4 Kisah Zaenal, Saat Kecil Disodomi, Sudah Dewasa Menyodomi Anak

Saksi: Terdakwa JIS Disiksa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Zaenal salah satu tersangka kasus sodomi di Jakarta International School (JIS) mengaku menjadi salah satu korban buronan FBI kasus paedofil William James Vahey. Saat itu usia Zaenal baru berusia 14 tahun ketika pertama kali bertemu Vahey di sekitar kawasan Bundaran Pondok Indah, Jakarta Selatan untuk kemudian menjadi korban keganasan Vahey dan diberi upah sebesar Rp 20 ribu.

Ada beberapa kisah mengenai Zaenal yang menarik untuk disimak. Berikut ini beberapa kisahnya:

1. Jadi Korban Sodomi Sejak Balita

Zaenal alias ZA (25), tersangka sodomi di Jakarta Internasional School (JIS) ternyata sewaktu kecil pernah menjadi korban pelecehan seksual.

Pengakuan itu pun terkuak saat Zaenal diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya.

"Tersangka ZA sewaktu kecil, umur 5 tahun pernah kena sodomi di lingkungan rumahnya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Minggu (27/4/2014).

Rikwanto menambahkan hingga saat ini, baru tersangka Zaenal yang mengisahkan ke penyidik dalam pemeriksaan, ia pernah menjadi korban sodomi.

2. Zaenal Korban Sodomi Buronan FBI

Zaenal alias ZA (25), tersangka sodomi murid TK di Jakarta Internasional School (JIS) saat berumur 14 tahun pernah disodomi oleh pria asing.

Aksi sodomi itu dilakukan di sekitaran bundaran Pondok Indah Jakarta Selatan. Kejadian itu terjadi di dalam mobil milik orang asing tersebut.

"Saat itu dia mengaku tidak kenal dengan orang asing itu, hanya diajak ke dalam mobil lalu dikerjai dan diberi uang Rp 20 ribu," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Minggu (27/4/2014) di Mapolda Metro Jaya.

Kemudian, dalam pemeriksaan, penyidik sempat menunjukkan foto dari William James Vahey (64), buronan FBI yang melakukan paedofilia pada 90 anak-anak di setiap sekolah tempatnya mengajar. Dan William pun sempat menjadi staf pengajar di JIS.

"Penyidik menunjukkan muka dari William, apakah orang asing itu yang dulu menyodomi dia. Lalu ZA (Zaenal) bilang ya ini orangnya," kata Rikwanto.

3. Zaenal Jadi Pelaku Sodomi di JIS Saat Dewasa

Penyidik Subdit Renakta Direktorat Reserse Kriminal Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka baru kasus sodomi di Jakarta International School (JIS), Jakarta Selatan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto mengatakan ketiga tersangka itu yakni A (tersangka perempuan), S dan Z yang kemudian dikenal dengan nama Zaenal (tersangka pria).

"Ketiga tersangka ini merupakan karyawan ISS, penyedia jasa kebersihan dan pertamanan di JIS," ucap Heru, Jumat (25/4/2014) malam.

Tersangka S dan Z yakni dua karyawan ISS yang positif menderita herpes dan diduga keduanya yang menularkan herpes pada korban.

4. Zaenal Juga Menjalin Kasih dengan Awan

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menjelaskan, selama bekerja di ISS, tersangka Zaenal berpacaran dengan tersangka Awan. "Di ISS, ZA (Zaenal) menjalin hubungan sama tersangka AN (Awan). Kadang mereka ganti-gantian (melakukan sodomi)," tutur Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Minggu (27/4/2014).

Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto mengatakan tersangka Zaenal dan Awan, pasangan kekasih tersebut pernah hubungan badan (saling sodomi) saat September hingga November 2013.

Kisah Zaenal ini memang dinilai membuat hati teriris-iris, bahwasanya Zaenal yang sedari kecil sudah menjadi korban kekerasan seksual ternyata mengulangi perbuatannya saat sudah dewasa.

Saat kecil mereka dilecehkan, ketika besar mereka jadi guru dan melecehkan muridnya. Sepuluh atau dua puluh tahun berikutnya giliran si murid mencari mangsa. Itulah paedofil, seperti lingkaran setan.

Begitulah Peneliti dan Dosen Psikologi Pengambilan Keputusan, Ihshan Gumilar mengatakan.

Ihshan teriris ketika paedofil menyusup ke Jakarta International School (JIS). Baginya Itu sama saja mencetak paedofil-paedofil baru. Ini pula yang terjadi pada Zaenal alias ZA (25), tersangka sodomi di Jakarta Internasional School (JIS). Ternyata ZA pernah jadi korban pelecehan seksual serupa ketika kecil. Dalam istilah psikologi, tulis Ihshan itu dikenal sebagai abused-abuser cycle.

Berawal dari korban (abused) pelecehan seksual di masa kecil, lalu tumbuh menjadi orang dewasa yang memakan korban (abuser). Orang yang jadi korban pelecehan seks saat kecil, ketika dewasa akan berpikir melampiaskan seks dapat dilakukan pada anak kecil.

Lebih jauhnya lagi mereka merasakan bahwa kepuasaan seks mereka dapat dipenuhi dengan melakukannya kepada anak-anak. Makanya seorang paedofil memang berusaha sebisa mungkin agar leluasa berinteraksi dengan anak-anak. Makanya mereka menyusup jadi guru, pelatih olahraga, guru les, guru musik dan lainnya.

"Pekerjaan ini membungkus kelakuan biadab mereka. Ketika paedofil masuk ke sekolah dan melecehkan anak, itu sama saja mencetak paedofil-paedofil baru. Sebab sepuluh sampai dua puluh tahun berikutnya giliran anak-anak itu mencari mangsanya. Maka seharusnya masyarakat merubah pola pikir. Tak selamanya pendidikan barat menjadi yang terbaik (the best)," ujar Ihshan.

Siapapun mereka, tulis Ihshan, orang-orang asing di negeri ini tetap manusia. Mereka punya sisi psikologi yang bisa saja abnormal. Pendidikan bukan dinilai dari label sekolah ataupun penampilan para pengajar. Tapi pendidikan itu dinilai dari perilaku dan moral yang dilakukan selama dan setelah proses belajar.

"Ajarkanlah tentang apa yang harusnya boleh disentuh oleh orang lain atau tidak kepada anak semenjak kecil. Sekolah adalah tempat untuk mencetak manusia-manusia yang bermoral bukan tempat untuk melampiaskan nafsu dan menciptakan paedofil-paedofil baru," ujarnya.

Baca Juga:

Zaenal Mengaku Pernah Disodomi Buronan Paedofil, Apakah Polri akan Panggil FBI?

Awas!Sekolah Bisa Jadi Pencetak Manusia Paedofil Baru

Pengacara Belum Tahu Keterlibatan Azwar dalam Kasus Sodomi JIS