4 Fakta Penyerangan Antarsuku di Yahukimo Papua

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak enam orang meninggal dalam aksi kericuhan di Yahukimo, Papua. Kabar tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal.

Menurut Kamal, kericuhan terjadi akibat masyarakat Suku Yali diserang kelompok masyarakat dari Suku Kimyal di Yahukimo pada Minggu, 3 Oktober 2021.

"Enam orang meninggal dan disemayamkan di RS Yahukimo. Satu di antaranya adalah pelaku," ujar Kamal dalam keterangan diterima, Senin (4/10/2021).

Selain korban meninggal dunia, korban luka-luka yang sebelumnya tercatat hanya 10 orang kini bertambah menjadi 41 orang dan tengah menjalani perawatan di RSD Yahukimo.

"Sementara itu untuk masyarakat yang mengamankan diri di Polres Yahukimo diperkirakan kurang lebih 1.000 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak," papar Kamal.

Kepolisian pun saat ini telah melakukan langkah-langkah mendatangi TKP, mengamankan TKP, melakukan evakuasi terhadap masyarakat dari Suku Yali yang menjadi korban aksi penyerangan ke RSUD Yahukimo, melakukan pendekatan terhadap para tokoh, melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Berikut fakta-fakta terkait kericuhan yang terjadi di Yahukimo, Papua dihimpun Liputan6.com:

1. Enam Meninggal Dunia, Satu Pelaku

Suasana rumah duka anggota Brimob Polda Riau yang meninggal karena kerusuhan di Yahukimo, Papua. (Liputan6.com/M Syukur)
Suasana rumah duka anggota Brimob Polda Riau yang meninggal karena kerusuhan di Yahukimo, Papua. (Liputan6.com/M Syukur)

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal menyatakan, enam orang meninggal dalam aksi kericuhan di Yahukimo, Papua.

Kericuhan terjadi akibat masyarakat Suku Yali diserang kelompok masyarakat dari Suku Kimyal pada Minggu, 3 Oktober 2021.

"Enam orang meninggal dan disemayamkan di RS Yahukimo. Satu di antaranya adalah pelaku," kata Kamal dalam keterangan diterima, Senin (4/10/2021).

2. Sebanyak 41 Lainnya Luka, Polisi Amankan 1.000 Warga

Rumah tradisional Papua atau honai terpasangi Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Pada nyala medium, lampu bisa bertahan dua hari sekali charge. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)
Rumah tradisional Papua atau honai terpasangi Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Pada nyala medium, lampu bisa bertahan dua hari sekali charge. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)

Kamal mengatakan, korban luka 41 orang dan sudah mendapat penanganan medis di RS Yahukimo.

Selain itu, untuk menjaga kondusivitas di lokasi, masyarakat ditempatkan di Polres Yahukimo sementara waktu.

"Masyarakat mengamankan diri di Polres Yahukimo diperkirakan kurang lebih 1.000 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak," terang Kamal.

3. Lakukan Pendekatan ke Tokoh Masyarakat

Aktivitas warga di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Distrik Puldama berada di ketinggian sekitar 800m di Pegunungan Jayawijaya. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)
Aktivitas warga di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Distrik Puldama berada di ketinggian sekitar 800m di Pegunungan Jayawijaya. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, seperti satu unit kendaraan mini bus.

Polisi juga tengah melakukan pendekatan kepada para tokoh setempat untuk melakukan penelusuran pascainsiden.

"Polisi dibantu aparat TNI, masih berjaga sambil melakukan patroli baik di tengah kota maupun pinggiran kota Dekai, agar situasi kembali kondusif," terang Kamal.

4. Kronologi Kericuhan

Warga memasang Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Keberadaan LTSHE mengubah malam gulita  menjadi benderang. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)
Warga memasang Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Keberadaan LTSHE mengubah malam gulita menjadi benderang. (Liputan6.com/HO/Hadi M Juraid)

Untuk kronologi penyerangan, Kamal menjelaskan kejadian bermula sekitar pukul 12.45 WIT pada Minggu 3 Oktober 2021 ketika massa Suku Kimiyal yang dipimpin Kepala Suku Umum Kimyal Morome Keya Busup mendatangi pemukiman Suku Yali.

Kamal melanjutkan, sekitar pukul 12.50 WIT setelah mendapatkan informasi terkait serangan tersebut.

Polres Yahukimo dipimpin Kasat Intelkam AKP I Nengah S Gapar bersama 20 personel langsung menuju lokasi dan menghalau serangan tersebut.

"Pukul 13.00 Wit, Kelompok massa tersebut berhasil dihalau kemudian meninggalkan TKP dengan menggunakan 2 Unit Mini Bus menuju ke Komplek Suku Yali di perumahan masyarakat komplek Telkomsel," ucap Kamal.

Usai dihalau, kelompok masa dari Suku Kimiyal malah kembali melakukan penyerangan terhadap masyarakat suku Yali yang berada di Hotel Nuri dilanjutkan dengan pembakaran gedung hotel.

"Pukul 13.30 WIT, Kapolres Yahukimo, AKBP Deni Herdiana, bersama 20 personel gabungan menuju ke Hotel Nuri dan dilanjutkan ke komplek masyarakat suku Yali yang berada di komplek Telkomsel untuk menghalau massa," terang Kamal.

Lalu, sekitar 13.35 WIT, Kelompok masyarakat yang dihalau bergerak melalui jalan setapak di belakang barak pemda lama Jalan Jenderal Sudirman, menuju komplek Sekla Jalan Gunung dan melakukan aksi pembakaran terhadap beberapa rumah milik masyarakat dari suku Yali.

"Pukul 13.40 WIT, Kapolres bersama bersama Personel gabungan TNI-Polri bergerak dari Hotel Nuri menuju ke Komplek Sekla untuk membubarkan kelompok massa yang melakukan aksi pembakaran," kata Kamal.

Kemudian pada pukul 14.00 WIT, setelah serangan berhasil dihalau, Kapolres Yahukimo langsung melakukan evakuasi terhadap korban ke RSUD Dekai.

"Pukul 14.30 WIT, personel gabungan TNI-Polri melakukan pengaman pada objek vital di antaranya Kantor Bupati Yahukimo, Kantor DPRD Yahukimo dan Gedung Perkantoran Lainnya," terang Kamal.

(Lesty Subamin)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel