3 Tips Menjadi Pengusaha Perempuan yang Sukses

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Menjadi seorang pengusaha perempuan yang sukses tentu menjadi impian setiap orang. Mungkin termasuk sahabat Fimela salah satunya? Bagaimana tidak, ada banyak keuntungan yang didapat dengan menjadi pengusaha. Mulai dari menentukan sendiri target keuntungan yang ingin diperoleh, hingga menjadi sosok inspiratif yang memotivasi banyak orang.

Meski menggiurkan, jalan menuju kesuksesan tidaklah mudah. Pasti akan ada banyak sekali tantangan yang dihadapi. Bukan hanya dari luar, melainkan diri sendiri.

Seringkali ketika dihadapi dengan penolakan, membuat banyak pengusaha perempuan menjadi meragukan diri sendiri. Padahal, penolakan tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur kegagalan.

Belum lagi, masih banyaknya stigma masyarakat yang memandang remeh jika perempuan menjadi seorang pengusaha. Jika tidak konsisten dan cepat menyerah, kesuksesan tentu akan jauh dari kehidupan.

Nah, ada beberapa tips yang dibagikan Meeta Vengapally, seorang pendiri dan CEO Garnysh, yaitu sebuah perusahaan kebugaran dan teknologi berbasis di Silicon Valley, yang bisa sahabat Fimela terapkan.

Secara lebih lanjut, berikut ini 3 tips untuk menjadi pengusaha perempuan yang sukses, dikutip dari Forbes.

1. Belajar menerima penolakan

Banyak orang yang menganggap penolakan sebagai suatu kegagalan yang akhirnya bikin mentalmu jatuh. Padahal, penolakan justru menjadi bagian penting dalam hidupmu lho.

Penolakan adalah hal yang wajar, terlebih bagi seorang pengusaha. Penolakan mengajarkan kita untuk belajar dari kesalahan, mulai intropeksi diri, dan memperbaiki kualitas diri.

Sisi positif dari penolakan adalah menajadikan mentalmu sekuat baja. Sehingga ketika dihadapi oleh penolakan yang serupa di kemudian hari, jadi lebih terbiasa.

Oleh sebab itu, jangan sangkal perasaan ditolakmu. Terima dengan lapang dada, dan jadikan hal tersebut sebagai ajang untuk evaluasi diri untuk menjadi lebih baik lagi. Dengan ditolak berarti harus bangkit kembali dan mencoba lagi.

2. Berhati-hati dan Bersikap gegabah

Berhati-hati dan Bersikap gegabah/ Photo by Icons8 Team on Unsplash
Berhati-hati dan Bersikap gegabah/ Photo by Icons8 Team on Unsplash

Menjadi seorang pengusaha, tentu akan dihadapkan dengan banyak rintangan. Sikap hati-hatimu dalam menyelesaikan suatu masalah hanya akan membuatmu tidak berkembang.

Bagi seorang pebisnis, sifat berani mengambil resiko sangat diperlukan. Jika kita selalu melihat sisi negatif dari suatu hal, hanya akan menjadi penghambat bisnis.

Namun, disatu sisi sifat kehati-hatian juga diperlukan guna menghindari kerugian jika terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Kecorobohan dalam mengambil keputusan akan membuatmu terus dihadang oleh berbagai masalah.

Karena itu, waspadalah dengan keduanya. Perlu diingat tak ada yang salah dalam berani ambil risiko, tetapi jangan terlalu sembrono.

Sebelum mengambil keputusan, lakukan analisis terhadap situasi yang dihadapi. Buatlah pertimbangan masalah untuk jangka panjang dan jangka pendeknya. Barulah ambil keputusan dari kesimpulan yang telah ditemukan.

3. Menjadi pemimpin yang suportif

3. Menjadi pemimpin yang suportif. (Photo by Mimi Thian on Unsplash)
3. Menjadi pemimpin yang suportif. (Photo by Mimi Thian on Unsplash)

Tak bisa dipungkiri, pebisnis wanita kerap kali dianggap miring. Tak sedikit orang yang menilai seorang pemimpin perempuan dikaitkan dengan keegoisan dan ketidakmampuan untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.

Nah, inilah waktunya membuktikan kepada dunia bahwa perempuan layak menjadi seorang pemimpin. Jangan takut terhadap stigma masyarakat, jadilah pengusaha perempuan yang kuat.

Namun, perlu diingat menjadi pemimpin bukan berarti harus bersikap bossy. Tetapi rangkullah tim kerjamu, lihatlah kekuatan mereka dan identfiikasi kekuatannya. Saat menetapkan tugas mereka berdasarkan kelebihannya, sahabat Fimela akan melihat bisnis yang semakin lama berkembang.

Sebagai seorang pemimpin, berikan kekuatan dan dukungan pada karyawanmu. Sadari bahwa kesuksesan suatu bisnis juga didukung oleh kerja keras tim.

Penulis: Hilda