4 Cara Terhindar dari Kebocoran Data Agar Tetap Aman Belanja Online Saat Akhir Tahun

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Menjelang akhir tahun sudah banyak sudah promo-promo menarik yang ditawarkan ecommerce. Tentu aktivitas ini membuat kita bulak-balik membuka internet, maka tak heran jika kejahatan dunia maya bisa meningkat seiring dengan belanja online akhir tahun.

Pada periode ini, aktivitas belanja online dapat meningkat hingga 20 persen sehingga lebih banyak orang akan rentan terkena penipuan.

Hal ini terbukti dari survei yang dilakukan Google oleh agensi riset pasar YouGov, yang menerangkan jika 2 dari 3 penggunakan internet di Indonesia pernah mengalami kebocoran data pribadi.

TERKAIT: 3 Cara Belanja Online yang Tepat untuk Jaga Kesehatan Mental

TERKAIT: Tingkatkan Kenyaman dan Kemudahan Belanja Online dengan Pembayaran Kartu Kredit yang Aman

TERKAIT: Sempat Berlebihan Belanja Online, Kejadian Ini Menjadi Titik Balikku

Lalu apa saja yang membuat kita bisa terkena kejahatan siber? Menurut penelitian lebih dari 92 persen responden yang disurvei mengaku memiliki kebiasaan online yang kurang aman, misalnya 89 persen pengguna masih mempertahankan kebiasaan menggunakan sandi yang lemah, membagikan sandi kepada orang lain.

Kemudian Google mendapati bahwa 79 persen responden di Indonesia menggunakan sandi yang sama untuk beberapa situs, dengan 2 dari 5 orang mengaku melakukannya untuk hingga 10 situs yang berbeda.

Di antara kelompok ini, 40 persen mengatakan bahwa mereka khawatir tidak bisa mengingat sandi, sedangkan 30 persen beralasan demi kemudahan.

Yang juga mengkhawatirkan, separuh dari responden lokal juga mengaku memakai sandi yang mudah ditebak dengan memadukan hal-hal yang paling gampang diretas, dari tanggal penting, nama pasangan, nama hewan peliharaan, hingga kode pos. Lebih lanjut lagi, hampir 1 dari 4 orang mengaku menyimpan sandi dalam aplikasi ‘Catatan’ di ponsel.

Dengan begitu, para pengguna sandi yang tidak aman dua kali lebih mungkin menjadi korban pencurian data keuangan online.

“Kita tahu dari penelitian sebelumnya bahwa orang yang pernah menjadi korban pelanggaran data memiliki kemungkinan 10 kali lebih besar untuk menjadi korban peretasan. Saat kita mengorbankan keamanan demi kemudahan dengan membagikan sandi kepada orang lain, menggunakan sandi yang sama untuk berbagai layanan, dan membuat sandi yang mudah ditebak, kita membuat informasi pribadi kita – termasuk data pembayaran – sangat tidak aman," ujar Amanda Chan, Product Marketing Manager, Google Indonesia.

Tips praktis

Ilustrasi belanja online. (Shutterstock)
Ilustrasi belanja online. (Shutterstock)

Lalu bagaimana cara kita untuk bisa terhidar kejahatan siber?

1. Buat password atau sandi yang lebih kuat

Tentu yang pertama harus menjaga keamanan sandi dengan membuat kata sandi yang terdiri dari huruf, angka, simbol, huruf besar. Lalu lakukan secara berkala setiap tiga atau enam bulan sekali mengganti password.

Sandi yang unik dan kuat untuk setiap akun dapat membantu mengurangi risiko kebocoran data. Pastikan setiap sandi sulit ditebak dan kalau bisa setidaknya berisi delapan karakter.

Supaya lebih mudah, pertimbangkan untuk menggunakan layanan pengelola sandi untuk membantu membuat sandi yang lebih kuat, menjaga keamanannya, dan melacak semua sandi.

Misalnya, Pemeriksaan Sandi di Pengelola Sandi Google dapat membantu memeriksa kekuatan dan keamanan semua sandi yang disimpan. Alat ini akan memberi tahu kalau ada sandi yang mungkin terancam risiko (misalnya, jika terdampak dalam insiden pelanggaran data pihak ketiga), dan menunjukkan bagaimana menggunakan sandi yang sama untuk berbagai situs. Yang lebih penting lagi, alat ini akan mengidentifikasi sandi yang relatif lemah dan menawarkan rekomendasi tindakan.

2. Aktifkan autentikasi 2 langkah

Menyiapkan autentikasi 2 langkah - yang juga disebut autentikasi 2 faktor - sangat mengurangi kemungkinan orang lain dapat mengakses akunmu tanpa izin. Bagi kebanyakan orang, perlindungan login otomatis Google mungkin lebih dari cukup. Akan tetapi, semua pengguna harus tahu bahwa tersedia autentikasi 2 langkah sebagai veri kasi tambahan - sebuah lapisan pengaman ekstra.

Autentikasi 2 langkah mengharuskan pengguna menggunakan satu langkah tambahan setiap kali login ke akun mereka, selain memasukkan nama pengguna dan sandi. Contoh langkah verifikasi tambahan ini antara lain, SMS, kode enam digit dari aplikasi, pemberitahuan di perangkat yang dipercaya, atau penggunaan kunci pengaman.

3. Lakukan Pemeriksaan Keamanan Google

Melakukan Pemeriksaan Keamanan dapat membantu semua orang tetap aman secara online. Pemeriksaan Keamanan Google adalah alat yang mudah digunakan pengguna secara sering untuk memperkuat keamanan Akun Google, diperlukan sekitar 2 menit untuk menyelesaikannya. Alat ini memberi pengguna rekomendasi keamanan yang praktis dan dipersonalisasi, memandu mereka untuk memeriksa perangkat yang terhubung, situs pihak ketiga yang berisiko, dan aplikasi yang memiliki akses ke informasi sensitif.

4. Jangan menggunakan wifi publik

Bila ingin melakukan transaksi keuangan, sebaiknya jangan menggunakan wifi publik karena akan mempermudah seseorang melacak data-datamu.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel