruktur pasar uang dan sistem pembayaran yang saling terhubung untuk mempercepat pengembangannya.

"Inilah alasan mengapa kami mengembangkan BI FAST, sistem pembayaran cepat untuk ritel. Kami sedang mempersiapkan versi terbaru untuk segmen wholesale secara real time, dan itulah mengapa kami juga mengintegrasikan sistem pembayaran tersebut dengan pasar uang," ujarnya.

Platform Teknologi

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Selanjutnya aspek ketiga, yaitu bank sentral masih menentukan platform teknologi dari operasional CDBC. Perry mengatakan, saat ini bank sentral memiliki beberapa pilihan wujud keberadaan rupiah digital.

"Ini yang sedang kami kerjakan dengan bank sentral lainnya, ada beberapa pilihan apakah koin yang stabil, apakah DLT, apakah blockchain, atau platform teknologi lainnya," ungkapnya.

Oleh karena itu, Perry menegaskan perlu kolaborasi antar bank sentral dengan Pemerintah agar, dalam mewujudkan mata uang digital ini bisa disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat nantinya.

“Disinilah Bank Sentral juga perlu bergandengan tangan dengan pemerintah untuk bagaimana menyikapi dan mempromosikan (mata uang digital),” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel