35 Persen Pasien Positif Corona Alami Long COVID, Apa Gejalanya?

·Bacaan 2 menit

VIVA – Virus COVID-19 memang perlu menjadi perhatian serius masyarakat. Termasuk dengan efek Long COVID atau efek jangka panjang dari COVID-19.

Lantas apa yang dimaksud dengan Long COVID? dan apa saja yang perlu diperhatikan pasien COVID-19 terkait dengan long COVID?

Terkait hal itu, spesialis penyakit dalam, dr. Robert Sinto, SpPD K-PTI angkat bicara. Dalam program Hidup Sehat Plus tvOne Robert menjelaskan bahwa Long COVID adalah gejala atau keluhan yang dialami pasien yang timbul sesudah fase COVID tersebut selesai.

"Syaratnya dia selesai dulu dari awal fase COVID, biasanya batasannya satu bulan, setelah satu bulan kalau masih ada gejala muncul sampai enam bulan ke depan itu namanya periode long COVID," kata dia, Jumat 2 Juli 2021.

Robert menjelaskan, rata-rata 35 persen orang yang keluar rumah sakit pasca COVID akan mengalami long COVID. Lantas apa saja gejala dari Long COVID yang umum dirasakan mereka?

Dari data statistik dunia, kata Robert, kelemahan tubuh, rasa lemah, rasa belum bugar paling banyak dialami.

"Yang kedua karena dia dominan saluran nafas, maka gejala yang paling sering adalah saluran nafas cepat capek kalau setelah aktivitas kemudian ada batuk, kalau jalan menjadi tidak sebugar sebelum sakit," ungkap dia.

Lantas apa hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat yang mengalami long COVID syndrom? Dijelaskan oleh Robert,
long covid syndrom pada dasarnya adalah virus tidak ada sudah tidak aktif lagi.

"Jadi tidak perlu lagi memikirkan antibiotik, anti virus bukan eranya lagi, kalau kita sudah masuk ke long covid syndrom tersebut," kata dia.

Robert menjelaskan, yang perlu dilakukan adalah melakukan latihan fisik atau fisioterapi. Ada beberapa teknik yang nanti bisa dikonsultasikan dengan dokter bagaimana mereka melatih nafas, melatih aktivitas supaya bisa bugar seperti biasa.

"Nanti akan ada step by step tahapannya yang disesuaikan dengan organ tubuh lain," kata dia.

Robert juga menjelaskan bahwa long COVID bukan hanya berefek di paru saja, bisa juga jantung. Maka dari itu yang perlu disesuaikan adalah latihan fisik paru yang cukup dengan jantungnya.

"Jadi harus dinilai dulu apakah jantungnya cukup menjalani latihan tersebut. Makanya konsultasi ke dokter melihat kapasitas fungsional sehingga bisa dilatih perbaikan paru tersebut, harapannya sesudah 6 bulan dia bisa kembali lagi nilai yang mendekati sebelum COVID," kata Robert.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel