4 Alasan Jonatan Christie Berpeluang Juara Indonesia Masters 2020

Jakarta - Tunggal putra Jonatan Christie berharap dapat meraih hasil baik pada Indonesia Masters 2020. Turnamen level Super 500 itu berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, pada 14-19 Januari 2020. 

Sebanyak 13 wakil Indonesia bakal tampil di babak pertama pada Rabu (14/1/2020). Dua tunggal putra Indonesia yakni Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie bakal meladeni wakil India.

Anthony akan melawan Parupalli Kashyap dan Jonatan menghadapi Prannoy HS. Namun dua tunggal putra tersebut diprediksi punya nasib yang berbeda kala berhadapan dengan wakil India.

Meski di atas kertas Anthony dan Jonatan lebih unggul ketimbang wakil India. Namun catatan yang ditorehkan keduanya cukup berbeda.

Anthony punya catatan menang lima kali dalam pertemuannya dengan Kashyap. Sementara Jonatan hanya dua kali berhasil mencundangi Prannoy dalam empat duel yang pernah dijalani.

Meski demikian, Jonatan Christie tak gentar. Ia ingin merengkuh hasil baik pada kompetisi Indonesia Masters kali ini. Motivasi tinggi menjadi salah satu alasan Jonatan bisa berjaya di kompetisi Super 500 tersebut.

Bola.com telah merangkum empat alasan masuk akal mengapa Jonatan Christie bisa berjaya di Indonesia Masters 2020.

1. Bermain Di Kandang

Penampilan Jonatan Christie. (PBSI)

Kompetisi berlabel Super 500 itu diselanggarakan di Istora Senayan, Jakarta. Itu berarti, Jonatan Christie bakal tampil di hadapan ratusan pendukungnya.

Bermain di hadapan pendukung sendiri, tentu memberi tambahan semangat bagi pebulutangkis berperingkat enam dunia itu. Hal itu menjadi alasan masuk akal mengapa Jonatan Christie seharusnya bisa berjaya di kompetisi Indonesia Masters 2020. 

2. Balas Dendam saat Malaysia Masters 2020

Pebulutangkis Indonesia, Jonatan Christie. (Dok. PBSI)

Catatan Jonatam Christie di Malaysia Masters 2020 tidak terlalu mentereng. Pria kelahiran Jakarta itu gagal lolos ke semifinal Malaysia Masters 2020 setelah dikalahkan wakil Hong Kong, Angus Ng Ka Long.

Seesuai ranking, Jojo berada di atas Ng Ka long. Ng Ka Long merupakan pebulu tangkis berperingkat delapan dunia, sementara Jojo bercokol di peringkat enam.

Meski demikian, di atas kertas catatannya berbeda. Dari sembilan pertemuan, Jojo lima kali kalah dari wakil Hong Kong tersebut.

Namun, sekali lagi, bermain di kandang sendiri bakal membawa tambahan semangat untuk Jonatan Christie.

3. Kento Momota Absen

Pebulutangkis Jepang, Kento Momota. (AFP/Stringer)

Tunggal putra terbaik dunia, Kento Momota, resmi mengundurkan diri dari kompetisi Indonesia Masters 2020 sebelum mengalami kecelakaan di jalan tol Malaysia, Senin (13/1/2020). Kecelakaan tersebut membuat juara Malaysia Masters 2020 itu harus istirahat sekitar dua bulan.

Situasi tersebut menjadi kesempatan emas bagi Jonatan Christie untuk unjuk kemampuan. Selama ini, Kento Momota menjadi sosok yang paling tanguh di sekotor tunggal putra. Gaya bermainnya yang ulet membuat Momota sulit ditumbangkan.

Namun Indonesia Masters 2020 punya cerita yang berbeda. Kento Momota tak masuk dalam daftar pemain kompetisi ini. Itu artinya, masih ada kesempatan bagi Jonatan untuk menjadi yang terbaik.

4. Ingin Cicipi Gelar Super 500

Jonatan Christie. (sumber: Instagram.com/jonatanchristieofficial)

Jonatan Christie berharap bisa mencatatkan gelar perdananya di kompetisi Super 500 pada tahun ini. Ya, Jonatan mencatatkan hasil kurang memuaskan pada musim 2019.

Ia hanya menyabet dua gelar, itu saja di tingat Super 300 yakni Australia Terbuka dan Selandia Baru Terbuka. Itu berarti, Indonesia Masters 2020 bakal menjadi gelar pertama du turnamen Super 500 bagi Jojo, jika mampu keluar sebagai pemenang.

Bukan hanya itu, tiket Olimpiade 2020 juga menjadi motivasi Jojo untuk tampil baik di Indonesia Masters 2020. Pemain ranking enam dunia tersebut ingin memantapkan posisinya di jajaran Top 8 dunia.

Selain untuk mengamankan tiket olimpiade, juga untuk mendapat status unggulan yang menghindarkannya dari pemain unggulan di babak awal berbagai turnamen.

 

Disadur dari: Bola.com (Penulis: Hesti Puji Lestari/Editor: Yus Mei Sawitri, published 15/1/2020)