4 Klub yang Pernah Merana Saat Mantan Pemain Ditunjuk Menjadi Pelatih: Kombinasi AC Milan dan 3 Klub Elite Liga Inggris

·Bacaan 8 menit

Bola.com, Jakarta - Dalam sejarah perjalanan sepak bola, sudah begitu banyak pesepak bola dunia yang memutuskan gantung sepatu kemudian melanjutkan kariernya sebagai pelatih atau manajer tim sepak bola.

Begitu banyak pelatih sukses juga memiliki latar belakang bermain sepak bola, tapi tak sedikit pula pemain hebat yang kemudian membuat timnya merana ketika mereka menjadi pelatih.

Sebagai pengantar, mari sebutkan pesepak bola yang kemudian sukses mengantar timnya meraih gelar juara ketika menjadi pelatih. Pep Guardiola adalah contoh mudah, di mana mantan pemain Barcelona itu juga sukses mengantar tim Catalan itu berprestasi ketika menjadi pelatih.

Kemudian yang lebih tua lagi ada Cesare Maldini, ayah dari Paolo Maldini. Legenda AC Milan itu sukses mengantar Rossoneri menjadi juara, baik ketika masih aktif bermain pada era 1950 hingga 1960-an maupun ketika menjadi pelatih pada musim 1972/1973.

Kini makin banyak pesepak bola era 1990-an dan awal 2000-an yang sudah menjadi pelatih. Tengok saja Andrea Pirlo bersama Juventus, Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United, dan Frank Lampard yang baru saja dipecat dari bangku kepelatihan Chelsea.

Berangkat dari kisah Frank Lampard yang baru saja dipecat oleh Chelsea, berikut Bola.com merangkum empat klub yang memang merana ketika mantan pemainnya tetap bersama klub dengan status pelatih atau manajer.

Chelsea

Chelsea - Frank Lampard di Pecat (Bola.com/Adreanus Titus)
Chelsea - Frank Lampard di Pecat (Bola.com/Adreanus Titus)

Frank Lampard adalah seorang gelandang yang sukses bersama Chelsea ketika masih aktif bermain. Ia mampu memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak The Blues, padahal posisinya ada di lini tengah.

Frank Lampard sukses mempersembahkan 13 trofi untuk Chelsea, termasuk tiga trofi juara Premier League dan satu trofi Liga Champions.

Namun, semua yang didapatkan oleh Lampard ketika masih aktif bermain tak berhasil diaplikasikannya bersama Chelsea saat kembali dengan jabatan yang berbeda.

Selama 1,5 tahun menjabat sebagai manajer The Blues, Lampard tak mendapatkan satu trofi pun. Meski sempat memberikan harapan dengan mengembalikan Chelsea ke papan atas pada musim pertamanya, Lampard justru dipecat saat baru separuh perjalanan pada musim keduanya.

Sedikit lebih beruntung dari Lampard, ada pula Roberto Di Matteo. Namun, pelatih asal Italia ini justru sempat memberikan trofi juara untuk The Blues.

Tak tanggung-tanggung, trofi juara Liga Champions 2011/2012 yang dipersembahkan Di Matteo untuk Chelsea, di mana pada tahun yang sama The Blues juga menjuarai Piala FA.

Namun, Di Matteo hanya terbilang mujur untuk meraih dua gelar juara itu. Sang manajer datang pada Maret 2012, di mana Chelsea sudah hampir mencapai penghujung musim, tapi memutuskan memecat Andre Villas-Boas.

Justru ketika memulai musim baru 2012/2013, Di Matteo tak bertahan lama karena November 2012 pun ia sudah dipecat. Tersingkir dari Liga Champions begitu cepat, yaitu gagal lolos dari fase grup, dengan status sebagai juara bertahan, menjadi penyebab pelatih asal Italia itu akhirnya dipecat begitu cepat.

AC Milan

Pelatih AC Milan, Gennaro Gatusso, bersiap menjalani debut saat melawan Benevento pada laga Serie A Italia di Stadion Ciro Vigorito, Benevento, Minggu (3/12/2017). Kedua klub bermain imbang 2-2. (AP/Mario Taddeo)
Pelatih AC Milan, Gennaro Gatusso, bersiap menjalani debut saat melawan Benevento pada laga Serie A Italia di Stadion Ciro Vigorito, Benevento, Minggu (3/12/2017). Kedua klub bermain imbang 2-2. (AP/Mario Taddeo)

Meninggalkan tanah Inggris sejenak, beralih ke Italia. AC Milan merupakan satu dari beberapa klub besar dengan sejarah prestasi yang luar biasa. Begitu banyak pelatih legendaris memberikan trofi juara untuk Rossoneri, termasuk mantan pemainnya, Cesare Prandelli.

Namun, pada era sepak bola modern, AC Milan sempat ditangani oleh tiga mantan pemainnya yang gagal memberikan kontribusi positif bagi Rossoneri. Padahal ketiga mantan pemain itu memberikan hal sebaliknya saat masih aktif bermain, lewat sejumlah trofi juara.

Kita awali dari Clarence Seedorf. Mantan pemain Timnas Belanda yang memperkuat AC Milan sejak 2002 hingga 20012 itu ditunjuk menjadi pelatih Rossoneri pada 2014.

Sekitar satu dekade bersama AC Milan sebagai pemain, Seedorf mempersembahkan 10 trofi juara, termasuk 2 kali Scudetto, 2 kali juara Liga Champions, dan satu kali meraih trofi juara Piala Dunia Antarklub.

Namun, ketika ditunjuk menjadi pelatih AC Milan pada 16 Januari 2014, Seedorf hanya bertahan selama empat bulan. AC Milan hanya meraih 50 persen kemenangan dari jumlah total pertandingan yang dijalaninya.

Seedorf digantikan oleh Filippo Inzaghi, mantan pemain AC Milan yang seperti halnya Seedorf membantu Rossoneri 2 kali meraih Scudetto, 2 kali meraih trofi Liga Champions, dan satu trofi Piala Dunia Antarklub.

Inzaghi yang pensiun di AC Milan, kemudian sempat menangani tim muda klub yang bermarkas di San Siro itu dan akhirnya diangkat menjadi pelatih kepala Rossoneri menggantikan Seedorf pada 2014.

Meski mengawali musim 2014/2015 dengan dua kemenangan pada dua giornata pertama, AC Milan kemudian tampil tidak konsisten di bawah asuhan Inzaghi. 13 kemenangan, 13 hasil imbang, dan 12 kekalahan, dan finis di posisi ke-10 pada klasemen akhir Serie A.

Hasil tersebut membuat Inzaghi tidak diperpanjang oleh manajemen AC Milan untuk musim selanjutnya, di mana posisinya digantikan oleh Sinisa Mihajlovic.

Mantan pemain AC Milan berikutnya yang menjajal peran sebagai pelatih Rossoneri adalah Gennaro Gattuso. Tak berbeda dengan dua rekannya di atas, Gattuso juga mempersembahkan 10 gelar juara bagi AC Milan sebagai pemain, di mana ia berada di San Siro sejak 1999 hingga 2012.

Setelah gantung sepatu di klub Swiss, Sion, Gattuso kemudian memulai karier kepelatihan di klub itu pula. Sempat menjajal karier di sejumlah klub, termasuk Palermo, Gattuso akhirnya kembali ke Milan pada 2017.

Sempat menangani Milan Primavera mulai Mei 2017, Gattuso akhirnya diminta menjadi pelatih tim utama pada November 2017 setelah klub memecat Vincenzo Montella. Dalam sisa musim 2017/2018 itu, Gattuso membantu Milan finis di peringkat keenam di Serie A tanpa trofi juara di kompetisi lain.

Gattuso pun mendapatkan perpanjangan kontak pada April 2018, di mana ia akan berada di sana hingga 2021. Namun, AC Milan hanya finis di peringkat kelima dan masih tetap tanpa trofi juara. Gattuso dan AC Milan pun sepakat berpisah.

Arsenal

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tampak kecewa usai ditaklukkan Everton pada laga Liga Inggris di Stadion Goodison Park, Minggu (20/12/2020). Everton menang 2-1 atas Arsenal. (AFP/Peter Powell, Pool)
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, tampak kecewa usai ditaklukkan Everton pada laga Liga Inggris di Stadion Goodison Park, Minggu (20/12/2020). Everton menang 2-1 atas Arsenal. (AFP/Peter Powell, Pool)

Arsenal hingga kini masih berusaha untuk bisa kembali ke masa kejayaannya. Patokannya tentu saja ketika berada di bawah asuhan Arsene Wenger, di mana The Gunners tiga kali menjuarai Premier League, tujuh kali meraih trofi juara Piala FA, dan tujuh kali pula menyabet penghargaan Community Shield.

Setelah dua dekade lebih Arsene Wener menjabat sebagai manajer The Gunners, pria asal Prancis itu pun memutuskan mundur pada 13 Mei 2018. Sebagai pengganti, Unai Emery datang.

Namun pelatih asal Spanyol itu hanya 1,5 tahun berada di Arsenal dan tanpa trofi juara. Ia kemudian sempat digantikan oleh mantan pemain The Gunners, Freddie Ljungberg.

Eks Arsenal asal Swedia itu pun membimbing The Gunners hanya dalam enam pertandingan saja, di mana tim London Utara hanya meraih satu kemenangan, tiga hasil imbang dan dua kekalahan. Mencetak delapan gol dan kebobolan 10 gol.

Arsenal pun mencari sosok baru dan lagi-lagi mantan pemainnya yang jadi target. Mikel Arteta diplot menjadi manajer baru The Gunners mulai 29 Desember 2019 hingga saat ini.

Mikel Arteta pun tergolong cukup baik melanjutkan tugas Unai Emery dan Ljungberg. The Gunners dibawanya meraih trofi juara Piala FA yang berlanjut dengan Community Shield pada awal musim ini.

Namun, Arsenal kesulitan menemukan konsistensi bersama Mikel Arteta pada musim 2020/2021. Keputusan manajer asal Spanyol itu menyingkirkan Mesut Ozil dari skuat Arsenal di Premier League dan Liga Champions mendapatkan kecaman.

The Gunners mengalami masa-masa yang sulit. Meski sempat menang pada dua laga pertama Premier League musim ini, rentetan hasil kurang maksimal membuat The Gunners sempat terlempar hingga posisi ke-15 dalam klasemen Premier League.

Kini Arteta masih dipertahankan oleh The Gunners, di mana klub London Utara itu pun masih berjuang di papan tengah klasemen Premier League hingga pekan ke-23.

Manchester United

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, saat melihat timnya menghadapi Arsenal dalam laga pekan ke-21 Premier League, Minggu (31/1/2021) dini hari WIB. Arsenal dan Manchester United bermain imbang tanpa gol dalam laga tersebut. (Andy Rain/Pool via AP)
Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, saat melihat timnya menghadapi Arsenal dalam laga pekan ke-21 Premier League, Minggu (31/1/2021) dini hari WIB. Arsenal dan Manchester United bermain imbang tanpa gol dalam laga tersebut. (Andy Rain/Pool via AP)

Manchester United boleh dibilang sudah kesulitan untuk menemukan performa terbaik setelah ditinggalkan manajer legendaris mereka, Sir Alex Ferguson pada 2013 lalu. Sejumlah manajer telah diberikan kepercayaan, termasuk dua mantan anak asuh Alex Ferguson. Tapi, belum ada yang bisa mengembalikan kejayaan tersebut, terutama di level Premier League.

Setelah Sir Alex Ferguson pergi, tercatat Manchester United sempat ditangani oleh David Moyes, Louis van Gaal, dan Jose Mourinho. Selain itu juga ada Ryan Giggs yang menjadi caretaker setelah Moyes dipecat dan Solskjaer yang awalnya menjadi caretaker menggantikan Mourinho hingga akhirnya diberikan kepercayaan penuh sebagai manajer tim.

Ada lima manajer setelah Sir Alex Ferguson pergi, dua merupakan eks bintang Manchester United yang membantu The Red Devils meraih begitu banyak trofi juara sepanjang karier mereka. Siapa yang meragukan kualitas Ryan Giggs dan Ole Gunnar Solskjaer yang mampu menjadikan The Red Devils raja di Inggris dan beberapa kali di Eropa.

Namun, ketika mendapatkan kepercayaan sebagai manajer, keduanya belum berhasil. Kata belum tentu merujuk kepada Ole Gunnar Solskjaer yang hingga kini masih menjadi manajer the Red Devils.

Ryan Giggs hanya sesaat menjadi manajer The Red Devils. Ia memimpin empat pertandingan resmi Manchester United dan meraih dua kemenangan di antaranya. Namun, kondisi Manchester United saat itu, yang baru ditinggalkan David Moyes yang gagal total membuat Ryan Giggs tak bisa berbuat banyak hingga akhirnya Manchester United memutuskan merekrut Louis van Gaal.

Kemudian ada Ole Gunnar Solskjaer yang menjadi manajer The Red Devils setelah klub yang bermarkas di Old Trafford itu memecat Jose Mourinho pada 18 Desember 2018. Satu hari berselang, Solskjaer ditunjuk sebagai caretaker.

Namun, dinilai bisa membawa Manchester United ke arah yang lebih baik pada sisa musim tersebut, di mana The Red Devils memenangkan 14 laga dari 19 laga di bawah asuhan Solskjaer, manajemen klub mengganjarnya dengan kontrak berdurasi tiga tahun pada 28 Maret 2019.

Solskjaer cukup kesulitan untuk mengembalikan Manchester United kembali ke papan atas pada musim 2018/2019. The Red Devils hanya finis di peringkat keenam dan gagal ke Liga Champions, di mana hal itu tentu mengecewakan bagi para penggemarnya.

Namun, Solskjaer memperbaikinya setelah ditunjuk secara permanen menjadi manajer Manchester United. Solskjaer membawa The Red Devils finis di peringkat ketiga pada musim 2019/2020, di mana ini merupakan finis terbaik The Red Devils setelah ditinggalkan Sir Alex Ferguson.

Namun, pada musim 2020/2021, Solskjaer sempat kesulitan untuk bisa membawa timnya konsisten. Kekalahan 1-6 dari Tottenham Hotspur di Old Trafford sangat mencoreng klub. Ia pun mengklaim hari itu sebagai yang paling buruk dalam kariernya.

Tak hanya itu, Manchester United yang tampil di Liga Champions pun gagal melangkah jauh. The Red Devils gagal melaju ke 16 besar dan harus turun kasta ke Liga Europa.

Hingga saat ini, Ole Gunnar Solskjaer masih dalam upayanya untuk mengangkat Manchester United kembali menjadi tim besar yang mampu menjadi juara, baik di Inggris maupun di Eropa. Sanggupkah?

Video