4 Kesiapan Mental yang Perlu Dimiliki sebelum Menikah

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Menikah sebaiknya tak dilakukan dengan buru-buru. Terlepas dengan mulai banyaknya tekanan dan tuntutan untuk menikah hanya karena dianggap usianya sudah matang, tetaplah penting bagi kita pribadi memiliki kesiapan mental yang matang sebelum menikah. Sebab yang menjalani pernikahan itu nantinya adalah kita sendiri, jadi kita perlu benar-benar yakin dan siap untuk mengarunginya.

Ada beberapa kesiapan mental yang perlu dimiliki sebelum menikah. Bukan hanya soal kesiapan harta dan uang saja yang harus diperhatikan, tapi juga kesiapan mental perlu dimiliki dengan baik supaya ke depannya tidak mengalami banyak masalah atau konflik dalam pernikahan.

1. Memiliki Kemampuan untuk Saling Menghormati atau Respek Satu Sama Lain

Respek atau saling menghargai sangatlah penting dalam sebuah pernikahan. Melansir Here’s Why You Should Build Stronger Boundaries In Your Relationship Before You Get Married via thoughtcatalog.com saling menghargai dalam hubungan bisa dalam bentuk selalu jujur dalam berkomunikasi, berbagi perasaan dengan komunikasi yang terbuka, tidak saling menyerang kekurangan, dan tidak egois saat mengkritik sikap dan perilaku pasangan. Apakah mudah untuk bisa membangun sikap saling respek dengan pasangan? Mungkin dalam prosesnya akan terasa sulit tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan.

2. Memiliki Kemampuan untuk Saling Beradaptasi

Kamu dan pasanganmu tak lain adalah dua individu dengan dua karakter berbeda. Kelebihan dan kekurangan yang kalian miliki pun tak sama. Begitu banyak hal yang harus disesuaikan. Ada hal-hal yang mungkin tak kita sukai tapi kita perlu melakukannya demi kebaikan bersama. Kemampuan untuk bisa saling menyesuaikan diri atau beradaptasi ini sangatlah penting. Seiring berjalannya waktu, nantinya kita perlu lebih keras berlatih untuk menekan ego pribadi demi keutuhan pernikahan. Karena sebuah pernikahan harus dijalani bersama, maka prosesnya pun perlu dilalui dengan upaya saling menyesuaikan diri. Bukan saling menghakimi atau menyalahkan.

3. Memahami Adanya Perbedaan Cara Berkomunikasi

ilustrasi./copyright by Prostock-studio (Shutterstock)
ilustrasi./copyright by Prostock-studio (Shutterstock)

Setelah menikah, kaum pria kadang semakin malas meluangkan waktu untuk berbicara. Mengutip buku Emotional Intelligence, Ted Huston, seorang ahli psikologi di University of Texas yang mempelajari secara mendalam pasangan-pasangan suami istri mengamati bahwa, "Bagi istri, keintiman berarti membahas berbagai hal sampai tuntas, terutama mengenai hubungan itu sendiri. Para suami, pada umumnya, kurang memahami apa yang dikehendaki istrinya dari mereka. Mereka berkata, 'Saya ingin melakukan banyak hal bersama istri saya, tapi yang diinginkannya hanyalah berbicara.'"

Huston pun menjelaskan lebih lanjut bahwa saat masih pacaran, kaum pria masih bersedia meluangkan waktu untuk berbicara dengan cara-cara yang cocok baginya, dengan harapan terdapat keintiman dengan calon istrinya. Tetapi, setelah menikah, ketika waktu berjalan terus, kaum pria terutama pada pasangan-pasangan yang lebih tradisional, semakin lama semakin malas meluangkan waktu untuk bicara dengan tujuan ini dengan istrinya. Kaum pria merasa kebersamaan dapat tercapai dengan melakukan sesuatu bersama-sama, bukannya ngobrol membahas ini itu.

Penting untuk memahami bahwa cara kita berkomunikasi bisa berbeda dengan cara pasangan kita berkomunikasi. Jadi, tak perlu langsung marah atau emosi saat ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi ketika menikah. Selalu bicarakan baik-baik segala sesuatunya dan hindari saling menyalahkan di situasi apa pun.

4. Memiliki Kemampuan untuk Tidak Mudah Stres Menghadapi Tuntutan Baru

Sudah menikah, akan ditanya kapan punya anak. Sudah punya anak, ditanya kapan nambah lagi. Rumah masih kontrak, ditanya kapan akan beli rumah baru. Baru beli sepeda motor baru, ditanya kapan bakal bisa beli mobil. Siapkan mental menghadapi berbagai tuntutan baru. Namun, tak semua tuntutan sosial atau tuntutan orang lain bisa kita penuhi. Kita tetap perlu menjaga kenyamanan kita sendiri dan tak harus memaksakan diri memenuhi harapan semua orang.

Semoga pernikahan yang akan kamu miliki dan jalani bisa menghadirkan banyak makna baru dalam hidupmu, ya.

#ChangeMaker