4 Hal Ini Jadi Biang Kerok Stagflasi Global

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Grup Dept. Ekonomi & Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Wira Kusuma mengatakan, ada empat hal yang menyebabkan stagflasi secara global. Stagflasi merupakan sebuah kondisi ekonomi yang melambat dan biasanya disertai dengan kenaikan harga-harga pokok (inflasi).

Pertama, perbaikan covid-19, penangananya sangat baik di seluruh dunia. Namun demikian ada resiko yang berlanjut dengan munculnya beberapa varian meskipun tidak seberat varian sebelumnya. Kedua, ketegangan geopolitik yang masih berkepanjangan di luar perkiraan. Ketiga, ada tren proteksionisme yang dilakukan negara-negara untuk mengamankan pasokannya terutama pangan.

"Keempat, gangguan rantai pasokan atau supply chain disruption. Kemudian ada resiko stagflasi. Empat hal ini menyebabkan adanya resiko stagflasi. Empat isu ini membuat dinamika perekonomian global menjadi sedikit berubah," kata Wira dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), Senin (25/7).

Menurutnya, saat ini PDB dunia menurun perkembangannya, kemudian harga komoditas global meningkat dengan adanya proteksionisme dan supply chain disruption, yang menyebabkan inflasi global meningkat.

Sehingga dengan latar belakang tersebut, terutama di advance ekonomi dengan adanya inflasi global yang meningkat di negara-negara itu maka mendorong akselerasi respon moneter, terutama di advance ekonomi, seperti Amerika Serikat.

"Dimana kita melihat perkembangan Fed fund rate itu meningkat drastis dan kita ramalkan di Juli ini akan meningkat 75 basis poin. Ini menyebabkan kondisi pasar keuangan global itu ketidakpastiannya semakin meningkat," ujarnya.

Hal-hal semacam ini tentunya mempengaruhi ekonomi domestik. Untuk sektor riil, PDB Indonesia perkembangannya dari tahun 2021 sampai Juni 2022 terpantau harga komoditas global meningkat tinggi, yang membuat ekspor Indonesia naik. "Ekspor menjadi sumber pertumbuhan hingga saat ini," imbuhnya.

Di sisi lain, penanganan covid-19 oleh Pemerintah Indonesia yang sangat baik ini menciptakan mobilitas yang tinggi, dan meningkatkan aktivitas ekonomi yang juga meningkatkan permintaan domestik. "Ke depan dengan perkembangan ekonomi global yang slowing down, kemungkinan prediksi kami sumber pertumbuhan PDB kita akan banyak didominasi oleh permintaan domestik," katanya.

Dari sisi eksternal, Bank Indonesia melihat, dengan ekspor yang meningkat tersebut maka current account Indonesia hingga kini tercatat surplus. Selain itu, dengan perbaikan iklim investasi itu juga mendorong PMA tetap masuk.

Namun, dengan adanya ketidakpastian di financial market yang masih tinggi menyebabkan aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia menjadi tertahan. Tapi secara umum sektor eksternal Indonesia yang digambarkan oleh neraca pembayaran Indonesia masih solid.

"Karena portofolio terjadi capital outflow itu menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar. Namun kalau kita bandingkan tingkat depresiasi negara-negara tetangga, kita relatif lebih baik dibanding negara lain,"15:05 25/07/2022 ujarnya.

Contoh, sampai 20 Juli Indonesia hanya terdepresiasi 4,9 persen, namun negara seperti Malaysia 6,42 persen, India 7,05 persen, Thailand 8,93 persen. Artinya, Indonesia relatif kita lebih baik dari negara lain.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel