3 Strategi BI Sukseskan Program Gernas Bangga Buatan Indonesia

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) berkomitmen penuh untuk mendukung kampanye program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Menyusul program berskala besar ini dinilai efektif untuk mendukung kebangkitan UMKM domestik di tengah pandemi Covid-19.

"Ini (Gernas BBI) merupakan event yang sangat besar. Dan ini merupakan (dukungan) kuat UMKM," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara Peluncuran Gernas BBI "Beli Kreatif Danau Toba", Sabtu (20/2).

Bos BI mengungkapkan, bank sentral telah menyiapkan tiga strategi jitu untuk menyukseskan program Gernas BBI. Pertama, ialah dengan mengerahkan 64 kantor cabang BI di dalam negeri dan 6 kantor cabang BI di luar negeri untuk turut mengampanyekan program itu secara lebih masif.

"Bulan lalu kita ke kantor Bank Indonesia Bali, bulan ini ke kantor Bank Indonesia Sumatera Utara dan Sibolga. Semua 46 kantor BI ikut hari ini mengikuti. Saya minta mereka semua dukung penuh kegiatan Bangga Buatan Indonesia," terangnya.

Kedua, ialah dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih gemar membeli aneka produk UMKM domestik ketimbang mancanegara. Terutama juga bagi kelompok pejabat untuk memberikan teladan bagi masyarakat.

"Semua pakaian saya selalu saya beli dari binaan UMKM BI. Ayo seluruh menteri pejabat beli produk UMKM kita, termasuk binaan BI," tambahnya.

Terakhir, memperluas implementasi alat pembayaran digital QR Code Indonesian Standard (QRIS). Melalui alat pembayaran digital ini diyakini dapat memudahkan pelaku UMKM dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli tanpa harus tatap muka.

"Jadi, ayo gunakan QRIS. Sekarang sudah 6 juta merchant UMKM tersambung QRIS. Kita ingin tingkatkan," ucapnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

3,4 Juta UMKM Go Online Lewat Bangga Buatan Indonesia

Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan dari rotan di kawasan Tangerang, Banten, Rabu (17/2/2021). Pandemi corona memukul banyak sektor usaha tak terkecuali UMKM akibat adanya pembatasan aktivitas masyarakat yang membuat omzet penjualan kerajinan rotan menurun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan dari rotan di kawasan Tangerang, Banten, Rabu (17/2/2021). Pandemi corona memukul banyak sektor usaha tak terkecuali UMKM akibat adanya pembatasan aktivitas masyarakat yang membuat omzet penjualan kerajinan rotan menurun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan memastikan target program 3 juta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) go online melalui program Bangga Buatan Indonesia (BBI) sudah tercapai. Sebab, Desember ini sudah ada 3,4 juta UMKM yang memasuki ekosistem digital.

"Sekarang 3,4 juta UMKM pada minggu lalu Desember sudah ada di ekosistem digital. Tapi kita harapkan bisa tingkatkan lagi di akhir tahun ini agar melebihi target," ujarnya dalam webinar bertajuk "Kerja Bareng Untuk Negeri", Sabtu (12/12).

Luhut mengungkapkan, tingginya antusias pelaku UMKM untuk go online tak lepas dari berbagai keuntungan yang diperoleh. Salah satunya akses pemasaran yang lebih luas. "Ayo kita terus dorong agar masuk online, karena ini sangat efisien," imbuh dia.

Lebih lanjut, dia juga meminta pelaku UMKM di tanah air untuk lebih berinovasi agar menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi. Salah satunya dengan menghasilkan packaging atau kemasan produk yang lebih menarik sepertinya hal nya yang dilakukan oleh UMKM di Jepang ataupun Bali.

"Temen-temen UMKM di Jepang packaging itu betul-betul menarik. Tapi istri saya juga kemarin memuji pelaku UMKM di Bali yang membuat kopi juga dikemas menarik seperti dari bambu atau anyaman. Ini ybag harus ditiru karena di Jepang itu tidak ada," terangnya.

Selain itu, pelaku UMKM di Indonesia juga diminta untuk lebih memperhatikan aspek kebersihan produk, sehingga tidak hanya memperhatikan aspek cita rasa semata. Khususnya di masa kedaruratan kesehatan akibat Covid-19.

"UMKM juga harus bisa menghasilkan barang yang selain enak saja, tapi juga harus bersih dan aman lah. Terutama saat ini (pandemi Covid-19)," tegasnya.

Terakhir, Luhut meminta e-commerce untuk berperan aktif dalam membantu pengembangan skala usaha UMKM melalui berbagai pelatihan secara cuma-cuma.

"Dan saya titip Shopee tolong dibantu training UMKM agar semakin berkembang. Kayak pelatihan di packaging, cara marketing, dan financing itu," tutupnya.

Gerakan Bangga Buatan Indonesia Bakal Bangkitkan UMKM dari Dampak Covid-19

Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang, Selasa (3/11/2020). Generalized System of Preference (GSP) atau fasilitas perdagangan berupa pembebasan tarif bea masuk memungkinkan produk UMKM lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan pentingnya gerakan Bangga Buatan Indonesia untuk meningkatkan permintaan produk UMKM di tengah pandemi COVID-19.

“Gerakan Bangga Buatan Indonesia menurut saya ini sangat penting, terutama untuk mendorong produk UMKM yang bergerak di bidang fesyen, home decor, dan pernak-pernik khas daerah,” kata Teten Masduki dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/9/2020).

Menurutnya, produk-produk UMKM Indonesia di bidang ini memiliki keunggulan yang sangat diminati pasar global sebelum pandemi terjadi.

Untuk itu, Teten berharap, melalui gerakan tersebut UMKM di Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan akibat pandemi yang telah menyebabkan kendala dari sisi supply dan demand.

“Kita punya keunggulan domestik berupa ketersediaan bahan baku, baik bahan endemik maupun hasil tambang, dan saya kira kita kaya dengan budaya seni yang bisa menjadi sumber inspirasi untuk produksi pernak pernik di Indonesia,” katanya.

Ia menegaskan kekuatan UMKM Indonesia ada pada “custom culture” dan bukan produk massal. Ini penting diperkuat melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, agar daya beli mereka meningkat dan tidak ragu membeli produk pernak pernik yang dihasilkan UMKM.

Selain itu, pihaknya berupaya terus melakukan pendampingan dan pembinaan agar UMKM siap dan dapat terus bertahan mengembangkan usahanya di tengah masa adaptasi kebiasaan baru.

“Sebelum pandemi, produk fesyen, home decor, dan pernak pernik seperti perhiasan berbahan baku endemik, juga logam dari UMKM kita itu cukup besar permintaan di luar negeri. Dan ini sudah masuk dalam top list untuk dikurasi ke pasar global. Sayang ketika pandemi, permintaan global terganggu,” jelasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: