36 Anak Eks Syiah Sampang Belajar di Pesantren NU Tak Hadiri Ikrar

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebanyak 274 (bukan 286 seperti berita sebelumnya) penganut Syiah asal Sampang mengucapkan ikrar mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Pendopo Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, pada Kamis, 5 November 2020. Dari jumlah itu, 60 orang di antaranya tidak bisa hadir secara langsung karena berhalangan.

Mereka yang berikrar mengikuti ajaran Aswaja itu adalah korban konflik Suni-Syiah yang terjadi di Karanggayam, Omben, Sampang, Agustus 2012. Sejak itu, kelompok warga yang dipimpin Tajul Muluk itu mengungsi di Rusun Puspa Agro, Kabupaten Sidoarjo. Proses ikrar disaksikan oleh pejabat Forkopimda Sampang, pejabat Kemenag, dan 95 ulama se-Madura.

Kepala Kantor Kemenag Sampang, Pardi, dari 274 orang eks pengikut Syiah yang berikrar, masih ada 19 orang belum bisa menghadiri ikrar tersebut lantaran berhalangan. Puluhan orang yang tidak bisa hadir, di antaranya, 36 orang terdiri atas anak-anak yang sedang menjalankan pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Ponpes Lirboyo, Kediri. Dua pesantren ini berkultur Nahdlatul Ulama (NU).

"Kemudian lima orang berhalangan hadir karena dua orang sakit keras, satu orang karena melahirkan dan dua orang tengah berada di Kalimantan," kata Pardi dalam keterangan tertulis diterima wartawan.

Eks pengikut Syiah mengucapkan Ikrar yang berbunyi, di antaranya, menyatakan bahwa agama Islam yang benar adalah agama yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan dilanjutkan oleh para sahabatnya, yakni Khulafa'ur Rasyidin dan diteruskan oleh generasi para ulama mulia Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Mereka juga menyatakan bahwa Kitab Suci Alquran terdiri atas 6.666 ayat 'alal ashoh, 114 surat, dan 30 juz, para sahabat Nabi adalah orang pilihan Allah, dan pemimpin yang sah setelah Nabi Muhammad adalah Khulafa'ur Rasyidin yang terdiri atas Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, serta Ali Bin Abi Tholib.

Mewakili warga yang mengucapkan ikrar, Tajul Muluk mengaku berikrar ke Aswaja tanpa paksaan. Hal itu atas dasar pilihan sendiri. "Saya juga enggak tahu kapan mati. Saya tidak ingin bila sewaktu-waktu meninggal ada tanggungan kepada Allah dan masyarakat," katanya.

Baca: Baiat Pengungsi Syiah Sampang jadi Suni: Cari Jalan untuk Pulang