4 Peninggalan Mendiang Putri Diana yang Tak Pernah Dilupakan Oleh Dunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sudah 23 tahun lebih sejak Putri Diana meninggal dalam kecelakaan mobil yang mengerikan pada dini hari tanggal 31 Agustus di Paris, Prancis.

Kematiannya mengejutkan seluruh dunia karena dia adalah "Putri Rakyat", yang sangat dipuja dan dihormati oleh semua orang.

Hidupnya bukannya tanpa insiden. Dari seorang gadis yang menikah pada usia 19 dengan Pangeran Charles yang akan menjadi raja suatu hari nanti, Putri Diana berjuang melawan kerasnya kehidupan kerajaan.

Dia menjadi lebih dari sekadar ikon gaya, menjadi kekuatan filantropi terkemuka, dengan meningkatkan kesadaran banyak orang soal kusta, ranjau darat, hingga HIV/AIDS.

Berikut adalah beberapa peninggalan Putri Diana semasa hidup yang menyentuh banyak hati rakyat, dikutip dari laman yourstory, Rabu (28/4/2021):

1. Menolak Ranjau Darat

Mendiang Putri Diana berjalan di tengah-tengah ladang ranjau Huambo, Angola, 15 Januari 1997. Putri Diana rela berjalan di antara ranjau darat aktif untuk membantu kampanye Palang Merah yang melarang penggunaan ranjau darat di seluruh dunia. (John Stillwell/PA via AP, File)
Mendiang Putri Diana berjalan di tengah-tengah ladang ranjau Huambo, Angola, 15 Januari 1997. Putri Diana rela berjalan di antara ranjau darat aktif untuk membantu kampanye Palang Merah yang melarang penggunaan ranjau darat di seluruh dunia. (John Stillwell/PA via AP, File)

Hanya beberapa bulan sebelum dia meninggal dalam kecelakaan mobil, Putri Diana melakukan perjalanan ke Angola, dan gambaran abadi tentang dia yang melangkah ke ladang ranjau aktif.

Dia dengan gigih menganjurkan larangan ranjau darat. Tak hanya itu, satu lagi gambar ikonik dari dirinya yang duduk di samping seorang gadis muda dengan kaki yang diamputasi juga muncul dari kunjungan tersebut.

Kunjungan dan gambar yang berani ini menjadi titik balik bagi dunia untuk menyoroti Angola dan ranjau daratnya. Yang menggembirakan adalah putranya yang lebih muda, Pangeran Harry saat ini, telah mengambil alih peran dengan melanjutkan pekerjaan ibunya.

2. Kesadaran soal HIV/AIDS

Foto ini diambil pada tanggal 25 April 1991. Kala itu Putri Diana tengah berbincang dengan seorang pria yang positif HIV/AIDS di rumah sakit di Rio de Jeneiro, Brasil (AFP)
Foto ini diambil pada tanggal 25 April 1991. Kala itu Putri Diana tengah berbincang dengan seorang pria yang positif HIV/AIDS di rumah sakit di Rio de Jeneiro, Brasil (AFP)

Ketika dunia menyadari kengerian HIV/AIDS di awal tahun 80-an, pasien dijauhi dan distigmatisasi karena penyakit tersebut memiliki konotasi seksual.

Putri Diana juga bukan orang yang menghindar dari perjuangan untuk kesadaran HIV/AIDS.

Sejak tahun 1987, banyak pihak melihat sisi belas kasihnya ketika dia mengunjungi pasien AIDS di sebuah rumah sakit di London.

Dia juga terlihat menjabat tangan pasien tanpa mengenakan sarung tangan, mengirimkan pesan kepada dunia bahwa penyakit tersebut tidak dapat ditularkan melalui sentuhan.

Tindakan tunggal Putri ini sebagian besar mengubah persepsi orang terhadap HIV/AIDS.

3. Membantu kaum muda dan tunawisma

Putri Diana dengan pasien kusta di Rumah Sakit Anandaban di Kathmandu Selatan pada 4 Maret 1993. Foto ini diambil di hari kelima saat Diana mengunjungi Nepal (AP)
Putri Diana dengan pasien kusta di Rumah Sakit Anandaban di Kathmandu Selatan pada 4 Maret 1993. Foto ini diambil di hari kelima saat Diana mengunjungi Nepal (AP)

Putri Diana menjadi pelindung Centrepoint, yang membantu kaum muda dan tunawisma turun dari jalanan pada tahun 1992.

Dia terus-menerus mengunjungi tempat penampungan, membawa serta putra-putranya yang masih kecil, Pangeran William dan Putri Harry.

4. Kesadaran soal kusta

Putri Diana saat berbincang dengan pasien penderita kusta (The Leprosy Mission)
Putri Diana saat berbincang dengan pasien penderita kusta (The Leprosy Mission)

Seperti kunjungannya ke ranjau darat aktif di Angola, kunjungan Putri ke Rumah Sakit Kusta Sitanala di Indonesia juga mengundang kontroversi.

Namun, dia tidak membiarkan para penentang mengganggunya dan terus duduk di tempat tidur pasien kusta di rumah sakit, berjabat tangan dan menyentuh luka mereka, menyoroti soal kusta yang sangat dibutuhkan di seluruh dunia.

Putri Diana juga merupakan bagian dari Misi Kusta Inggris dan Wales dari tahun 1990 sampai dia meninggal pada tahun 1997.

Seperti halnya dengan pasien HIV/AIDS, dia berusaha untuk menghilangkan stigma seputar kusta, memberikan pesan bahwa mereka juga perlu diperlakukan dengan bermartabat dan penuh cinta.