3 Tanggapan Pemprov Usai Temuan Parasetamol di Perairan Teluk Jakarta

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton, Inggris menemukan adanya kandungan parasetamol yang tinggi di perairan Teluk Jakarta.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi Parasetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brazil (34. 6 ng/L), pantai utara Portugis (51.2 – 584 ng/L).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun tak tinggal diam. Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ikhwan Yogi menyatakan, pihaknya akan menelusuri penyebab tingginya kandungan parasetamol di perairan Teluk Jakarta.

Menurut dia, apa yang terjadi di Teluk Jakarta tersebut tergolong dalam pencemaran.

"Kami akan dalami dan telusuri sumber pencemarannya dan mengambil langkah untuk menghentikan pencemaran tersebut," kata Yogi di Jakarta, Minggu 3 Oktober 2021.

Yogi mengatakan, pengambilan sampel dilakukan pihaknya untuk mengetahui apakah pencemaran parasetamol masih berlangsung atau tidak.

Berikut 3 tanggapan Pemprov DKI Jakarta terkait temuan kandungan parasetamol yang tinggi di perairan Teluk Jakarta dihimpun Liputan6.com:

1. Sebut sebagai Pencemaran

Kapal bersandar di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Teluk Angke dan Ancol yang ada di wilayah Jakarta Utara dilaporkan tercemar paracetamol dengan konsentrasi tinggi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Kapal bersandar di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Teluk Angke dan Ancol yang ada di wilayah Jakarta Utara dilaporkan tercemar paracetamol dengan konsentrasi tinggi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ikhwan Yogi menyatakan pihaknya akan menelusuri penyebab tingginya kandungan parasetamol di perairan Teluk Jakarta.

Menurut dia, apa yang terjadi di Teluk Jakarta tersebut tergolong dalam pencemaran.

"Kami akan dalami dan telusuri sumber pencemarannya dan mengambil langkah untuk menghentikan pencemaran tersebut," kata Yogi di Jakarta, Minggu 3 Oktober 2021.

2. Pastikan Selalu Cek Kandungan Air

Suasana Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Kandungan paracetamol yang terkandung di Angke bahkan mencapai 610 nanogram per liter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram per liter. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Suasana Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Kandungan paracetamol yang terkandung di Angke bahkan mencapai 610 nanogram per liter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram per liter. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Yogi mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup DKI secara rutin melakukan pemantauan terkait pencemaran setiap enam bulan sekali.

Yogi juga menyebut berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak mencantumkan variabel pencemaran berupa parasetamol.

"Mungkin saja memang peneliti tersebut ingin mengetahui kontaminant di luar parameter pencemar baku sesuai peraturan yang berlaku atau ada kasus tertentu," ucapnya.

"Pada prinsipnya sesuatu yang tidak pada tempatnya atau sesuatu yang melebihi kadarnya di suatu tempat adalah pencemaran," kata Yogi.

3. Langsung Ambil Sampel

Anak-anak bermain di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Kandungan paracetamol yang terkandung di Angke bahkan mencapai 610 nanogram per liter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram per liter. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Anak-anak bermain di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Kandungan paracetamol yang terkandung di Angke bahkan mencapai 610 nanogram per liter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram per liter. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tengah menindaklanjuti hasil riset yang menyatakan terdapat kandungan Paracetamol berkonsentrasi tinggi di Teluk Jakarta.

"Tindaklanjut ini dilakukan Sabtu (2 Oktober 2021), untuk memastikan apakah pencemaran tersebut masih berlangsung sampai saat ini," kata Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin dalam keterangan diterima, Minggu 3 Oktober 2021.

Dia mengatakan, pengambilan sampel dilakukan pihaknya untuk mengetahui apakah pencemaran Paracetamol masih berlangsung. Pihaknya juga berupaya mengidentifikasi sumber pencemarannya, sehingga akan ada langkah yang diambil untuk menghentikan pencemaran tersebut.

"Kami berkomitmen untuk mendalami dan menelusuri sumber pencemarnya dan mengambil langkah untuk menghentikan pencemaran tersebut," ungkap Syaripudin.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel