4 Tanda Anda Stres saat Pandemi Virus Corona COVID-19, Ini Cara Mengatasinya

Jakarta - Karantina mandiri sebagai langkah penyebaran pandemi virus Corona ternyata memberikan dampak negatf, satu di antaranya terhadap kesehatan mental. Seseorang bisa mengalami stres di tengah pandemi COVID-19.

Stres adalah respons tubuh untuk menghadapi atau lari dari suatu keadaan.

Dilansir dari Doc Doc, hipotalamus di otak adalah satu di antara bagian yang bertanggung jawab untuk mendeteksi penyebab stres (stressor) atau untuk memahami adanya ancaman.

Adrenalin meningkatkan denyut jantung dan pasokan energi, sementara kortisol meningkatkan konsentrasi glukosa dalam aliran darah dan langsung bereaksi terhadap stressor atau ancaman.

Jika Anda berada di bawah tekanan sepanjang waktu, tubuh akan terus-menerus memproduksi adrenalin dan kortisol.

Stres cenderung mendorong rasa ingin marah setiap saat, tidak dapat berpikir jernih, kehilangan nafsu makan, dan banyak lagi.

Gejala yang muncul saat seseorang mengalami stres dapat berbeda-beda, tergantung penyebab dan cara menyikapinya.

Stres akan berakhir saat kondisi yang menyebabkan tekanan atau frustasi tersebut dilewati.

Bola.com telah merangkum dari berbagai sumber, gejala Anda mengalami stres dan cara penanganannya, terutama ketika menjalani karantina mandiri untuk cegah terinfeksi COVID-19.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Tanda Alami Stres

Ilustrasi Stres karena terjerat utang | foto : istimewa

Dilansir dari laman Alo Dokter, gejala yang muncul ketika seseorang mengalami stres dapat berbeda-beda. Gejala dapat dibedakan menjadi:

  1. Gejala emosi, seperti frustrasi, suasana hati berubah-ubah, sulit menenangkan pikiran, rendah diri, serta merasa kesepian, tidak berguna, bingung, dan hilang kendali, hingga tampak bingung, menghindari orang lain.
  2. Gejala fisik, seperti lemas, pusing, migrain, sakit kepala tegang, gangguan pencernaan (mual dan diare atau sembelit), nyeri otot, jantung berdebar, sering batuk pilek, gangguan tidur, hasrat seksual menurun, tubuh gemetar, telinga berdengung, kaki tangan terasa dingin dan berkeringat, atau mulut kering dan sulit menelan.
  3. Gejala kognitif, seperti sering lupa, sulit memusatkan perhatian, pesimis, memiliki pandangan yang negatif, dan membuat keputusan yang tidak baik.
  4. Gejala perilaku, seperti tidak mau makan, menghindari tanggung jawab, serta menunjukkan sikap gugup seperti menggigit kuku atau berjalan bolak-balik, merokok, hingga mengonsumsi alkohol secara berlebihan.

Cara Atasi Stres

Ilustrasi Stres. (Sumber Foto: Shutterstock/The List)

Metode penanganan stres mencakup perubahan gaya hidup, teknik relaksasi, serta psikoterapi.

Perubahan gaya hidup, seperti berolahraga secara teratur, tidur yang cukup, konsumsi makanan sehat dengan cukupi asupan gizi, hindari konsumsi alkohol dan kafein.

Selain itu, Anda bisa melakukan teknik relaksasi untuk atasi stres dengan meditasi, menghirup aromaterapi, atau melakukan yoga.

Jika kedua cara tersebut masih kurang efektif, Anda bisa kunjungi atau konsultasi  psikoterapi (psikiater) untuk meminta membuat tujuan dalam hidup menjadi teratur dan lebih baik.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikiater bila Anda merasa mengalami stres yang berkepanjangan.

 

Disadur dari: Bola.com (Penulis: Alfi Yuda/Editor: Aning Jati, published 2/4/2020)

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.