4 Modal Kuat Timnas Indonesia untuk Menjadi Juara Piala AFF 2020: Comeback Bukanlah Mimpi

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia seperti membutuhkan mukjizat pada leg kedua babak final Piala AFF 2020. Tim berjuluk Skuad Garuda itu minimal harus memberondong empat gol ke gawang Thailand dan tanpa kebobolan.

Setelah diguyur 0-4 dalam pertemuan pertama, Timnas Indonesia akan kembali menghadapi Thailand di National Stadium, Singapura, Sabtu (1/1/2022) malam ini.

Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan jelas dalam posisi terjepit. Selain tidak mudah untuk mencetak empat gol, Thailand adalah tim dengan jumlah kebobolan terminim di Piala AFF.

Dari enam pertandingan sejak penyisihan grup sampai babak final, gawang Thailand baru kemasukan sekali via winger Filipina, Patrick Reichelt pada partai ketiga Grup A.

"Leg pertama memang benar-benar sulit bagi kami. Performa Thailand sangat baik dan para pemain muda kami kurang pengalaman dan akhirnya kalah," kata pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.

"Belajar dari kekalahan pada pertemuan pertama, saya berusaha untuk membuat suasana menjadi baik. Saya tidak bisa pastikan kami bisa menang besar pada leg kedua," tutur arsitek asal Korea Selatan itu.

Thailand memang menjadi tim terkuat di Piala AFF. Namun, bukan berarti kesebelasan dengan sebutan lain Gajah Perang itu tidak terkalahkan. Asnawi Mangkualam dkk. punya modal untuk memenangkan pertandingan bahkan hingga epic comeback yang bukan menjadi mimpi lagi.

Jadi Tim Tersubur

Bek Timnas Indonesia, Pratama Arhan (kiri) berselebrasi dengan rekan setimnya usai mencetak gol ke gawang Singapura pada pertandingan leg kedua semifinal Piala AFF 2020 di National Stadium, Sabtu (25/12/2021). Indonesia akan bertemu antara Thailand dan Vietnam di babak final. (AFP/Roslan Rahman)
Bek Timnas Indonesia, Pratama Arhan (kiri) berselebrasi dengan rekan setimnya usai mencetak gol ke gawang Singapura pada pertandingan leg kedua semifinal Piala AFF 2020 di National Stadium, Sabtu (25/12/2021). Indonesia akan bertemu antara Thailand dan Vietnam di babak final. (AFP/Roslan Rahman)

Timnas Indonesia adalah tim tersubur di Piala AFF. Dalam enam partai, Skuad Garuda berhasil mencetak 18 gol, unggul dua gol dari Thailand.

Pundi-pundi gol Timnas Indonesia sebagian besar berasal dari sisi sayap. Irfan Jaya memimpin dengan tiga gol, sementara Witan Sulaeman menyusul dengan dua gol.

Persebaran gol Timnas Indonesia juga merata. Evan Dimas dan Rachmat Irianto sebagai gelandang mampu menorehkan dua gol, begitu pula bek sayap kiri Pratama Arhan yang mengemas dua gol.

Shin Tae-yong harus memanfaatkan naluri tinggi para pemain Timnas Indonesia dalam mencetak gol untuk memborbardir gawang Thailand.

Punya Lini Tengah Agresif

Keceriaan Asnawi Mangkualam bersama Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman usai memastikan lolos ke final. Ya, final keenam di Piala AFF seperti yang diisyaratkan lewat jari-jarinya, yang semoga berbuah gelar juara untuk yang pertama kali. (AP/Suhaimi Abdullah)
Keceriaan Asnawi Mangkualam bersama Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman usai memastikan lolos ke final. Ya, final keenam di Piala AFF seperti yang diisyaratkan lewat jari-jarinya, yang semoga berbuah gelar juara untuk yang pertama kali. (AP/Suhaimi Abdullah)

Denyut serangan Timnas Indonesia berasal dari lini kedua. Nama-nama seperti Irfan Jaya, Witan Sulaeman, hingga Ricky Kambuaya menjadi motor penggerak Skuad Garuda.

Irfan Jaya dan Witan menyusur dari tepi lapangan, sementara Kambuaya munusuk dari lini tengah. Kontribusi ketiganya akan sangat dibutuhkan Timnas Indonesia untuk melawan Thailand.

Irfan Jaya dan Witan juga punya insting gol yang tokcer. Keduanya harus pintar-pintar dalam memanfaatkan peluang karena satu gol saja sudah berharga buat Timnas Indonesia.

Berani Bereksperimen

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Shin Tae-yong. (PSSI).
Pelatih Timnas Indonesia U-19, Shin Tae-yong. (PSSI).

Taktik dan strategi Shin Tae-yong mulai terbaca. Arsitek berusia 51 tahun itu belakangan tidak berani bereksperimen dengan pakem Timnas Indonesia.

Setelah memainkan 4-1-4-1, 5-4-1, Shin Tae-yong mencoba pola 4-2-3-1 dengan mendorong Alfeandra Dewangga sebagai gelandang bertahan.

Formasi itu justru dapat dieksploitasi Thailand. Beberapa gol Gajah Perang pada leg pertama bermula dari lini tengah yang seharusnya dikawal oleh Dewangga dan Rachmat Irianto.

Untuk mengejar defisit empat gol dari Thailand, Shin Tae-yong dapat menjajal formasi menyerang dengan komposisi menyerang pula, seperti 4-3-3 misalnya. Sebab, situasi saat ini memaksa Skuad Garuda untuk nothing to lose.

Wajib Turunkan Tim Inti

Tertinggal empat gol, Dedik Setiawan dan kawan-kawan masih mendapatkan beberapa peluang yang sayangnya belum berbuah gol. (AP/Suhaimi Abdullah)
Tertinggal empat gol, Dedik Setiawan dan kawan-kawan masih mendapatkan beberapa peluang yang sayangnya belum berbuah gol. (AP/Suhaimi Abdullah)

Di tengah-tengah Piala AFF, Shin Tae-yong melakukan perubahan ekstrem dengan mencadangkan Evan Dimas dan Elkan Baggott. Keduanya menjadi spesialis pengganti sekarang.

Shin Tae-yong juga belum berani memainkan Egy Maulana Vikri sebagai starter. Padahal, pemain berusia 21 tahun itu punya tenaga yang lebih fresh. Permainannya belum banyak diketahui lawan karena baru bergabung pada babak semifinal.

Egy dan Evan Dimas layak diturunkan sebagai pemain utama pada leg kedua melawan Thailand. Kreativitas keduanya dibutuhkan oleh Timnas Indonesia. Baggott juga dapat menjadi opsi masuk starting eleven. Posturnya yang menjulang mencapai 197 cm dapat bermanfaat di situasi bola mati.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel