4 Seruan Jokowi di KTT Kesehatan Global soal Kesetaraan Vaksin hingga Pandemi Covid-19

·Bacaan 4 menit
Presiden Jokowi saat memberi pernyataan terkait KPK di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/5/2021). (Biro Pers Media Istana)

Liputan6.com, Jakarta - Pendapat tentang cara mengatasi pandemi Covid-19, salah satu yang diungkap Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kesehatan Global yang digelar secara virtual, pada Jumat, 21 Mei kemarin.

Menurut Jokowi, memproduksi banyak vaksin merupakan salah satu upaya untuk mengentaskan pandemi Covid-19 yang telah menyebar keseluruh belahan dunia.

"Jika isu kapasitas produksi dan distribusi vaksin tidak segera ditangani saya khawatir akan semakin lama kita dapat menyelesaikan pandemi ini," cemas Jokowi, seperti dikutip dari siaran pers diterima, Sabtu (22/5/2021).

Selain itu, Jokowi menyoroti masih adanya kesenjangan global atas akses vaksin yang diterima oleh negara berkembang dan kaya.

Dia menyebut baru 0,3 persen suplai vaksin Covid-19 untuk negara berpengasilan rendah. Sementara, untuk negara kaya telah diterima sebanyak 83 persen dosis vaksin.

"Untuk itu kita harus melakukan langkah nyata yaitu, dalam jangka pendek, kita harus mendorong lebih kuat lagi dosis-sharing melalui skema Covax Facility," ucap Jokowi.

Berikut deretan pernyataan Jokowi terkait kesetaraan akses vaksin Covid-19 hingga solusi penanganan pandemi yang telah melanda dunia:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

1. Percaya Kerja Sama Global Mampu Atasi Pandemi Covid-19

Jokowi mendorong negara-negara G-20 mengambil bagian untuk membangun arsitektur ketahanan kesehatan global. Tujuannya, agar ancaman masa depan seperti pandemi Covid-19 saat ini dapat dihadapi dengan lebih baik.

"Kerja sama global menjadi sebuah keniscayaan. Recover together, recover stronger," ajak Jokowi kala berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kesehatan Global secara virtual, seperti dikutip dari siaran pers diterima, Sabtu (22/5/2021).

Jokowi menilai, prinsip-prinsip dalam Deklarasi Roma sangat penting untuk ketahanan kesehatan global. Namun, prinsip tersebut tidak akan berarti jika tidak diterapkan secara konkret.

"Implementasi adalah kunci dan dunia hanya bisa pulih serta menjadi lebih kuat jika kita melakukannya bersama," yakin Jokowi.

2. Produksi Vaksin Diperbanyak

Dalam pidatonya, Jokowi juga menyebut salah satu solusi terbaik untuk mengentaskan pandemi dengan melipatgandakan produksi vaksin Covid-19.

Jokowi percaya, untuk memenuhi kebutuhan global dan membangun ketahanan kesehatan tentu memerlukan peningkatan kapasitas produksi secara kolektif melalui alih teknologi dan investasi.

Jokowi menyebut, bahwa negara-negara anggota G-20 harus memberikan dukungan bagi peningkatan produksi dan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

"Indonesia mendukung penuh proposal TRIPS Waiver yang mengusulkan untuk sementara waktu melepaskan kewajiban dalam melindungi hak kekayaan intelektual terkait pencegahan, penanganan, atau pengobatan Covid-19," kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan, bahwa Indonesia saat ini telah memutuskan untuk menjadi salah satu negara co-sponsor proposal TRIPS Waiver. Jokowi berharap dengan proposal itu negara-negara anggota G-20 lainnya dapat memberikan dukungan kuat yang senada.

"Sebagai produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara, Indonesia siap untuk menjadi bagian peningkatan produksi vaksin di kawasan," Jokowi memungkasi.

3. Jokowi Serukan Kesetaraan Akses Vaksin Covid-19

Dia pun menyerukan keadilan vaksin Covid-19 untuk seluruh negara. Sebab hingga saat ini, kata Jokowi masih ada disparitas atau kesenjangan global atas akses vaksin masih melebar.

"Saya harus kembali mengingatkan kita semua kita hanya akan betul-betul pulih dan aman Covid-19 jika semua negara juga telah pulih, no one is safe until everyone is, saat ini tantangan akses vaksin yang adil dan merata bagi semua masih sangat besar seperti masalah suplay, pendanaan dan keengganan terhadap vaksin," kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Global Health Summit dalam akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 21 Mei 2021.

Jokowi pun membeberkan saat ini masih ada beberapa negara yang sudah memulai vaksinasi kelompok berisiko rendah, yaitu anak-anak dan usia belia. Tetapi baru 0,3 persen suplai vaksin untuk negara berpengasilan rendah.

"Kesenjangan itu sangat nyata ketika 83 persen dosis vaksin global sudah diterima negara kaya, sementara negara berkembang hanya terima 17 persen untuk 47 persen populasi dunia," ungkapnya.

4. Dorong Dosis Sharing Lewat Skema Covax Facility

Sehingga dia pun mengajak negara G20 untuk melakukan langkah-langkah agar masalah vaksin bisa teratasi. Salah satunya yaitu strategi jangka pendek dengan mendorong lebih kuat lagi dosis sharing melalui skema Covax facility.

"Ini merupakan bentuk solidaritas yang harus didorong dan dilipatgandakan khususnya mengatasi masalah ketimpangan masalah suplai, dalam jangka menengah dan panjang kita harus melipat gandakan produksi vaksin untuk memenuhi kebutuhan global," beber Jokowi.

Tidak hanya itu, untuk membangun ketahanan kesehatan, Jokowi juga mengatakan, diperlukan kapasitas produksi secara kolektif. Dengan para ahli teknologi dan investasi.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel