4 Dampak Pemanasan Global, Naiknya Suhu hingga Es di Puncak Jayawijaya Diprediksi Mencair

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemanasan global dapat meningkatkan suhu di permukaan bumi. Salah satu dampaknya bahkan diprediksi dapat mencairkan es di puncak Jayawijaya, Papua pada 2026 mendatang. Hal ini diungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.

Lantas, hal apa yang menyebabkan suhu muka bumi memanas? Dikatakan yang paling dominan akibat efek dari rumah kaca. Gas dari rumah kaca yakni gas-gas di atmosfer yang dapat menangkap panas dari matahari. Hal ini membuat panas matahari terjebak di atmosfer bumi yang menyebabkan suhu bumi memanas.

Yang termasuk gas rumah kaca antara lain, karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6,HFC dan PFC). Ada pun gas dari efek rumah kaca yang dinilai punya kontribusi terbesar dalam perubahan iklim adalah karbon dioksida (C02) dan metana (CH4).

Gas karbon dioksida (C02) dapat ditemukan dalam aktivitas manusia seperti pemakaian sumber energi untuk mesin dan pembangkit listrik, penggunaan kendaraan bermotor dan membakar sampah. Sedangkan gas metana (CH4) berasal dari sampah plastik, kotoran hewan, serta limbah makanan yang membusuk.

"Setelah masa revolusi industri, kita banyak membakar bahan bakar fosil. Akibatnya gas rumah kaca makin tebal. Jadinya panas terperangkap di bumi dan makin susah lepas ke angkasa," kata Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari kepada Liputan6.com.

Berikut sederet dampak dari pemanasan global yang salah satunya diprediksi dapat membuat es di puncak Jayawijaya mencair pada 2026 mendatang dihimpun Liputan6.com:

1. Sering Mengalami Badai Tropis

Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia sebagai dampak dari memanasnya suhu bumi adalah seringnya mengalami badai tropis.

Menurut Dwikorita, seharusnya wilayah Indonesia yang berada dalam ekuator bumi, tidak bisa ditembus badai tropis. Tapi, badai siklon tropis seroja pada April 2021 berhasil menembus zona ekuator, bahkan kepala badainya sampai masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Padahal seharusnya paling dalam itu ekornya(badai) saja. Seperti badai cempaka, badai yang lain seperti dahlia. Kenapa itu bisa terjadi? Karena suhu muka air laut perairan semakin panas," jelas Dwikorita kepada Liputan6.com.

Dengan adanya badai tropis di NTT dan Papua yang sering terjadi, masyarakat mengalami kesusahan dengan dampak perubahan iklim ini. Dengan adanya perubahan iklim ini, Dwikorita ragu dengan kemampuan Indonesia dalam menghadapi serangan badai tropis yang berpotensi kian sering terjadi.

"Jadi, kita harus berdampingan setiap hari hidup dengan badai tropis. Ya kalau kita mampu, kita siap, teknologi kita siap menghadapi badai tropis setiap minggu atau bahkan setiap hari, ya sudah mari dihadapi. Tapi, kalau tidak siap? Orang kemarin kena badai tropis di NTT, yang terjadinya tidak setiap tahun, korbannya sudah begitu banyak," tegas Dwikorita.

2. Kenaikan Suhu

Dampak lain dari pemanasan global pada Indonesia, membuat suhu muka air laut meningkat. Menurut Dwikorita, seharusnya suhu muka air laut di perairan Indonesia rata-rata mencapai 26 derajat Celcius.

"Sekarang telah menyentuh lebih dari 29 derajat Celcius. Pemanasan suhu air laut berisiko tinggi terhadap habitat flora dan fauna laut," jelasnya.

Dia juga menyebut bagaimana musim kemarau yang kerap dibarengi hujan. Terdapat sebagian daerah yang mengalami kekeringan saat musim kemarau, tapi ada sebagian daerah yang malah mengalami banjir.

Pada zona yang suhu muka air lautnya tinggi, penguapannya meningkat sehingga yang harusnya musim kemarau tidak banyak terbentuk awan, tapi justru terbentuk awan. Dampak seperti itu, menurut Dwikorita, sudah terasa di beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu, BMKG memprediksi es di puncak Gunung Jayawijaya, Papua, akan punah tidak lebih dari tahun 2026.

3. Hujan Ekstrem

Dwikorita menambahkan, bahwa cuaca ekstrem yang pernah terjadi di DKI Jakarta pada 1 Januari 2020 antara lain sebagai pengaruh dampak perubahan iklim.

Kala itu, kata Dwikorita, udara dingin dari dataran tinggi Tibet bisa menyeruak masuk ke wilayah Indonesia. Hal itu disebabkan suhu udara di tanah air lebih panas.

Ibu dua anak ini mengatakan, adanya perbedaan suhu dari daerah dingin, menimbulkan perbedaan tekanan yang signifikan hingga akhirnya membentuk awan-awan hujan yang intensif. Intensitas hujan yang harusnya turun setiap seratus tahun sekali, dalam waktu kurang dari 100 tahun sudah turun.

"Dengan curah hujan 377 milimeter per hari, harusnya belum terjadi saat itu," katanya.

Pada bulan Januari 2021, Indonesia juga mengalami sekitar 180 kali banjir. Angka itu tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ketika banjir di Jakarta awal Januari 2020, kerugian mencapai Rp 1 triliun. Kemudian, banjir di Kalimantan Selatan kerugiannya mencapai Rp 1,3 triliun.

4. Krisis Iklim

Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Adila Isfandiari, menilai kondisi bumi saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia mengacu pada laporan terbaru IPCC yang dirilis pekan lalu.

Laporan tersebut membunyikan alarm dengan pesan yang kuat bahwa krisis iklim sudah terjadi. Upaya manusia dalam jangka pendek hingga panjang akan menentukan seberapa buruk dampaknya bagi kehidupan bumi.

"Semakin panas bumi, maka semakin mudah juga memicu kebakaran hutan dan kita semakin sulit untuk memadamkan apinya. Kebakaran hutan tahun 2016 yang hebat itu di Indonesia kerugiannya mencapai Rp 221 triliun. Itu dua kali biaya rekonstruksi tsunami Aceh. Lalu kebakaran hutan 2019 juga besar dan kerugiannya mencapai Rp 80 triliun," papar Adila.

"Ketika bicara krisis iklim, kita bukan cuma bicara lingkungan saja. tapi juga mulai dari krisis kemanusiaan, ekonomi dan lain-lain. Dampaknya itu banyak sekali," lanjut Adila.

Lesty Subamin

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel