4 Fakta Soal Kanker Serviks, Wanita Perlu Tahu

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kanker serviks atau leher rahim masih menjadi penyakit kanker top dua di Indonesia pada perempuan. Data GLOBOCAN 2018 menunjukkan kanker serviks menduduki kasus kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara dengan insiden 23,4 per 100 ribu penduduk.

Sebenarnya, dengan makin banyak mengetahui informasi tentang kanker serviks maka semakin besar seorang wanita melakukan pencegahan terkena penyakit tersebut seperti disampaikan pusat penelitian kanker di California, Amerika Serikat, City of Hope.

Berikut empat fakta yang wanita perlu tahu tentang kanker serviks seperti mengutip Web MD, Selasa (3/11/2020).

1. Penyebab Paling Sering karena HPV

Hampir 99 persen penyebab kanker serviks terjadi lewat penularan lewat hubungan seksual. Hal ini karena adanya strain human papillomavirus (HPV) 16 dan HPV 18. Kedua strain virus tersebut bertanggung jawab terhadap 70 persen angka kejadian kanker serviks.

2. Bisa Dicegah

Satu-satunya kanker yang bisa dicegah adalah kanker serviks. Vaksin pertama yang disetujui oleh Food and Drug Admisitration (FDA) Amerika Serikat adaah Gardasil pada 2006. Vaksin ini mampu melindungi dari HPV 16 dan HPV 18.

Lalu, di 2009 FDA menyetujui kehadiran vaksin Cervarix. Kemudian, ada juga vaksin Gardasil 9 yang terbukti 97 persen efektif melindung dari kanker serviks, vulva, dan vagina. Vaksin Gardasil 9 ini hadir di 2014. Injeksi vaksin ini sudah bisa dilakukan pada usia anak yakni sekitar 9 tahun atau sebelum aktif secara seksual. Semenara World Health Organization (WHO) merekomendasikan pada anak usia 11 tahun.

Di Indonesia, juga ada program vaksinasi HPV untuk anak perempuan. Program vaksinasi HPV dimulai dengan program percontohan di Jakarta pada 2016. Selanjutnya, program serupa mulai dilakukan di beberapa daerah lain. Pada tahun 2018 telah dilakukan pula di Yogyakarta (Kabupaten Bantul dan Kulon Progo), Surabaya, Makassar.

Program vaksinasi HPV di Indonesia menyasar siswi kelas 5 SD untuk dosis pertama. Lalu, dosis kedua diberikan setahun kemudian saat duduk di kelas 6 SD.Menurut WHO vaksinasi HPV dua dosis untuk anak perempuan usia 9-13 tahun meruapakan salah satu intervensi efektif.

3. Deteksi Dini Itu Penting

Sebanyak 150 karyawan di unit lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan mengikuti mengikuti tes IVA, atau pemeriksaan leher rahim (serviks) sebagai langkah deteksi dini ada tidaknya kanker serviks.
Sebanyak 150 karyawan di unit lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan mengikuti mengikuti tes IVA, atau pemeriksaan leher rahim (serviks) sebagai langkah deteksi dini ada tidaknya kanker serviks.

Sesudah aktif melakukan hubungan seksual wanita usia20-an tahun perlu melakukan papsemar setiap 3-4 tahun sekali. Bila hasilnya normal lakukan lagi 3-4 tahun kemudian.

Lalu, ketika berusia 30-64 tahun direkomendasikan untuk melakukan pap smear lima tahun sekali bila hasilnya normal.

Di Indonesia, wanita juga bisa memeriksakan organ intim untuk deteksi dini kanker serviks dengan IVA tes. Ini merupakan cara mendeteksi dini ada tidaknya kanker bahkan lesi prakanker di serviks wanita. Semakin dini diketahui, semakin baik.

Tes IVA merupakan cara sederhana tapi efektif dalam mendeteksi kanker serviks. Bidan akan mengoleskan cairan asam asetat ke area serviks wanita, lalu melihat ada tidaknya perubahan warna.Bila warna serviks tetap kemerahan artinya sehat. Bila ada titik-titik putih, tanda ada lesi prakanker atau kanker serviks sehingga perlu dirujuk untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

4. Tanda Awal Kanker Serviks Tidak Terasa

Kanker serviks dapat menyebabkan perdarahan tapi wanita yang mengalami menstruasi tidak teratur ketika mengalami ini mungkin biasa saja. Padahal bisa jadi tanda kanker serviks.

Lalu, di awa-awal penyakit ini tidak menyebabkan rasa sakit maupun gejala lainnya. Itu sebabnya penting sekali bagi wanita yang sudah aktif seksual secara rutin melakukan deteksi dini kanker serviks.

Simak Juga Video Menarik Berikut