3 Varian Baru COVID-19 di Indonesia Melemahkan Organ Tubuh?

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah diketahui telah melakukan pelarangan mudik lebaran sejak 6 Mei 2021 hingga 17 Mei 2021 untuk mencegah penyebaran virus corona di tanah air. Namun sayangnya, sejumlah masyarakat tetap nekat mudik bahkan jauh sebelum pemberlakukan larangan mudik 2021.

Padahal tindakan masyarakat yang tetap nekat mudik bisa memengaruhi kasus infeksi COVID-19 di tanah air. Spesialis penyakit dalam, dr. Robert Sinto, SpPD K-PTI menjelaskan bahwa mudik yang dilakukan oleh masyarakat pada lebaran kemarin berpotensi untuk meningkatkan kasus COVID-19 di tanah air.

Mengapa demikian? Dalam tayang Hidup Sehat tvoOne, Robert menjelaskan bahwa mudik yang dilakukan masyarakat tanah air kemarin telah melanggar 3 dari 5 protokol kesehatan yang ada.

"Mudik itu berkerumun kemudian menjaga jarak tidak ketat, mobilitas harusnya dikurangi di 5M itu jadi tidak kurangi. Sudah jelas kalau kita gagal abai terhadap 3 dari 5 aspek bisa kita duga bahwa angka kasus meningkat kembali," kata dia, Rabu 19 Mei 2021.

Di sisi lain, dengan adanya temuan varian baru di Indonesia juga Robert menyebut bahwa varian tersebut lebih cepat menular dan menyebabkan penyakit yang lebih berat.

"Memang terjadi mutasi atau perubahan struktur genetik di tempat duduknya virus. Memudahkan virus mudah menempel, menyebar dan mudah ditularkan karena jumlah virusnya menjadi banyak di tubuh seseorang yang terinfeksi," kata Robert.

Meski demikian, Robert menjelaskan bahwa walaupun tidak berlaku pada semua varian, jenis muncul yang sudah ada ada beberapa yang terbukti kemungkinan lebih mudah tertular dan menyebabkan penyakit yang lebih berat.

“Secara umum dengan mutasi nyata menghadang di masa depan," kata dia.

Robert juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak meremehkan adanya temuan varian atau mutasi baru di Indonesian dia mengimbau agar masyarakat tetap patuh pada protokol kesehatan. Mengingat hingga saat ini belum ada obat antivius yang 100 persen terbukti dapat menyelamatkan nyawa.

"Apalagi yang varian baru ini perlu waktu untuk kita selidiki. Demikian vaksin sudah banyak laporan dari penelitian yang ada menunjukkan angka efektivitasnya berkurang untuk varian baru terutama dari afrika selatan. Jadi ancaman seperti itu bisa sadarkan kita harus hati-hati karena 5 M itu justru sudah terbukti melindungi kita dalam infeksi virus ini," kata Robert.

Di sisi lain, Robert juga menjelaskan bahwa dua dari tiga varian baru yang ditemukan di Indonesia dapat memperburuk keadaan tubuh seseorang yang terpapar mutasi tersebut.

"Ada dua varian onconcern itu bisa masuk ke dalam kelompok itu karena sudah terbukti menurunkan efektivitas terapi, menurunkan efektivitas vaksin, lebih mudah menular. Perburukan yang terjadi salah satunya tersebar ke banyak organ tempat duduknya lebih banyak mengenai organ lain sehingga derajat berat penyakitnya juga bisa semakin berat," tutur Robert.

Meski begitu, Robert menjelaskan bahwa tidak semua varian dapat melemahkan organ tubuh yang menyebabkan derajat penyakit menjadi berat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel