4 Faktor Penyebab Jumlah Korban Terinfeksi Virus Corona di Indonesia Terus Meningkat

Fimela.com, Jakarta Angka penyebaran virus corona di Indonesia sampai detik ini masih terus meningkat dan belum bisa dikendalikan. Dilansir dari merdeka.com bahwa jumlah total korban terinfeksi virus corona di Indonesia mencapai angka 18.496 orang, dengan rincian jumlah pasien sembuh mencapai 4.467 orang, sementara jumlah yang meninggal dunia mencapai 1.221 orang.

Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat sampai ke angka 20 ribu jumlah korban terinfeksi. Tentu saja peningkatan ini dikeluhkan oleh semua pihak termasuk masyarakat karena berbagai cara telah dilakukan untuk membuat kurva penyebaran menurun, namun kenyataannya jumlah korban terus mengalami peningkatan.

Muncul skema atau skenario ‘New Normal’ yang sempat dikampanyekan oleh Presiden Joko Widodo kepada masyarakat untuk bisa belajar hidup berdampingan dengan virus corona. Sebelumnya, WHO sendiri mengumumkan bahwa virus corona tidak bisa hilang. Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, selain berdamai dengan virus corona itu sendiri.

Terkait peningkatan jumlah korban terinfeksi virus corona di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut Fimela.com akan mengulas 4 faktor penyebab jumlah korban terinfeksi virus corona di Indonesia terus meningkat. Simak ulasannya berikut ini.

Mobilitas dan Interaksi Sosial

Ilustrasi Mudik Credit: pexels.com/NegativeSpace

Faktor penyebab pertama yang bertanggungjawab atas peningkatan jumlah korban terinfeksi di Indonesia adalah mobilitas dan interaksi sosial masyarakat sendiri. Walaupun pemerintah sudah membuat kebijakan social distancing dan PSBB, nyatanya jumlah korban masih tersu bertambah.

Hal ini disebabkan karena masyarakat belum sepenuhnya patuh terhadap aturan yang telah dibuat pemerintah. Masih banyak masyarakat yang melakukan pelanggaran sehingga harus menerima sanksi dari apparat keamanan.

Selain itu karena bertepatan dengan bulan suci ramadan, masyarakat juga masih tetap nekat mencari cara untuk mudik sehingga penyebaran dan penularan bisa terjadi pada saat proses mobilitas tersebut berlangsung. Perihal mudik ini sempat menjadi pro kontra ditengah publik mengingat kebiasaan ataupun tradisi ramadan selalu diwarnai dengan aktivitas mudik.

Hal yang tidak kalah memprihatinkan ialah banyak masyarakat yang secara sembunyi-sembunyi mengadakan perkumpulan dengan tujuan yang tidak begitu penting sehingga interaksi dan kontak sosial secara langsung tidak dapat terhindarkan.

Stigma Masyarakat Terhadap Korban Terinfeksi

Ilustrasi Penggunaan Masker Credit: pexels.com/Anna

Mungkin faktor ini tidak disadari namun, stigma masyarakat juga berperan menyebabkan peningkatan jumlah korban. Alasannya, orang dengan gejala virus corona akan takut melaporkan dirinya karena mengkhawatirkan stigma masyarakat serta tindak diskriminasi lainnya.

Akhir-akhir ini ramai pemberitaan mengenai tindak diskriminasi hingga kriminal yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab pada korban yang terinfeksi, korban yang baru sembuh, bahkan petugas medis.

Jelas saja, apabila seseorang yang terinfeksi memilih untuk diam dan tidak melaporkan diri maka, hal tersebutlah yang lebih berbahaya. Dengan tidak melaporkan, artinya orang tersebut sangat berpotensi untuk menularkan virus pada orang lain tanpa diketahui.

Selayaknya tindak diskriminasi atau pengucilan tidak perlu ada dalam kondisi seperti ini karena hanya akan memperkeruh suasana. Lebih baik masyarakat saling bersatu dalam melawan pandemi ini.

Kesadaran Masyarakat

Ilustrasi Penggunaan Masker Kain Credit: pexels.com/August

Ketiga, faktor yang menyebabkan jumlah korban terinfeksi terus meningkat ialah kesadaran masyarakat dalam membantu menurunkan penyebaran virus. Masih banyak ditemui masyarakat yang enggan menggunakan masker dan tidak menjaga kesehatannya sehingga rawan tertular virus.

Beberapa hari terakhir bahkan sempat heboh kasus seorang youtuber yang dianggap meremehkan virus corona dengan gambling mengatakan bahwa ia malas menggunakan masker. Tentunya hal ini bukan perilaku yang patut ditiru dan dikhawatirkan para pengikut atau fansnya justru akan mendengarkan dan mencontoh perilaku buruk tersebut.

Sudah sepatutnya kesadaran masyarakat dibangun bahwa menjaga diri sendiri dari virus artinya juga menjaga orang lain dan pastinya menjaga Indonesia dari peningkatan jumlah korban. Jangan pernah berpikir bahwa ini menyangkut individu, ini menyangkut semua orang. Sekecil apapun tindakanmu dalam melakukan pencegahan, itu sudah sangat membantu.

Desakan Ekonomi

Ilustrasi Toko Credit: pexels.com/Kaique

Terakhir, faktor yang menyebabkan jumlah korban virus corona terus mengalami peningkatan di Indonesia ialah desakan ekonomi. Memang ini menjadi hal yang dilema karena masyarakat juga tidak bisa terus berdiam diri di rumah tanpa penghasilan sementara kebutuhan hidup terus berjalan apalagi di bulan ramadan ini.

Pemerintah sendiri pun sudah menganggarkan dan menurunkan beberapa bantuan serta memberikan diskon pada sektor-sektor industri yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti, listrik. Namun, dirangkum dari berbagai sumber menyatakan bahwa tekhnis distribusinya kurang baik sehingga banyak masyarakat yang tidak mendapatkan bantuan.

Hal itu juga akhirnya memicu masyarakat untuk nekat tetap bekerja walaupun situasi diluar rumah masih belum terkendali. Berpegang pada prinsip ‘tidak mau mati kelaparan’ akhirnya masyarakat memaksakan diri tetap bepergian dan melakukan aktivitas ekonomi ditengah pandemi Covid-19.