4 Bekal Utama bagi Perempuan untuk Berkarier di Dunia Riset

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Karena Sedekah, Keadaan Ekonomi Keluargaku Membaik setelah Terpuruk saat Pandemi

TERKAIT: Berkarier atau Berumah Tangga, Tiap Perempuan Bebas Memilih

TERKAIT: 7 Cara Bangkit setelah Keluar dari Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat

***

Oleh: Ika Susanti

Bekerja di salah satu lembaga ilmu pengetahuan terbesar di Indonesia, membuatku mengenal dengan baik kiprah para peneliti perempuan. Sebagai sesama perempuan, jujur saja aku merasa kagum dengan dedikasi mereka yang lebih memilih untuk berkarir di dunia riset yang penuh tantangan, dengan segala resiko dan pengorbanannya sebagai perempuan.

Dunia riset yang hingga kini notabene masih dalam lingkup maskulin (didominasi oleh kaum pria). Karena masih adanya anggapan ketidakmampuan perempuan dengan segala keterbatasannya, untuk bersaing di dunia riset dalam kesetaraan. Perkembangan yang menggembirakan bahwa jumlah peneliti perempuan di Indonesia saat ini ternyata semakin banyak. Dan hal itu berbanding lurus dengan prestasi mereka yang juga semakin membanggakan.

Para pengabdi riset perempuan ini berkiprah di dunia penelitian tanpa mengenal lelah. Mereka melakukan kegiatan riset di berbagai bidang keilmuan. Menyumbangkan ilmu dan pemikiran sebagai solusi dari berbagai permasalahan di masyarakat. Mereka juga menjawab tantangan kemajuan jaman dan ikut berpartisipasi mengklarifikasi beragam isu lingkungan. Memberikan kontribusi nyata melalui hasil penelitian, yang memberikan manfaat bukan hanya untuk kemajuan bangsa dan negara, tapi juga berdampak positif bagi masyarakat global.

Menjadi Peneliti

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/lookstudio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/lookstudio

Salah satu peneliti perempuan yang kukenal karena dedikasinya, baru saja dikukuhkan sebagai Profesor Riset di Bidang Taksonomi biota laut yang cukup langka. Gelar kehormatan tertinggi bagi peneliti itu bukanlah hal yang aneh untuk disandangnya.

Kegigihan dan ketekunannya selama bertahun-tahun telah menghasilkan buah yang manis. Bagaimana dirinya selama ini berjibaku dengan penelitian biota laut, mengikuti ekspedisi kapal riset di berbagai wilayah Laut Dalam Indonesia. Pencapaiannya menjadi bukti nyata, bahwa perempuan sangat berdaya di dunia riset.

1. Berpendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi menjadi persyaratan utama untuk berkarier di profesi ini. Seorang peneliti dapat mencapai jenjang tertinggi di bidang penelitian, bila berpendidikan S3. Pendidikan S3 ini diperlukan untuk memenuhi persyaratan di jenjang Peneliti Utama dan mendapatkan gelar kehormatan Profesor Riset. Pendidikan tinggi juga dapat digunakan untuk berkompetisi pada posisi-posisi penting di berbagai organisasi pemerintah, swasta atau masyarakat, maupun kepemimpinan di bidang Iptek.

Untuk mencapainya pastinya diperlukan upaya yang tak mudah. Perempuan peneliti perlu berperan aktif, gigih, tekun dan tidak mudah menyerah untuk terus meningkatkan kompetensinya. Bukan hanya melalui pendidikan tinggi, tapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap). Berkembangnya ilmu pengetahuan secara terus menerus, menuntut mereka untuk terus aktif belajar. Menemukan jati dirinya sebagai peneliti ahli di bidang keilmuan tertentu yang diminatinya.

2. Keahlian dan Talenta

Menjadi seorang peneliti perlu keahlian dan talenta. Keahlian diperoleh dari pendidikan tinggi yang ditempuh selama bertahun-tahun. Sedangkan talenta didapatkan dari hasil eksplorasi kemampuan diri terhadap bidang keilmuan yang diminati. Bagaimana seorang ahli Taksonomi, dengan ketekunannya menemukan biota laut langka sejenis kelomang dan kepiting. Mulai dari eksplorasi, mengoleksi, menganalisis, hingga mendapatkan hasil penelitian yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Pada tahap berikutnya, penelitiannya harus dapat menjawab masalah dan mengklarifikasi isu lingkungan, terkait kondisi kelangkaan biota laut tersebut. Apa yang dapat dilakukan untuk memelihara biodiversitasnya dan mencegahnya dari kepunahan. Dalam proses penelitian, semua tahapan itu memerlukan kegigihan dan ketekunan. Dan bila terus diasah dengan keahlian dan talenta yang dimilikinya, peneliti perempuan sangat memungkinkan untuk mendunia dengan karya-karyanya.

3. Rasa Cinta dan Pengorbanan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Dedikasi luar biasa yang ditunjukkan para peneliti perempuan, sebagai bukti rasa cintanya pada ilmu pengetahuan. Rasa cinta itu memunculkan rasa tanggung jawab pada tugas-tugas penelitiannya. Panas, hujan, kotor, basah dan rasa lelah adalah resiko pekerjaan yang mereka tekuni.

Belum lagi dengan risiko menempuh bahaya, ketika mereka melakukan ekspedisi di laut, hutan, pegunungan, daerah terpencil, berbaur dengan penduduk pedalaman, dan risiko-risiko lain di lapangan yang kadang sulit diantisipasi. Termasuk risiko bagi mereka yang bekerja di laboratorium, meneliti virus yang sedang marak di masa pandemi ini, atau mereka yang berkutat dengan bahan-bahan kimia.

Mendengar kisah mereka dalam berbagai ekspedisi riset membuatku merasa terharu. Sebagai perempuan, mereka sangat kuat dan tangguh. Berbagai kendala di lapangan menjadi cerita seru mereka dalam pengalaman penelitiannya. Tapi semua rasa lelah itu akan segera terbayar tuntas, ketika mereka menemukan hasil penelitian yang sesuai dengan harapan.

Menjadi kebahagiaan bagi mereka, bila hasil penelitiannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dan menjadi kebanggaan bagi mereka, bila publikasi penelitiannya mendapatkan berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Sungguh hadiah terindah yang layak mereka terima atas semua jerih payahnya.

4. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang kesuksesan karir seorang peneliti perempuan. Saling mengerti, saling memahami dan saling berbagi tugas dengan suami dalam pengasuhan anak-anak dan urusan rumah tangga, menjadi kunci sukses mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas penelitiannya. Ketika mereka harus bertugas melakukan ekspedisi riset di lapangan hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu dan terpaksa meninggalkan keluarga.

Walaupun demikian, mereka tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu tetap dilakukan sebagaimana mestinya. Mereka harus mampu mengelola dan mengatur waktu dengan baik, agar terdapat keseimbangan antara karir dan keluarga. Komitmen bersama dengan pasangan menjadi keharusan. Pengorbanan waktu dan tenaga perlu dipahami bersama, sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab mereka sebagai seorang peneliti.

Peluang di Dunia Riset

Di masa depan, profesi peneliti dapat menjadi karier yang sangat menjanjikan bagi perempuan Indonesia. Peluangnya masih teramat banyak dan kesempatan terbuka sangat lebar. Kekayaan alam dan potensinya yang begitu besar membutuhkan sentuhan para peneliti untuk mengeksplorasi dan mengetahui manfaatnya bagi umat manusia.

Bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk masyarakat global di seluruh dunia. Dan perempuan dapat mengambil peran yang sangat penting sebagai peneliti di berbagai bidang keilmuan. Karena dengan kekuatan dan ketangguhan dalam keanggunannya, perempuan akan mampu memberikan sumbangsih terbaiknya di dunia riset.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel