4 Penumpang Positif, Penambahan Gerbong KRL Batal dan Diganti 150 Bus

Dusep Malik, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pasca ditemukan empat penumpang KRL positif COVID-19, penambahan gerbong KRL untuk mengurai kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dibatalkan. Sebagai alternatif pengganti mengurai kepadatan, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan warga menuju Jakarta akan disiapkan 150 bus.

"Atas dasar ditemukannya positif sehingga masih belum memungkinkan penambah kapasitas gerbong. Jadi tidak mungkin yang sekarang 45 persen ditambah lagi, jadi masih belum memungkinkan," jelas Bima Arya saat meninjau swab massal di Terminal Baranang Siang, Jumat 10 Juni 2020.

Pembatalan penambahan gerbong dengan penggantian bus, lanjut Bima, sudah melalui rapat koordinasi yang dipimpin Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perhubungan, Menpan RB, dan Menpanrekraf serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Kata Bima, hasil rapat tersebut menindaklanjuti persoalan yang terjadi di stasiun. Pertama kondisi tidak memungkinkan menambah kapasitas gerbong. Sebagai gantinya, akan ada penambahan dua jadwal keberangkatan kereta dari stasiun Bogor lebih pagi.

"Ya karena situasinya masih belum aman dan terbukti masih ditemukannya pasien positif begitu ya di stasiun," ucapnya.

Selain penambahan jadwal KRL, lanjut Bima, untuk mengatasi kepadatan juga akan ada penambahan pelayanan bus sebanyak 150 unit mulai Senin besok. Bus tersebut 75 dari kementerian, 75 bus dari Provinsi Jakarta. Dengan begitu diharapkan dapat mengurai kepadatan penumpang di pagi hari.

"10 bus akan berangkat dari Pool Damri di samping Botani Squre, sisanya 140 bus akan berangkat dari stasiun Bogor. Untuk 140 bus yang berangkat dari stasiun Bogor tujuannya adalah Sudirman, Juanda, Tanah Abang dan Manggarai. Sedangkan 10 bus dari Damri tujuannya Sudirman dan Juanda," katanya.

"Jadi ini perhatian bagi seluruh warga Bogor mudah-mudahan ini bisa mengurai. Karena hitung-hitungan kami lonjakan di pagi hari masih bisa dicairkan apabila busnya ditambah hari Senin," kata Bima.

Bima menyampaikan, berdasarkan kesepakatan rapat koordinasi, kapasitas bus akan ditambah menjadi 70 persen. Sehingga dalam satu bus akan diisi 40 penumpang atau 6.000 penumpang untuk 150 bus.

"Mudah-mudahan ini bisa mencairkan ya. Dan disampaikan juga masukan dari Pemkot Bogor tentang evaluasi shift kerja di Jakarta. Jadi ini akan kembali dikaji oleh Menpan RB dan Gubernur Jakarta karena shift ini masih belum berjalan secara maksimal," kata Bima.

Sebagai langkah-langkah antisipatif dan preventif Pemkot Bogor mengencarkan terus tes swab di stasiun dan terminal. Hari ini sebanyak 200 test yang dilakukan. "Saat ini sudah 46 jadi setiap minggu akan digencarkan ini stasiun terminal di tempat-tempat umum untuk mendeteksi secara dini potensi penularan COVID-19," papar Bima.

Sebelumnya diberitakan, total positif yang ditemukan empat orang dengan rincian dua positif di Stasiun Bogor dan dua Positif di stasiun Bojonggede.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno menyampaikan, rapid dan swab tes di stasiun di gelar beberapa kali. Selain oleh Pemerintah Kota Bogor, tes juga dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang juga menemukan dua penumpang positif.

Pada tes yang dilaksanakan Provinsi Jawa Barat 26 Juni 2020, sebanyak 856 penumpang KRL Commuter Line mengikuti rapid test massal, 500 penumpang di Stasiun Bogor dan 356 penumpang Stasiun Bojonggede.

Hasilnya, delapan penumpang stasiun Bogor dan tujuh penumpang di Bojonggede reaktif rapid tes. Tetapi saat swab, kata Retno, sample spesimen tidak dibedakan sehingga 15 reaktif merupakan total Stasiun Bogor dan Bojonggede.

"Dari 15 yang reaktif kemudian di swab ada dua yang positif dan itu dari warga Kabupaten Bogor," kata Retno.