3 Temuan Bangunan Bersejarah di Bawah Kawasan Stasiun Bogor

·Bacaan 3 menit
Bangunan bersejarah peninggalan Belanda ditemukan di bawah tanah kawasan Stasiun Bogor. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Jakarta Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor menemukan sejumlah bangunan bersejarah di bawah tanah dekat Stasiun Bogor.

Temuan pertama mereka adalah saluran air yang dibuat dari susunan batu bata pada masa penjajahan Belanda. Terkait penemuan tersebut, Wali Kota Bogor Bima Arya memastikan bangunan tersebut dibangun pada zaman Belanda.

"Sudah dipastikan bahwa bangunan di bawah tanah ini dibangun pada zaman Belanda," ujar Wali Kota Bogor Bima Arya, Sabtu, 28 Agustus 2021.

Saluran tersebut tepat berada di bawah proyek pembangunan alun-alun Jalan Nyi Raja Permas hingga sebelah Barat kawasan Stasiun Bogor.

Dengan adanya penemuan ini, Pemkot Bogor berencana menggandeng sejumlah ahli dan pakar sejarah untuk meneliti struktur bangunan. Bila masih berfungsi akan dilakukan revitalisasi. Selain itu, ternyata masih ada beberapa bangunan bersejarah lainnya di lokasi ini.

Berikut deretan temuan bangunan bersejarah di kawasan Stasiun Bogor dihimpun Liputan6.com:

1. Saluran Air

Pemerintah Kota Bogor menemukan sebuah saluran air kuno yang terbuat dari susunan batu bata di Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah.

Diketahui saluran air membentang dari Jalan Nyi Raja Permas hingga Jalan Mayor Oking, membentuk huruf U mengelilingi Stasiun Bogor.

Saluran bawah tanah itu memiliki kedalaman sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Dari ketinggian bangunan itu, orang dewasa bisa berjalan tanpa harus membungkuk di dalam terowongan tersebut.

Wali Kota Bogor Bima Arya juga mensinyalir saluran air yang dibangun masa penjajahan Belanda itu terkoneksi dengan Istana Bogor dan yang lainnya.

Tak hanya itu, struktur bangunan tersebut secara kasat mata mirip dengan temuan bangunan bersejarah di Sukabumi, Klaten dan di Bekasi yang lokasinya dekat dengan stasiun.

"Jadi ini memang sisa peninggalan jaman Belanda. Tapi apakah ini saluran air saja atau di dalamnya ada fungsi lainnya, harus didalami. Termasuk kita telusuri sampai mana alirannya," ujarnya.

Ia menduga saluran air itu dibangun sekitar tahun 1800-an, sebelum berdirinya Stasiun Bogor. Sebab, saluran air itu berada dibawah lintasan jalur KRL.

"Cuma saluran itu engga ada air mengalir karena di atasnya ada saluran air yang kita bangun, cuma memang banyak sedimen. Kalau demen dibersihkan bisa berdiri tegak," ujar Bima.

2. Kolam

Wali Kota Bogor Bima Arya menyebut saluran air yang diduga dibangun pada zaman kolonial terdapat ruang yang mirip bak kontrol.

Kolam dengan lebar 2 meter, panjang 10 meter dan kedalaman sekitar 1 meter itu letaknya berada di bawah depo Stasiun Bogor.

"Iya menurut informasi salah satu petugas Dinas PUPR yang mengeruk sedimentasi ada," kata Bima Arya usia meninjau saluran bawah tanah di Jalan Nyi Raja Permas, Kota Bogor, Sabtu, 28 Agustus 2021.

3. Bunker

Selain saluran air dan kolam, ditemukan juga bunker tepat di bawah Depo Stasiun Bogor. Penemuan bunker merupakan hasil baru setelah sebelumnya ditemukan lebih dulu sebuah bangunan yang mirip saluran air berukuran besar pada Jumat, 27 Agustus 2021.

"Ditemukan semacam bunker ternyata. Ukurannya nyaris bisa berdiri orang di situ," kata Wali Kota Bogor Bima Arya, Rabu, 1 September 2021.

Namun, Bima tidak menyebut secara spesifik mengenai luas dan bentuk bunker yang disinyalisasi sebagai peninggalan masa penjajahan Belanda itu.

"Kita akan gali terus dengan melibatkan orang profesional, yang sudah biasa menggali terowongan atau goa, bukan penggali biasa," ujar dia.

Sebab, untuk menelusuri terowongan itu butuh keahlian dan peralatan yang memadai. Ia mengungkap, enam petugas PUPR tiba-tiba jatuh sakit saat membersihkan dan menggali sedimen sebuah bangunan kuno di bawah tanah yang ditemukan pada Jumat, 27 Agustus 2021.

"Yang menggali kemarin sakit sebanyak 6 orang, saya sudah minta cek ke dokter karena apa, apakah kurang oksigen atau ada hal lain," kata Bima.

Meski diyakini peninggalan Belanda, Bima masih akan melakukan ekskavasi dan penelitian dengan melibatkan sejarawan serta peneliti cagar budaya.

"Saya sudah minta kerja sama karena di dalam itu ada semacam bunker. Kita akan fokus dulu ke situ, saya sudah komunikasi dengan Unpak (Universitas Pakuan)," terangnya.

Cindy Violeta Layan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel