4 Kriteria Pemberian MPASI Menurut Anjuran WHO

Sumiyati

VIVA – Sekitar usia 6 bulan, kebutuhan bayi akan energi dan nutrisi mulai melebihi apa yang disediakan oleh ASI, dan makanan pendamping diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bayi pada usia ini juga secara perkembangan siap untuk menerima makanan lain. Transisi ini disebut sebagai makanan pendamping ASI (MPASI). 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun merekomendasikan agar bayi mulai menerima makanan pendamping pada usia 6 bulan selain ASI, demikian seperti dikutip dari situs resminya, Sabtu, 23 Mei 2020.

Jika makanan pendamping tak diperkenalkan sekitar usia 6 bulan, atau jika diberikan secara tidak tepat, pertumbuhan bayi bisa goyah.

Memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi bayi, WHO memberikan kriteria-kriteria pemberian MPASI sebagai berikut.

Tepat waktu

Artinya diperkenalkan ketika kebutuhan akan energi dan nutrisi melebihi apa yang dapat disediakan melalui pemberian ASI eksklusif. 

Memadai

Artinya mereka menyediakan energi, protein, dan mikronutrien yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang sedang tumbuh. 

Aman

Artinya disimpan dan dipersiapkan secara higienis, dan diberi makan dengan tangan bersih menggunakan peralatan bersih dan bukan botol dan dot. 

Diberi makan dengan benar

Artinya mereka diberikan konsisten dengan sinyal nafsu makan dan kenyang anak, dan frekuensi makan serta pemberian makan sesuai untuk usia.

Awalnya, bayi harus menerima makanan pendamping 2-3 kali sehari antara 6-8 bulan dan meningkat menjadi 3-4 kali sehari antara 9-11 bulan dan 12-24 bulan. Camilan bergizi tambahan juga harus ditawarkan 1-2 kali sehari untuk usia 12-24 bulan, seperti yang diinginkan. 

Hindari makanan dalam bentuk yang dapat menyebabkan tersedak, seperti anggur utuh atau wortel mentah. Hindari memberikan minuman dengan nilai gizi rendah, seperti teh, kopi, dan minuman ringan bergula. Batasi jumlah jus yang ditawarkan, untuk menghindari makanan yang lebih kaya nutrisi.

Di sisi lain, memahami kebutuhan nutrisi pada bayi, beberapa waktu yang lalu, Nayz memberikan bantuan kepada masyarakat yang mengalami gizi buruk di di daerah Kefamenanu, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

"Kami juga dibantu oleh seorang dokter yaitu Dr. Olieve Indri Leksmana yang bertugas di Puskesmas di daerah Kefamenanu, yang membantu membagikan MPASI organik kepada masyarakat yang terkena gizi buruk di sana," ujar Founder & CEO PT. Hassana Boga Sejahtera (Nayz), Lutfiel Hakim.

Tidak hanya itu, baru-baru ini, produsen bubur bayi tersebut juga menggelar kegiatan amal berupa bantuan untuk masyarakat di wilayah Tangerang Selatan. Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan di tengah kondisi ekonomi yang kian sulit akibat pandemi COVID-19. 

“Konsep dari kegiatan amal ini adalah setiap karyawan memberikan dua paket bantuan yang berisi beras organik dengan ukuran 4 kilogram per paket," lanjut dia. 

Masyarakat yang disasar untuk program kali ini berada di sekitar wilayah Tangerang Selatan, tepatnya di wilayah Serpong, Setu, dan Pondok Petir.

"Program ini kami tujukan kepada masyarakat di sekitar kami, khususnya orangtua dan janda-janda yang terkena dampak dari situasi pandemi COVID-19 yang berlangsung saat ini," tutur Lutfiel.