4 Saran Jika Vaksinasi COVID-19 Sudah Berjalan

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Vaksin COVID-19 telah tiba di Tanah Air beberapa waktu lalu dan akan segera diberikan pada kelompok prioritas di daerah dengan zona merah. Lantaran kasus COVID-19 masih sangat baru di dunia medis, tak sedikit para pakar yang memberikan saran agar tak terjadi kegagalan yang membahayakan jiwa.

Hal serupa juga dilakukan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia alias ALMI yang menuturkan bahwa program vaksinasi COVID-19 perlu memperhitungkan empat faktor yang meliputi: efikasi, keamanan, efektivitas, dan keadilan. Di sisi lain, rencana pemerintah untuk membuka kemungkinan vaksinasi mandiri perlu diteruskan untuk mengimbangi kecepatan pemerintah menyediakan vaksin gratis.

Vaksinasi mandiri oleh layanan kesehatan harus mengikuti petunjuk teknis pemerintah dan dilakukan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan. Dengan penyediaan pilihan untuk vaksinasi mandiri, dapat menjangkau sasaran lebih luas. Menggratiskan program vaksinasi berarti mengurangi risiko program gagal berjalan karena ada orang tidak mampu atau tidak membayar.

Paling utama dalam menjalankan program vaksinasi ini adalah prinsip kehati-hatian perlu diterapkan dan mengutamakan sains untuk pengambilan keputusan program vaksinasi COVID-19. Para ilmuwan masih meneliti seberapa besar perlindungan vaksinasi dan seberapa lama perlindungan tersebut akan bertahan. Vaksin COVID-19 yang digunakan adalah yang efektif, aman, dan mendapatkan izin pemakaian dari BPOM.

"Menggunakan vaksin COVID-19 yang telah mendapatkan hasil uji klinis yang sah dan terbukti efektif, baik dari studi di dalam atau luar Indonesia, masih lebih baik daripada mengambil risiko menggunakan vaksin yang belum memberikan bukti perlindungan," tulis keterangan itu.

Sementara itu, kelompok prioritas juga dapat dimodifikasi karena lebih banyak bukti tersedia tentang epidemiologi dan karakteristik vaksin COVID-19, termasuk informasi tentang keamanan vaksin dan kemanjuran menurut usia dan kelompok sasaran. Disarankan juga, Pemerintah perlu membangun sistem registrasi elektronik (bisa diintegrasikan ke aplikasi seluler, seperti JAKI-Jakarta Kini) untuk memantau cakupan, keamanan, efektivitas, dan penerimaan vaksin di populasi.

Perlu diingat, program imunisasi wajib selain vaksinasi COVID-19 tetap harus dilakukan. Pemerintah harus tetap melakukan program imunisasi wajib yang selama ini berjalan, untuk mencegah munculnya wabah atau kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

"Upaya re-purposing obat (melihat indikasi potensi terapi yang sudah ada) tetap diperlukan untuk menekan keparahan wabah. Di masa yang akan datang, ditambah perubahan ekologi alam memungkinkan virus bisa bermutasi dan menimbulkan infeksi baru," sambung keterangan itu.

Terakhir, ekosistem riset yang baik tetap diperlukan untuk mendukung riset terkait vaksin, sehingga Indonesia memiliki kemandirian vaksin. Meskipun vaksin saat ini dipandang menjadi satu-satunya senjata ampuh, namun tetap dibutuhkan edukasi kepada masyarakat, bahwa vaksin bukan satu-satunya cara agar Indonesia terlepas dari pandemi COVID-19.