4 Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala Tanpa Amarah

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap anak merupakan anugrah yang datang dengan keunikannya masing-masing. Meski bersaudara, karakter setiap anak pasti berbeda, termasuk sifatnya. Salah satu kendala para orangtua ketika membesarkan buah hati adalah ketika menghadapi anak yang keras kepala.

Biasanya, sifat ini muncul ketika anak sudah mulai bersekolah. Di usia 6-9 tahun, anak mulai tahu keinginan mereka. Karena itu, kadang orangtua kewalahan saat membimbing dan mengaturnya. Anak kerap kali menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mulai dari merengek hingga menangis.

Parenting First Class menulis, kelas kepala sebenarnya merupakan sifat yang sudah muncul sejak bayi. Namun, kadang orangtua tidak begitu memerhatikannya dan baru menyadari sifat anak ketiak dia sudah bisa berbicara dan memiliki kosa kata lebih banyak.

Sifat anak yang keras kepala tentu bukan hal mudah untuk dihadapi setiap ibu. Kadang, orangtua juga bisa dibuat kesal dan marah saat menghadapi anak-anak. Namun, ada beberapa cara untuk mendidik anak yang keras kepala tanpa menggunakan amarah.

1. Komunikasi Dua Arah

Anak Keras Kepala | pexels.com/@alexander-dummer-37646
Anak Keras Kepala | pexels.com/@alexander-dummer-37646

Komunikasi harus terjalin dua arah. Jangan hanya menuntut anak untuk mendengarkanmu tetapi juga cobalah untuk mendengarkan apa yang diinginkan sang anak. Jika dia ingin membeli mainan, terangkan kalau kamu dan sang buah hati pergi ke toko untuk membeli barang lain, bukan mainan. Beri pengertian juga kenapa kamu tidak mengizinkan apa yang dia minta.

2. Jangan Emosi

Orangtua tentu memiliki batas kesabaran. Namun, cobalah untuk berusaha lebih sabar dan tenang. Jika emosimu masih bergejolak, lebih baik tenangkan dirimu sendiri selama beberapa menit sebelum berbicara kembali kepada anak. Berteriak dan membentak bukan jalan keluar.

3. Aturan dan Konsekuensi

Tidak semua yang diminta anak harus kamu penuhi. Mereka mungkin akan merengek, menangis, dan marah. Tapi, kamu harus tegas dalam menegakkan aturan di rumah. Selain itu, perlu juga untuk memberikan alternatif. Misalnya, anak ingin bermain game di jam makan siang. Cobalah untuk memberikan alternatif seperti anak bisa bermain satu ronde, setelah itu kembali duduk di meja makan untuk menikmati menu makan siang. Setelah selesai makan, dia bisa kembali bermain sampai jatah waktu bermain game habis.

4. Alternatif

Tawarkan berbagai alternatif kepada anak. Misalnya, kamu tidak bisa membelikan mainan baru saat Natal nanti. Sebagai alternatif, ajak anak untuk bermain di taman bersamamu. Atau, belikan barang lain yang lebih terjangkau, seperti buku cerita. Alternatif juga bisa berupa sebuah aktivitas yang kamu lakukan bersama, seperti memasak.

#ChangeMaker

Simak Video Berikut