30 Pelajar Sekolah di China Terinfeksi Norovirus, Dicurigai Tertular dari Makanan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Sekitar 30 siswa di sebuah sekolah menengah di Fuzhou, Provinsi Fujian, China terinfeksi norovirus. Hal ini membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut terganggu.

Pada Jumat pekan lalu, dilaporkan bahwa sejumlah siswa di Fuzhou No. 40 Middle School mengalami diare sejak hari Selasa sebelumnya. Pihak sekolah mengatakan bahwa mereka terinfeksi norovirus.

"Semua siswa makan di sekolah, jadi kami curiga ada yang tidak beres di kantin sekolah," kata seorang warga bermarga Chen seperti dikutip dari Global Times pada Selasa (17/11/2020). Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar pun ditangguhkan selama dua hari.

Kepala sekolah tersebut, Zhang, mengatakan kepada media lokal Strait News bahwa telah terjadi wabah norovirus di tempatnya. Namun, ia mengatakan bahwa pihak sekolah tidak menangguhkan pembelajaran dan hanya menyesuaikan jam kelas.

"Jumlah siswa yang terinfeksi sekitar 30," kata Zhang.

"Sampai Kamis siang, semua sudah sembuh, kecuali satu yang masih sakit ringan."

Zhang menambahkan, makanan di sekolah disediakan oleh katering dan tidak ada kantin di sekolah. Ia percaya bahwa infeksi tersebut tidak ada kaitannya dengan katering.

Hal ini dinyatakannya menanggapi kekhawatiran para orangtua murid terkait keamanan pangan. "Kami meminta guru kelas menjelaskan situasinya kepada orang tua, dan mengambil makanan untuk diuji. Hasil tesnya ternyata baik-baik saja."

Apa Itu Norovirus?

Ilustrasi diare (sumber foto: pixabay)
Ilustrasi diare (sumber foto: pixabay)

Norovirus merupakan salah satu penyebab utama terjadinya infeksi usus akut (gastroenteritis) yang banyak terjadi di dunia. Masalah ini biasanya ditularkan lewat makanan.

"Secara umum gejala yang timbul ketika seseorang mengalami keracunan makanan antara lain demam, nyeri perut, diare, mual dan muntah," kata Spesialis penyakit dalam konsultan Gastroenterologi Hepatologi, Guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Profesor Ari Fahrial Syam, dalam sebuah rilis yang diterima Health Liputan6.com beberapa waktu lalu.

Ari mengatakan, virus ini bukanlah virus baru dan juga sudah ditemukan di Indonesia. Dilaporkan peneliti Indonesia di Jurnal of Medical Virology pada Mei 2020, dari 91 sampel feses yang diperiksa sebanyak 14 sampel atau 15,4 persen mengandung norovirus.

Sampel penelitian tersebut dilakukan di awal 2019 dari beberapa rumah sakit di kota Jambi. Kasus serupa juga pernah dilaporkan di beberapa daerah lain.

Dilaporkan Xinhua, saat ini belum ada vaksin untuk norovirus yang teruji di pasaran. Pada Februari 2019, otoritas di China baru memberikan lampu hijau untuk uji klinis vaksin tetravalen melawan norovirus pertama di dunia.

Setelah empat tahun pengembangannya, vaksin tersebut, secara teoritis dilaporkan dapat mencegah 80 hingga 90 persen infeksi norovirus.

Ari mengatakan, untuk mencegah agar tidak terjadi penularan norovirus, yang harus dilakukan adalah menjaga kualitas makanan, baik yang disediakan oleh restoran, kantin, atau di rumah tangga.

"Selain itu, masyarakat juga harus selalu rajin mencuci tangan pakai sabun," kata Ari. Sementara, untuk penanganan bagi yang terinfeksi adalah dengan pemberian obat-obatan untuk menghilangkan gejala sakit dan mencegah terjadinya dehidrasi akibat muntah dan diare.

Infografis 9 Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19

Infografis 9 Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 9 Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini