4 Gejala Pembekuan Darah Setelah Vaksinasi Covid-19, Ini Penjelasan Ahli

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI hingga saat ini masih melakukan investigasi pada vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. Investigasi dilakukan terkait dugaan efek samping fatal usai penyuntikkan vaksin AstraZeneca batch tersebut pada dua orang di Jakarta terhitung sebagai korban sampai 22 Mei 2021. Dugaan efek tersebut mengarah pada gejala pembekuan darah setelah vaksinasi covid-19.

Para peneliti menjelaskan pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 ini terjadi karena reaksi kekebalan tubuh dengan trombosit. Gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 adalah sakit kepala, sakit perut, nyeri di kaki, dan sesak napas. Ahli menuturkan berdasarkan kasus yang ada, pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 bisa terjadi usai penyuntikan dosis pertama.

Mengenai kasus meninggal dunia usai mendapat vaksinasi Covid-19 AstraZeneca batch CTMAV547 di Indonesia, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi angkat bicara. Berdasarkan informasi yang ada hanya demam dan sakit kepala yang menjadi gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 sebelum pasien meninggal.

Berikut Liputan6.com ulas gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 lebih lanjut dari berbagai sumber, Sabtu (22/5/2021).

Gejala Pembekuan Darah Setelah Vaksinasi Covid-19

Petugas medis menyiapkan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas medis menyiapkan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksinasi Gotong Royong memfasilitasi badan usaha yang mau membeli vaksin untuk karyawannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Berdasarkan publikasi New England Journal of Medicine, para penelitian dari University College London Hospitals menjelaskan setelah menganalisis 22 pasien yang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin AstraZeneca.

Gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 ini umumnya didapat lima hari setelah menerima vaksin dosis pertama. Pasien mengalami gumpalan darah di otak, pembuluh vena dan arteri. Para peneliti menjelaskan pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 ini terjadi karena reaksi kekebalan tubuh dengan trombosit.

Berikut gejala pembekuan darah setelah vaksinasi covid-19 dilansir dari laman eatthis.com, Sabtu (22/5/2021).

1. Mengalami Sakit Kepala Parah

Pusat Stroke Komprehensif Michigan menjelaskan gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 paling umum atau Trombosis Vena Sinus adalah sakit kepala yang parah. Gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 ini bisa terjadi secara tiba-tiba, terjadi setelah beberapa jam, atau berkembang selama beberapa hari.

2. Merasakan Sakit Perut

Gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 ini menurut FDA, dijelaskan ada nyeri di daerah perut. Ketika mengalami sakit perut tak biasa usai suntik vaksin Covid-19, lakukan pemeriksaan diri.

3. Mengalami Nyeri di Kaki

Michigan Comprehensive Stroke Center menjelaskan gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 adalah nyeri di bagian kaki atau lengan. Gejala ini digambarkan oleh para penderita seperti mati rasa atau lesu.

4. Mengalami Sesak Napas

Sesak napas atau sulit bernapas bisa menjadi gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19. Untuk melakukan antisipasinya, lakukan pemeriksaan agar lebih pasti. Sebab, ada banyak faktor penyebab sesak napas selain efek samping vaksin Covid-19.

Munculnya Gejala Pembekuan Darah Setelah Vaksinasi Covid-19 adalah Langka

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada tenaga kesehatan saat vaksinasi massal di Poltekkes Kemenkes Jakarta 1, Pondok Labu, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menargetkan vaksinasi 1.000 peserta setiap lokasi penyuntikan. (merdeka.com/Arie Basuki)
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada tenaga kesehatan saat vaksinasi massal di Poltekkes Kemenkes Jakarta 1, Pondok Labu, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menargetkan vaksinasi 1.000 peserta setiap lokasi penyuntikan. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kasus pembekuan darah usai vaksinasi ini terhitung langka terjadi pada populasi yang umum. Berdasarkan kasus yang ada, pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 bisa terjadi usai penyuntikan dosis pertama khusus vaksin AstraZeneca.

Sampai saat ini belum diketahui kelompok yang berisiko mengalaminya. Meski begitu, regulator obat Eropa telah mengeluarkan kesimpulan pembekuan darah yang tidak biasa dengan trombosit darah yang rendah. Kasus ini dimasukkan ke dalam efek samping yang sangat langka dari vaksin COVID-19 AstraZeneca, yang saat ini bernama Vaxzevria.

Profesor Pediatri di Universitas Bristol dan anggota Komite Bersama Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI), Adam Finn mengatakan, "sudah jelas bahwa (sindrom trombotik trombositopenik) akan tetap menjadi peristiwa yang sangat langka,” jelasnya mengutip Standard.co.uk, Sabtu (22/5/2021).

Kasus pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 yang dilaporkan terjadi pada 93 perempuan dan 75 laki-laki berusia 18 hingga 93 tahun. Satu kasus dilaporkan setelah pemberian dosis kedua vaksinasi, kata regulator.

Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan (MHRA) menjelaskan sementara perkiraan tingkat kejadian kasus telah meningkat dari waktu ke waktu. Ini bisa berarti jumlah kasus tetap sangat rendah dalam konteks jutaan dosis yang diberikan.

Kasus Pembekuan Darah Setelah Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Petugas medis menyiapkan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksin yang disuntikkan dalam program Vaksinasi Gotong Royong adalah Sinovam. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas medis menyiapkan vaksin COVID-19 untuk disuntikkan kepada pekerja swasta saat program Vaksinasi Gotong Royong di Sudirman Park Mall, Jakarta, Rabu (19/5/2021). Vaksin yang disuntikkan dalam program Vaksinasi Gotong Royong adalah Sinovam. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi menyampaikan bahwa ada dua orang peserta vaksinasi yang meninggal usai disuntik vaksin AstraZeneca. Selain pemuda 22 tahun asal Buaran, Jakarta, bernama Trio Fauqi Virdaus, ada satu orang lagi asal Jakarta yang meninggal usai menerima suntikan vaksin AstraZeneca.

Indonesia mendapatkan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 berjumlah 448.480 dari 3.852.000 dosis vaksin AstraZeneca yang diterima Indonesia pada 26 April 2021 melalui skema Covax Facility/WHO.

Mengenai gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 peserta vaksinasi vaksin AstraZeneca yang belum terungkap namanya itu meninggal, ia merasakan gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 seperti demam dan sakit kepala.

"Gejala yang dirasakan berdasarkan informasi yang ada hanya demam dan sakit kepala. Hanya saja tidak diketahui secara pasti perjalanan penyakit seperti apa hingga sampai rumah sakit meninggal. Ini perlu didalami," kata Nadia saat dihubungi Liputan6.com, Senin (17/5/2021).

Untuk gejala pembekuan darah setelah vaksinasi Covid-19 serupa dirasakan pada Trio. Pria outsourcing BUMN itu mengeluh demam, suhu tubuhnya meningkat usai menerima suntikan vaksin AstraZeneca di GBK, Rabu pada 5 Mei 2021.

Kondisinya melemah dan masih mengalami demam pada hari Kamis. Lalu, dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 12.30 WIB, seperti mengutip laman SehatNegeriku, Sabtu (22/5/2021).

Pemberian Vaksin AstraZeneca Non Batch CTMAV547 Tetap Lanjut

Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker
Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 kembali menegaskan, vaksin AstraZeneca di luar batch CTMAV547 akan tetap diberikan kepada masyarakat, khususnya yang baru satu kali menerima dosis. Hal ini demi mencapai kekebalan individu yang sempurna dengan dua dosis.

"Saya ingin kembali menekankan bahwa pemberian vaksin Astrazeneca non batch CTMAV457 akan tetap dilakukan," kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun masih menginvestigasi terkait adanya dugaan efek samping fatal dari vaksin AstraZaneca batch CTMAV547. Investigasi yang dilakukan berupa pengujian toksisitas dan abnormal serta sterilisasi dari vaksin tersebut.

Penghentian sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 sebagai bentuk upaya kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel