30 Kata-Kata Mutiara Seno Gumira Ajidarma, Puitis dan Penuh Makna

Bola.com, Jakarta - Kata-kata mutiara Seno Gumira Ajidarma memiliki makna yang mendalam dan romantis. Bagi para pencinta sastra, sosok Seno Gumira Ajidarma pastinya tak asing di telinga.

Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai generasi baru dalam dunia sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.

Dia juga terkenal karena menulis tentang situasi di Timor Leste tempo dulu, saat masih bernama Timor Timur, yang dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

Dalam karya-karyanya tersebut Seno Gumira Ajidarma banyak mengeluarkan kata-kata mutiara. Ada banyak sekali kata-kata mutiara Seno Gumira Ajidarma yang menyentuh hati.

Berikut ini Bola.com menyajikan, kata-kata mutiara Seno Gumira Ajidarma, seperti dilansir dari goodreads.com, Selasa (30/6/2020).

Kumpulan Kata-Kata Mutiara Seno Gumira Ajidarma

Menjadi Manusia dengan Sastra Bersama Seno Gumira Ajidarma dan Budi Darma

1. "Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun, berapa lama pun, selama aku mencintainya."

2. "Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang."

3. "Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia."

4. "Namun orang yang bijak akan menerima segala bentuk perbedaan pandangan sebagai kekayaan, karena keseragaman pikiran memang sungguh-sungguh akan memiskinkan kemanusiaan."

5. "Kita semua memang telah menjadi bodoh, dengan menjadi terlalu cinta kepada cerita-cerita yang bagus, sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan itu sendiri."

6. "Bagai pasir di tanah itu, aku tak harus jadi penting."

7. "Manusia selalu menuntut dunia membahagiakannya, pernahkah ia berusaha membahagiakan dunia?"

8. "Segala makna memang datang dari manusia, yang menatap dan mendengar, lantas memberi arti."

9. "Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia."

10. "Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata, tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain."

Diskusi novel grafis Gerda Sayang dihadiri Seno Gumira Ajidarma dan Willy Adriaans, serta Oscar Motuloh sebagai moderator.

11. "Begitu dingin air ketika ia memasukkan kedua tangannya. Begitu jelas kedua tangannya tampak di sana, dan betapa hal semacam itu memberikan kedamaian."

12. "Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu."

13. "Betapa kunang-kunang itu memberikan cahaya di tengah kegelapan. Ia menjadi lupa dengan kesia-siaan hidupnya."

14. "Kalau kita bisa mencintai yang kita miliki saja, dan tidak selalu mengharapkan yang tidak ada, barangkali hidup juga akan menjadi lebih mudah."

15. "Hidup menjadi rentetan upacara dan kewajiban tanpa makna."

16. "Kukira hubungan manusia dengan dunia tidaklah terlalu sederhana, karena sementara dunia bagai menelan dan menempatkan manusia di dalamnya, keberadaan dunia hanyalah mungkin karena pembermaknaan manusia."

17. "Karena yang tidak kita ketahui lebih banyak dari yang kita ketahui, dan yang tidak diketahui itulah yang akan menjadi penyebab kematian kita semua."

18. "Apakah tempat memandang yang sama akan menghasilkan penglihatan yang sama?"

19. "Itulah senja, yang seperti cinta, tiada pernah tetap tinggal abadi, selalu berubah sebelum punah, meninggalkan segalanya dalam kegelapan dunia yang merana."

20. "Kurelakan cinta yang tidak abadi seperti mimpi. Biarlah segalanya berlalu dan selalu berlalu seperti peristiwa apa pun yang akan selalu berlalu."

Seno Gumira Ajidarma (kiri) dan Budi Darma (kanan) dalam acara Menjadi Manusia dengan Sastra

21. "Betapapun semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta--betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya."

22. "Namun apakah masih boleh disebut semacam cinta jika tidak terdapat kebahagiaan padanya meski setidak-tidaknya sesuatu seperti kebahagiaan dalam penderitaan?"

23. "Kepada keturunanku kuriwayatkan sejarah manusia di muka bumi, yang dengan segala kelebihannya dari segenap makhluk lain tak pernah mampu menahan dirinya sebagai penghancur."

24. "Perdamaian yang dipaksakan adalah penjajahan."

25. "Aku tidak perlu menghancurkan sebuah kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku dari ideologi yang paling sempurna."

26. "Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh, seperti kehidupan yang selalu terancam setiap saat untuk berakhir dengan patuh."

27. "Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya."

28. "Angin yang telah mengembara ke segenap penjuru bumi, masih berhembus dan berbisik, seperti mengingatkan, di dunia ini, tidak ada sesuatu pun yang tetap tinggal abadi."

28. "Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta kepadaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta."

29. "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

30. Namun orang yang bijak akan menerima segala bentuk perbedaan pandangan sebagai kekayaan, karena keseragaman pikiran memang sungguh-sungguh akan memiskinkan kemanusiaan."

Sumber: Goodreads.com