3 Trik Melindungi Diri Sendiri Saat Pinjamkan Uang ke Teman atau Kerabat

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Meminjamkan uang kepada rekan atau keluarga mungkin ada perasaan senang karena dapat membantu menolong orang lain. Namun, perlu diperhatikan untuk melindungi keuangan diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukan ini.

Penelitian menemukan bahwa kebiasaan meminjamkan uang kepada orang lain, tetapi tidak memperhatikan keselamatan dan jaminan dari keuangan, bisa membuat hubungan yang sudah terjadi menjadi bermasalah.

Menurut survei Bankrate yang melibatkan 2.490 responden, tercatat enam dari sepuluh orang yang pernah meminjamkan uangnya kepada kerabat hingga anggota keluarga sekali pun berharap akan dibayar kembali.

Sebaliknya, survei yang dilakukan menemukan bahwa 37 persen responden kehilangan uang setelah meminjamkannya kepada seseorang. Sementara itu, 21 persen mengatakan hubungan yang sudah dijalin dengan orang lain menjadi rusak.

Masalah keuangan adalah masalah yang cukup sensitif bagi beberapa orang. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk menagih utang kepada orang-orang terdekat. Kemudian, muncul harapan bahwa mereka yang meminjam memiliki inisiatif untuk membayar.

Menurut analis industri Bankrate Ted Rossman, jika Anda bisa melakukannya, hindari untuk meminjamkan uang demi keselamatan uang Anda serta hubungan yang Anda miliki. Itu adalah hal penting yang tidak banyak orang ketahui.

“Tips nomor 1 saya adalah jangan lakukan itu. Meskipun sulit untuk mengatakan tidak kepada orang lain yang ingin meminta bantuan,” tambah Ted kepada Grow, Senin (25/10/2021).

Ketika Anda sepakat untuk meminjamkan uang kepada orang lain, ada sekitar sepatuh waktu yang Anda miliki tidak benar. Kebingungan Anda akan dibayar kembali atau tidak menentukan hubungan Anda ke depannya dengan orang tersebut.

Tiga Langkah Penting

Ilustrasi Etika Meminjam Uang Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Etika Meminjam Uang Credit: pexels.com/pixabay

Rossman membantu Anda melalui tiga langkah ini agar dapat melindungi diri dari ketidakpastian keuangan di masa mendatang akibat meminjamkan uang kepada orang lain.

1. Jika tidak mampu kehilangan, jangan pinjamkan

“Hal pertama, saya tidak akan meminjamkan uang jika saya tidak mampu untuk kehilangannya,” kata Rossman.

Apabila seseorang meminta Anda dalam jumlah tertentu dan membuat Anda berjuang untuk membayar tagihan Anda sendiri, haruslah katakan tidak. Bahkan dengan pinjaman sekalipun, segala sesuatu bisa berantakan.

Hampir tiga per empat responden dalam survei Bankrate menjawab mereka telah dibebani dengan tagihan-tagihan tidak jelas dan tidak penting ketika harus menggunakan kartu kredit, seperti tagihan makan malam yang berharap untuk dibayar kembali.

Pada masalah ini, Anda juga tidak boleh meminjamkan kartu kredit kepada siapapun. Rossman mengatakan bahwa orang yang meminjamnya, dapat membelanjakan/menggunakannya lebih banyak dan membuat Anda terjerah utang.

Ditambah, apabila Anda tidak memiliki keselamatan dan keamanan dari keuangan sendiri, hal tersebut sama saja dengan penipuan kartu kredit yang dilakukan di internet.

2. Buat kegiatan meminjam terlihat resmi

Uang yang dipinjamkan dalam jumlah besar, penting untuk membicarakan beberapa persyaratan dalam melakukan pembayaran.

Syarat tersebut diberikan oleh Lisa Marie Bobby selaku psikolog dan direktur dari Growing Self Counseling & Coaching di Boulder, Colorado.

Alih-alih mengatakan untuk peka terhadap permasalahan seperti ini. Dengan menetapkan syarat dan tanggal yang disepakati sebagai tanggal jatuh tempo dapat mempermudah Anda. Misalnya, menggunakan sistem bayar dicicil.

Kemudian, setelah sepakat pada tanggal jatuh tempo uang yang dipinjam, Anda memiliki hak untuk menagih utang tersebut dalam bentuk pesan sebulan sekali pada hari pertama bulan tersebut. Tujuannya sebagai pengingat.

Terakhir, untuk meminta pertanggungjawaban dari uang yang dipinjam, pertimbangkan lagi untuk menulis surat perjanjian. Jika Anda memutuskan membuat dokumen formal, hal tersebut akan terkesan resmi secara hukum.

Anda bisa mencari beberapa contoh struktur surat perjanjian utang yang bisa diikuti dan lakukan tanda tangan.

Pahami risiko penandatanganan

Ilustrasi tanda tangan (Sumber: Istockphoto)
Ilustrasi tanda tangan (Sumber: Istockphoto)

Jika Anda adalah seorang cosigner pinjaman⎼orang yang berkewajiban untuk membayar kembali pinjaman sama, berarti sudah menjadi tanggung jawab Anda untuk mengembalikan uang yang dipinjam.

Dengan kata lain, Anda bertanggung jawab atas uang yang dipinjam apabila peminjam uang tidak membayar uang tersebut kepada Anda. Hal tersebut yang menyebabkan cosigner memiliki risiko yang tinggi.

Memang, tercatat sebesar 21 persen dari mereka yang menandatangani pinjaman dalam survei Bankrate melaporkan bahwa hubungan mereka dengan peminjam terpengaruh.

Jika diminta untuk menandatangani pinjaman, hal tersebut bisa diakibatkan karena peminjam memiliki riwayat kredit yang terbatas atau nilai kredit yang rendah. Sebanyak 45 persen responden yang menandatangani pemberian pinjaman tersebut dilakukan ke anak mereka.

Menandatangani pinjaman pelajar anak Anda untuk membantu membayar pendidikan mereka menjadi salah satu contoh Anda bersedia untuk mengambil risiko. Namun, ini adalah nilai kredit Anda yang dipertaruhkan, jadi pastikan Anda stabil secara finansial.

“Anda tetap harus berhati-hati. Percakapan yang jelas dan eksplisit dapat membuat hubungan Anda dengan anak dipertaruhkan,” jelas Bobby.

Bobby menegaskan baik Anda yang meminjamkan uang kepada seseorang atau menandatangani pinjaman, selalu tentukan ekspektasi yang jelas sebelumnya. Jika Anda tidak mau, pertimbangkan untuk memberi orang hadiah, daripada meminjamkan uang.

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel