4 False Nine Terbaik Dunia Saat Ini: Dari Thomas Muller hingga Sadio Mane

Bola.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, ada posisi dalam permainan sepak bola yang berkembang dan memiliki peran penting dalam proses terjadinya gol. Posisi itu kerap disebut false nine.

Sepak bola dulu merupakan olahraga yang jauh lebih sederhana ketimbang saat ini. Para pemain bertahan melindungi gawang, melakukan tekel yang bisa mematahkan lutut jika diperlukan.

Sementara para gelandang mengoper bola dan mendikte aliran permainan. Pemain sayap berlari ke sisi lebar dan melakukan umpan silang yang berpotensi mengancam ke area penalti. Kemdian striker masuk di antara lini pertahanan dan mengonversi peluang yang diciptakan oleh tim.

Sementara sepak bola modern ini sangat berbeda. Sudah melewati hari-hari hitam dan putih, dengan peran khusus yang terdefinisi dengan baik. Permainan hari ini semua mengenai serbabisa, lalu tentang bagaimana membingungkan lawan dengan mengerahkan pemain yang sangat sedikit diharapkan.

False nine adalah satu di antara keajaiban sepak bola modern yang telah mengubah sepak bola yang terus berkembang seiring laju zaman.

Tidak seperti striker tradisional, false nine tidak hanya melayang di dalam dan sekitar kotak penalti. Mereka bergerak, menarik pemain keluar dari area pertahanan, menciptakan ruang dan peluang untuk rekan setim mereka, dan tentu saja, mecetak gol saat ada peluang.

Sederhananya, false nine adalah pengatur ruang, pencipta peluang, dan pencetak gol yang semuanya digabung menjadi satu.

Sangat sedikit pemain yang cukup lengkap untuk unggul sebagai false nine. Namun, kami cukup beruntung untuk menyaksikan beberapa maestro beraksi pada musim ini.

Seperti dilansir dari Sportskeeda, berikut empat pemain yang bisa berperan sebagai false nine yang mampu tampil luar biasa pada musim 2021/2022:

4. Kai Havertz (Chelsea)

Kai Havertz menjadi pahlawan kala itu usai gol semata wayangnya membuat Chelsea terhindar dari kekalahan. (AFP/Justin Tallis)
Kai Havertz menjadi pahlawan kala itu usai gol semata wayangnya membuat Chelsea terhindar dari kekalahan. (AFP/Justin Tallis)

Chelsea tidak memperlihatkan performa terbaik pada musim ini. Namun, sebagian besar dari performa mereka layak dipuji. The Blues rajin bertahan, menciptakan peluang, dan mencetak gol, di mana itu terjadi ketika menghadapi tim-tim terbaik.

Dengan kondisi Romelu Lukaku, yang merupakan rekor perekrutan klub senilai 97,5 juta pound, yang kesulitan untuk bisa tampil cemerlang sebagai pengumpul pundi-pundi gol, tanggung jawab di depan gawang lawan kerap menjadi milik Kai Havertz.

Pemain asal Jerman yang bermain sebagai gelandang serang di Bayer Leverkusen itu mampu tampil bagus sebagai false nine, memiliki keseimbangan yang sempurna antara mempersiapkan peluang dan mencetak gol atas namanya sendiri.

Havertz tanpa lelah menggunakan kecepatannya dengan baik. Ia telah menciptakan peluang serta mencetak gol ketika dibutuhkan. Pemain berusia 22 tahun itu telah tampil dalam 45 pertandingan di semua kompetisi pada musim ini, mencatatkan 13 gol dan 6 assist.

3. Phil Foden (Man City)

Phil Foden. (AP/Dave Thompson)
Phil Foden. (AP/Dave Thompson)

Pep Guardiola sukses menerapkan Lionel Messi sebagai false nine di Barcelona. Kini, manajer Manchester City itu memiliki Phil Foden untuk memainkan peran yang sama dengan pemain Argentina tersebut.

Phil Foden, yang merupakan juara Piala Dunia U-17 2017, menjadi false nine sepanjang musim yang dilalui Man City. Pemain asal Inggris itu merupakan pemain yang mampu membawa bola dengan baik, memiliki pembacaan permainan dengan baik, dan selalu mencari peluang mencetak gol.

Karena kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan Gabriel Jesus, Manchester City sering memiliki Phil Foden yang memimpin musim ini. Dia menguasai area tengah dengan cukup baik dan tidak segan untuk berhadapan dengan pemain bertahan yang kuat.

Keberaniannya, dikombinasikan dengan kemampuan menjadi playmaker yang sangat baik dan kualitas mencetak gol yang bagus, membuatnya mampu menjadi false nine yang luar biasa.

Dalam 43 penampilannya, Phil Foden telah mencetak 14 gol dan memberikan 11 assist di seluruh kompetisi, terbukti sangat berharga bagi sistem permainan Pep Guardiola.

2. Thomas Muller (Bayern Munchen)

Thomas Muller - Penyerang senior ini merupakan jebolan akademi Munchen yang sukses. Pemain 31 tahun itu merupakan salah satu pemain yang bergelimang gelar juara baik di level klub maupun Timnas. (Andreas Gebert/pool via AP)
Thomas Muller - Penyerang senior ini merupakan jebolan akademi Munchen yang sukses. Pemain 31 tahun itu merupakan salah satu pemain yang bergelimang gelar juara baik di level klub maupun Timnas. (Andreas Gebert/pool via AP)

Dalam daftar ini, Thomas Muller merupakan pemain yang paling tua. Namun, pemain Bayern Munchen itu telah memenangkan banyak gelar juara bersama klub Bavaria itu sejak bergabung dengan akademi klub pada 2000, di mana ia selalu memberikan kontribusi yang luar biasa.

Tidak seperti tiga pemain lain dalam daftar ini, pemain Jerman berusia 32 tahun itu tidak begitu menyenangkan untuk dilihat, tapi satu hal yang pasti dia adalah pemain yang efektif.

Dia mampu mencegat bola dengan baik, bergerak ke ruang kosong, dan kemudian memberikannya kepada rekan satu tim atau mencetak gol atas namanya sendiri.

Musim ini, Thomas Muller sekali lagi tampil luar biasa sebagai penyerang yang diandalkan Bayern Munchen. Pemain asal Jerman itu telah tampil dalam 44 pertandingan di seluruh kompetisi.

Thomas Muller telah mencatatkan 13 gol dan 24 assist, membantu Bayern Munchen meraih gelar Bundesliga ke-10 secara berturut-turut.

1. Sadio Mane

Sadio Mane merupakan salah satu winger terbaik dalam beberapa musim terakhir. Meski Liverpool gagal meraih gelar Liga Champions pada musim 2017/18, Mane merupakan mesin gol untuk The Reds. Bintang Senegal tersebut berhasil melesatkan tujuh gol dalam tujuh laga fase gugur di Liga Champions pada musim tersebut. (AFP/Paul Ellis)
Sadio Mane merupakan salah satu winger terbaik dalam beberapa musim terakhir. Meski Liverpool gagal meraih gelar Liga Champions pada musim 2017/18, Mane merupakan mesin gol untuk The Reds. Bintang Senegal tersebut berhasil melesatkan tujuh gol dalam tujuh laga fase gugur di Liga Champions pada musim tersebut. (AFP/Paul Ellis)

Sadio Mane adalah false nine terbaik di sepak bola saat ini, dan untuk alasan yang bagus. Penyerang Liverpool itu terjun ke dalam untuk mengumpulkan bola, melebarkan permainan dengan bergerak ke sisi sayap dan meledakkan dinamit dengan kaki kanannya.

Setelah kehadiran Luis Diaz dari Porto pada bursa transfer Januari, Sadio Mane telah pindah ke peran yang lebih sentral. Meski tak begitu familiar dengannya, hal tersebut tidak lantas menghentikannya untuk memberikan pengaruh.

Permainannya dengan Mohamed Salah dan Luis Diaz bersinar dan gol-golnya telah memenangkan poin-poin berharga untuk The Reds.

Berkat penampilannya untuk Liverpool dan kontribusi heroik untuk Timnas Senegal, Sadio Mane dianggap layak untuk meraih Ballon d'Or 2022. Jika Sadio Mane tetap mencetak gol di final Piala FA dan Liga Champions, kemungkinannya menjadi pemain terbaik akan makin besar.

Pemain bernomor punggung 10 di Liverpool itu telah tampil dalam 47 pertandingan untuk Liverpool di semua kompetisi, mencetak 21 gol dan memberikan empat assist.

Sumber: Sportskeeda

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel