3 Pondasi Harus Indonesia Punya Bila Ingin Jadi Pusat Peradaban Maritim Dunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menghadapi kompetensi dunia yang semakin ketat khususnya di dunia kemaritiman, Indonesia perlu mengedepankan tiga hal, yaitu kecepatan, ketepatan, serta efisiensi.

Ketiga kunci tersebut merupakan pondasi terpenting apalagi jika ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban maritim dunia tahun 2045.

Ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Puncak Peringatan Hari Maritim Nasional ke-57 yang digelar secara virtual, Kamis (23/9/2021).

“Menghadapi kompetensi dunia yang semakin ketat, maka kecepatan, ketepatan, dan efisiensi adalah pondasi penting untuk kita bisa bersaing,” ujar dia.

Dia mengatakan, pembangunan kemaritiman yang memperhatikan karakteristik geografis bangsa, struktur masyarakat Indonesia, kondisi sosial, dan budaya harus dipersiapkan dengan sedemikian rupa agar kita mampu bersaing dalam kehidupan dunia,”

Seiring dengan hal tersebut, produktivitas pun harus ditingkatkan. Menurutnya, produktivitas bisa meningkat apabila kualitas SDM membaik.

Kemudian diperkuat oleh konektivitas yang merata, pembangunan infastruktur yang dipercepat, termasuk infrastuktur digital, energi, dan pangan.

Hal tersebut tentu untuk mendorong industrialisasi serta dukungan ekosistem hukum dan birokrasi yang kondusif bagi dunia usaha.

Posisi Indonesia Strategis

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melakukan Konferensi Pers Perkembangan PPKM pada Senin (20/9/2021).
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan melakukan Konferensi Pers Perkembangan PPKM pada Senin (20/9/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Luhut juga mengatakan bahwa setuju dengan apa yang Presiden Jokowi rencanakan pada awal pembentukan Kabinet Kerja untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Menurutnya, Indonesia berada pada posisi silang antara Lautan Hindia dan Lautan Pasifik. “Itu membuat Indonesia menjadi tempat yang sangat strategis, perlintasan dari semua jalur-jalur ekonomi maupun pertahanan di kawasan ini,” ujarnya.

Karena itulah, sudah seharusnya kemaritiman harus menjadi visi kebangsaan Indonesia. Dengan keunggulan kooperatif sebagai negara kepulauan, tugas selanjutnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara maritim.

Luhut mengatakan, “Sebutan sebagai negara maritim hanya layak diberikan kepada Indonesia jika kita mampu menguasai lautan untuk kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat.”

Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus mampu meraih kemampuan mengelola dan memanfaatkan segenap sumber daya kemaritiman untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Rangkaian Acara Hari Maritim ke-57

Selain memberikan arahan, dalam Puncak Peringatan Hari Maritim Nasional ke-57 ini, Luhut juga membuka serangkaian acara yang akan berlangsung pada hari ini.

Sejumlah acara ini berlangsung di berbagai kota dan diselenggarakan oleh berbagai organisasi dan komunitas.

Adapun acara-acara tersebut antara lain Maritime Continent Fulcrum International Conference 2021 yang diselenggarakan oleh Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Tanjung Pinang, International Cultural Arts Space Festival 2021 dengan tema “Literacy for Resilience” yang diselenggarakan oleh Institut Seni dan Budaya Bandung, peluncuran New Maritime Muda Hub sebagai platform digital jejaring nasional pemuda bidang kemaritiman yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Maritim Muda Nusantara (MMN), dan Panggung Maritim dan Kongres III Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia yang diselenggarakan di Provinsi Kepulauan Riau.

Luhut berharap, rangkaian acara tersebut dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi kemajuan wawasan dan pengetahuan semua komponen bangsa.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel