3 Skandal Pengaturan Skor yang Menghebohkan di Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta- Skandal pengaturan skor atau match fixing kembali jadi buah bibir di Indonesia pada awal 2021. Kasus pengaturan skor kali ini terjadi di cabang olahraga bulutangkis.

Delapan pebulu tangkis Indonesia mendapat hukuman berat dari Federasi Bulutangkis Internasional (BWF). Mereka didakwa melakukan pengaturan skor.

Kedelapan pebulutangkis yang telah melakukan kegiatan tercela itu adalah Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadilla Afni, Aditiya Dwiantoro dan Agripinna Prima Rahmanto Putra.

Tiga diantara delapan pebulutangkis itu kemudian diketahui telah mengoordinasikan dan mengatur orang lain agar terlibat dalam perilaku tersebut. Tanpa ampun BWF menjatuhkan sanksi super berat kepada ketiganya.

Ketiga orang tersebut dilarang terlibat dalam aktivitas bulutangkis seumur hidup. Sedangkan lima pebulutangkis lain mendapat sanksi beragam. Ada yang diskors enam sampai 12 tahun dan denda antara 3.000 USD dan 12.000 USD.

Kasus pengaturan skor bukan hal baru di dunia olahraga Indonesia. Kebanyakan kasus pengaturan skor terjadi di cabang olahraga terpopuler yakni sepak bola. Sebelumnya ada juga kasus pengaturan skor di bola basket.

Berikut 3 Skandal Pengaturan Skor Paling Menghebohkan di Indonesia

Sepak Bola Gajah Piala AFF 1998

Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)
Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)

Sepak bola Indonesia sempat dibuat malu dengan adanya skandal sepak bola gajah di Piala AFF 1998. Saat itu Indonesia bertemu Thailand. Kedua tim sudah dipastikan lolos dari Grup A.

Pertemuan Indonesia dengan Thailand hanya memperebutkan status sebagai juara grup. Tm yang juara grup akan bertemu Vietnam di semifinal, sedangkan runner-up bersua Singapura.

Indonesia dan Thailand sama-sama tidak mau bertemu Vietnam. Kedua tim sama-sama ingin kalah di laga terakhir Grup A.

Saat pertandingan akan habis dan skor imbang 2-2, bek Indonesia Mursyid Effendi secara terang-terangan sengaja mencetak gol ke gawang sendiri. Indonesia pun kalah 2-3 dan terhindar dari Thailand.

Gol bunuh diri memalukan tersebut membuat Mursyid mendapat hukuman berat dari FIFA. Mursyid dilarang bermain di level internasional seumur hidup.

Pengaturan Skor di Basket 2017

(ilustrasi/tarkbball.com)
(ilustrasi/tarkbball.com)

Bola basket Indonesia juga sempat diguncang skandal pengaturan skor pada 2017 lalu. Sembilang orang mendapat hukuman larangan bermain di Indonesian Basketball League (IBL) selama seumur hidup.

Sembilan orang tersebut adalah Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Harlusdityo, Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Surawi, Robertus Riza Raharjo, Zulhilmi Fatturohman. Nama terakhir merupakan ofisial tim.

Hukuman berat ini sesuai dengan peraturan pelaksanaan IBL bab 4 pasal 7 ayat 2 yang berbunyi "Apabila terdapat salah satu personel klub IBL yang terbukti melakukan game fixing (pengaturan skor), maka personel klub iBL tersebut akan dikenakan sanksi minimal Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan tidak boleh mengikuti seluruh kegiatan PT BBI seumur hidup".

Hukuman ini harus diberikan karena mereka melakukan tindakan yang tak bisa ditolerir," kata Commissioner IBL saat itu, Hasan Gozali.

Johan Ibo 2015

Warga Indonesia ditangkap karena oleh pihak kepolisian Singapura karena terbukti melakukan praktek pengaturan skor. (TODAY/ Jason Quah)
Warga Indonesia ditangkap karena oleh pihak kepolisian Singapura karena terbukti melakukan praktek pengaturan skor. (TODAY/ Jason Quah)

Skandal pengaturan skor menimpa sepak bola nasional pada 2015 lalu. Pemain Persiba Bantul Johan Ibo digelandang ke Mapolrestabes Surabaya pada 8 April 2015 akibat tertangkap tangan ingin menyuap pemain Pusamania Borneo FC.

Ibo datang ke hotel tempat pemain PBFC menginap. Ibo diduga ingin membahas transaksi agar memenangkan Persebaya.

Ibo mengirimkan SMS kepada tiga pemain PBFC. Manajemen klub kemudian memancing Ibo dan menggerebeknya. Ibo kemudian diamankan pihak keamanan. Namun kemudian dilepas karena polisi tak memiliki cukup bukti.

Saksikan Video Menarik Ini