4 Pemain Arema yang Direkrut dari Tim Liga 2 dan Sukses Tampil Moncer

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Arema FC sudah mendatangkan empat pemain baru di putaran kedua BRI Liga 1 2021/2022. Keempatnya adalah Genta Alparedo, Ryan Kurnia, Fabiano Beltrame dan Sandi Sute. Semua direkrut dari tim Liga 2.

Pro dan kontrak sempat muncul di kalangan suporter, Aremania. Logikanya, secara kualitas Liga 2 masih di bawah Liga 1. Namun pelatih Eduardo Almeida berhasil meyakinkan manajemen jika para pemain itu sesuai dengan kebutuhan tim.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Arema mendatangkan pemain dari Liga 2. Sejak menjelma jadi tim mapan musim 2013 silam, ada beberapa pemain yang ditarik dari kasta kedua.

Memang tidak semua meraih kesuksesan, tapi tetap ada yang namanya melambung bersama Singo Edan. Bagi pelatih dan manajemen, mengorbitkan pemain dari Liga 2 adalah sebuah kesuksesan.

Baisanya, mereka dapat mengontraknya dengan nilai yang tak terlalu tinggi. Tapi kontribusinya lumayan besar. Berikut para pemain dari Liga 2 yang sukses diorbitkan Singo Edan.

Rivaldi Bawuo

Pemain sayap Arema, Rivaldi Bawuo, ketika pemanasan jelang melawan Persita di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada babak 32 besar Piala Indonesia 2018 (26/1/2019). (Bola.com/Iwan Setiawan)
Pemain sayap Arema, Rivaldi Bawuo, ketika pemanasan jelang melawan Persita di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, pada babak 32 besar Piala Indonesia 2018 (26/1/2019). (Bola.com/Iwan Setiawan)

Striker lincah ini dikontrak Arema musim 2018. Waktu itu, pelatih Joko 'Getuk' Susilo yang kepincut bakatnya saat bermain di Liga 2 bersama Kalteng Putra. Sang pelatih melihat langsung babak delapan besar Liga 2. Rivaldi berhasil menyabet gelar top skorer.

Aremania sempat penasaran dengan performa striker yang satu ini. Mereka menyambutnya dengan hangat karena prestasinya sebagai pemain tersubur di kasta kedua. Waktu itu Arema baru kehilangan striker Cristian Gonzales dan pemain sayap Esteban Vizcarra.

Sehingga pemain asal Gorontalo ini punya kesempatan bermain lumayan banyak. Selama dua musim bermain di Arema, total dia mencetak 10 gol dari 49 laga. Tidak terlalu subur memang. Penyebabnya, Rivaldi lebih banyak turun sebagai pemain sayap.

Namun kecepatan dan skill individu miliiknya sering mengundang decak kagum Aremania. Tapi sayang, musim keduanya di Arema, dia lebih sering jadi cadangan. Pelatih Milomir Seslija lebih senang memasang pemain sayap yang juga kuat membantu pertahanan.

Sedangkan Rivaldi lemah saat bertahan. Sukses di Arema, Rivaldi dipinang klub kaya Jawa Timur, Madura United. Namun kesempatan main yang didapatkan justru lebih sedikit. Musim ini dia ikut membawa Persis Solo juara Liga 2.

Jayus Hariono

Jayus Hariono mendapat rekomendasi pelatih Arema. (Bola.com/Iwan Setiawan)
Jayus Hariono mendapat rekomendasi pelatih Arema. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Tak ada yang mengenal namanya saat resmi dikontrak musim 2018 silam. Maklum, Jayus sebelumnya bermain untuk Persekam Metro FC di Liga 2.

Meski tim itu juga berasal dari Kabupaten Malang, namun para pemainnya dihuni anak muda yang baru meniti karir di sepakbola profesional.

Jayus sempat dipandang sebelah mata. Dia diprediksi hanya jadi penonton karena kalah bersaing. Waktu itu Arema masih punya gelandang sekelas Hendro Siswanto, Juan Revi dan Hanif Sjahbandi.

Tapi Jayus bisa mematahkan prediksi itu. Saat kesempatan datang, dia bisa membuktikan kematangan mentalnya. Lantaran gelandang jangkar ini langsung jadi starter dalam El Clasico Jawa Timur, lawan Persebaya Surabaya.

Permainannya simpel, minim teknik tapi keras saat memburu bola dari kaki lawan. Sejak itu dia mulai dikenal. Saat Arema lawan tim yang punya gelandang berkualitas, Jayus sering diturunkan untuk mematikannya.

Dia sempat dipanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas U-23. Sampai saat ini, Jayus masih bertahan di tim Singo Edan. Di usia yang lebih matang, permainannya tak berubah. Tetap keras dan jadi langganan kartu.

Dedik Setiawan

Striker Arema FC, Dedik Setiawan (kanan) menguasai bola dibayangi bek Persikabo 1973, Andy Setyo Nugroho dalam laga pembuka Piala Menpora 2021 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (21/3/2021). Arema FC bermain Imbang 1-1 dengan Persikabo 1973. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Striker Arema FC, Dedik Setiawan (kanan) menguasai bola dibayangi bek Persikabo 1973, Andy Setyo Nugroho dalam laga pembuka Piala Menpora 2021 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (21/3/2021). Arema FC bermain Imbang 1-1 dengan Persikabo 1973. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Bisa dibilang dia pemain tersukses dari Liga 2 yang diorbitkan Arema. Dikontrak di pertengahan musim 2016, kariernya terus meningkat. Padahal waktu itu tak banyak yang mengenal Dedik.

Sementara Arema sudah punya barisan depan sekelas Cristian Gonzales, Febry Hamzah, Esteban Vizcarra dan Okto Maniani. Bisa dibilang waktu itu Dedik jadi opsi terakhir di lini depan Arema.

Dedik dikontrak Arema dari Persekam Metro FC. Asisten pelatih Arema, Kuncoro yang mengetahui bakatnya justru dalam pertandingan tarkam. Waktu itu label pemain tarkam melekat padanya. Saat tak ada kompetisi, agenda tarkam sering dilakoni Dedik dan teman-temannya di Kabupaten Malang.

Ternyata insting Kuncoro jika Dedik bisa tampil di Liga 1 benar. Tahun 2017, dia mulai dapat kepercayaan lebih besar. Total Dedik main 28 laga. Meskipun mayoritas hanya jadi pengganti, 6 gol bisa disarangkannya. Musim 2018 dia jadi starter dalam 21 pertandingan dan mengoleksi 10 gol.

Walau sempat cedera lutut dan naik meja operasi, Dedik kembali masuk skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2020 di Singapura kemarin. Meski performanya tak segarang sebelum operasi lutut dan dapat banyak kritikan di Piala AFF, Dedik masih diperhitungkan sebagai striker lokal papan atas Indonesia.

Ahmad Nufiandani

Ahmad Nufiandani. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)
Ahmad Nufiandani. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Nufiandani dikontrak dari PSIS Semarang saat masih berkiprah di Liga 2 di musim 2015. Waktu itu dia masih pemain muda dengan postur tak terlalu tinggi. Joko 'Getuk' Susilo yang jadi asisten pelatih Arema waktu itu memberikan masukan agar Arema mengontraknya.

Tak butuh waktu lama, Dani, sapaan akrabnya bisa memperlihatkan permainan luar biasa. Sayap senior Dendi Santoso sempat tersingkir dan jadi cadangannya.

Sayangnya kompetisi terhenti akibat sanksi FIFA. Tapi Dani masih bisa bersinar karena Timnas Indonesia U-23 memanggilnya untuk ajang SEA Games di Singapura. Dia jadi motor serangan Indonesia di ajang tersebut. Sayang, dia mengalami cedera lutut di sebuah turnamen bersama Arema.

Namanya pun menghilang dan memutuskan pamit dari Arema untuk pendidikan TNI. Paruh musim 2016 Arema kembali menariknya. Tapi lagi-lagi dia mengalami cedera. Beberapa tahun terakhir Dani muncul membela Persikabo. Paruh musim 2021, dia memutuskan pindah ke Persik Kediri.

Di Mana Posisi Arema Saat Ini?

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel