3 Resolusi 2022 Ala WHO di Tengah Pandemi Covid-19 Dunia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan sejumlah resolusi 2022, mengingat saat ini seluruh dunia masih bergelut menghadapi pandemi Covid-19.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun lantas mengajak semua orang untuk membuat resolusi tahun baru dengan mendukung capaian vaksinasi 70 persen.

Ini menyusul perkiraan WHO bahwa 92 dari 194 negara anggota WHO akan meleset dari target 40 persen di 2021.

Sebelumnya, WHO menginginkan 40 persen populasi di setiap negara melakukan vaksinasi penuh pada akhir tahun, dan memiliki target 70 persen cakupan pada pertengahan 2022.

Hal ini disebabkan pasokan yang terbatas ke negara-negara berpenghasilan rendah hampir sepanjang tahun. Ditambah, vaksin berikutnya hampir kedaluarsa dan tanpa bagian-bagian penting seperti jarum suntik.

"Ini bukan hanya rasa malu secara moral, itu merenggut nyawa dan memberi virus kesempatan untuk beredar tanpa terkendali dan bermutasi. Di tahun depan, saya menyerukan para pemimpin pemerintah dan industri untuk membicarakan kesetaraan vaksin," kata Tedros dikutip dari situs straitstime pada Jumat (31/12/2021).

Selain itu, Tedros juga memperingatkan bahwa di 2022 ada ancaman kembar yang bisa timbul dari varian Omicron dan Delta.

Berikut deretan resolusi 2022 ala WHO di tengah pandemi Covid-19 dihimpun Liputan6.com:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

1. Dukung Capaian Vaksin

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) (AP Photo)
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) (AP Photo)

Kepala Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengajak semua orang untuk membuat resolusi tahun baru dengan mendukung capaian vaksinasi 70 persen.

Ini menyusul perkiraan WHO bahwa 92 dari 194 negara anggota WHO akan meleset dari target 40 persen di 2021.

Sebelumnya, WHO menginginkan 40 persen populasi di setiap negara melakukan vaksinasi penuh pada akhir tahun, dan memiliki target 70 persen cakupan pada pertengahan 2022.

Hal ini disebabkan pasokan yang terbatas ke negara-negara berpenghasilan rendah hampir sepanjang tahun. Ditambah, vaksin berikutnya hampir kedaluarsa dan tanpa bagian-bagian penting seperti jarum suntik.

"Ini bukan hanya rasa malu secara moral, itu merenggut nyawa dan memberi virus kesempatan untuk beredar tanpa terkendali dan bermutasi. Di tahun depan, saya menyerukan para pemimpin pemerintah dan industri untuk membicarakan kesetaraan vaksin," kata Tedros dikutip dari situs straitstime pada Jumat (31/12/2021).

"Sementara 2021 sulit, saya meminta semua orang untuk membuat resolusi tahun baru untuk mendukung kampanye vaksinasi 70 persen pada pertengahan 2022," Tedros menambahkan.

2. Jangan Ada Lagi Monopoli Alat Kesehatan

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, 11 Maret 2020. WHO menyatakan wabah COVID-19 dapat dikategorikan sebagai
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, 11 Maret 2020. WHO menyatakan wabah COVID-19 dapat dikategorikan sebagai

Tedros mengecam sikap negara-negara kaya, menuduh mereka memonopoli senjata untuk memerangi COVID-19 (alat kesehatan) dan membiarkan pintu belakang terbuka untuk virus.

"Populisme, nasionalisme yang sempit, dan penimbunan alat kesehatan, termasuk masker, terapi, diagnostik, dan vaksin, oleh sejumlah kecil negara merusak kesetaraan dan menciptakan kondisi ideal untuk munculnya varian baru," kata Tedros.

Sementara itu disinformasi telah menjadi gangguan konstan pada 2021, menghambat upaya untuk mengalahkan pandemi.

"Dalam gelombang besar kasus yang saat ini terlihat di Eropa dan di banyak negara di seluruh dunia, informasi yang salah yang telah mendorong keragu-raguan vaksin sekarang diterjemahkan menjadi kematian yang tidak proporsional," ucap Tedros.

Tedros menyesalkan bahwa sementara ada 1,8 juta kematian yang tercatat pada 2020, ada 3,5 juta pada tahun 2021 dan jumlah sebenarnya akan jauh lebih tinggi.

3. Ingatkan Waspada Ancaman di 2022

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus (kanan) berbicara dalam konferensi pers di Jenewa, 11 Maret 2020. WHO menyatakan wabah COVID-19 dapat dikategorikan sebagai
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus (kanan) berbicara dalam konferensi pers di Jenewa, 11 Maret 2020. WHO menyatakan wabah COVID-19 dapat dikategorikan sebagai

Tedros juga memperingatkan bahwa di 2022 ada ancaman kembar yang bisa timbul dari varian Omicron dan Delta.

Ancaman ini dapat menimbulkan “tsunami” yang menyebabkan tekanan pada sistem kesehatan akibat lonjakan rawat inap dan kematian.

Menurut WHO, kasus global baru telah meningkat 11 persen pekan lalu, sementara Amerika Serikat dan Prancis mencatat rekor jumlah kasus harian pada Rabu.

"Saya sangat prihatin bahwa Omicron, yang lebih menular, beredar pada saat yang sama dengan Delta, menyebabkan tsunami kasus," kata Tedros.

"Dan ini akan terus memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan dan sistem kesehatan di ambang kehancuran," sambung dia.

Tekanan pada sistem kesehatan tidak hanya karena pasien virus corona baru, tetapi juga sejumlah besar tenaga kesehatan yang jatuh sakit akibat Covid-19.

WHO merefleksikan perang melawan Covid-19 pada 2021 dan berharap tahun depan tahap akut pandemi akan berakhir. Namun, ini bertumpu pada kesetaraan vaksin yang lebih besar.

Seruan WHO Akhiri Pandemi COVID-19 di 2022

Infografis Seruan WHO Akhiri Pandemi COVID-19 di 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Seruan WHO Akhiri Pandemi COVID-19 di 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel