4 Tanggapan Menhub soal Macet di Puncak yang Terus Berulang

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menanggapi soal kemacetan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat yang tidak pernah usai.

Menurut Menhub, persoalan kemacetan yang terjadi di kawasan Puncak ibarat gunung es.

"Jadi Puncak itu ibarat gunung es, persoalan transportasi hanyalah puncak gunung es dari masalah yang terlihat selama ini," ujar dia dalam webinar Puncak, Mengapa Diminati Meski Macet Menanti, Selasa (29/12/2020).

Menhub menilai, selain memang Puncak merupakan salah satu destinasi wisata, kawasan tersebut masih ada pembangunan.

Dia mengatakan, meningkatnya jumlah pengunjung ini menjadi beban tersendiri bagi kawasan Puncak, utamanya dari sisi transportasi.

"Pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak membuat daya tarik dan demand ini bertambah banyak dan tentu dampaknya sering terjadi suatu kemacetan yang kronis di setiap akhir pekan, libur panjang,"

Berikut 4 tanggapan Menhub Budi Karya Sumadi terkait kemacetan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat yang selalu terjadi dihimpun Liputan6.com:

Kemacetan Ibarat Gunung Es

Sejumlah kendaraan berhenti di jalan tol Jagorawi menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Akhir pekan beriringan dengan libur panjang dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Sejumlah kendaraan berhenti di jalan tol Jagorawi menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Akhir pekan beriringan dengan libur panjang dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebutkan, persoalan kemacetan yang terjadi di kawasan Puncak Bogor Jawa Barat ibarat gunung es. Kemacetan merupakan puncak dari gunung es tersebut.

"Jadi Puncak itu ibarat gunung es, persoalan transportasi hanyalah puncak gunung es dari masalah yang terlihat selama ini," ujar dia dalam Webinar "Puncak, Mengapa Diminati Meski Macet Menanti" Selasa (29/12/2020).

Tak sampai disitu, Menhub Budi juga mengatakan, permasalahan di kawasan Puncak tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi transportasi saja.

Penyelesaian Masalah Harus Dilakukan Bersama

Sejumlah kendaraan berhenti di jalan tol Jagorawi menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Akhir pekan beriringan dengan libur panjang dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Sejumlah kendaraan berhenti di jalan tol Jagorawi menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Akhir pekan beriringan dengan libur panjang dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Bersama dengan semua pemangku kepentingan, Menhub Budi ingin memastikan kawasan Puncak dapat dijaga kelestariannya, meskipun semakin hari jumlah pengunjung semakin banyak.

"Kita hadir bersama semua pemangku kepentingan untuk menjadikan Puncak yang tidak hanya ramah bagi pengunjung dan masyarakat puncak. Tapi bagaimana secara holistik Puncak bagian dari Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) menjadi daerah yang harus kita selesaikan secara alami. Bagaimana mereka tetap asri, lestari, tapi bagaimana kita mengendalikan Puncak itu secara lebih holistik," papar Budi Karya.

Adapun beberapa kebijakan yang dilakukan Kementerian Perhubungan (kemenhub) bersama stakeholder selama ini masih bersifat jangka pendek, seperti skenario buka-tutup jalan, pemberlakuan satu arah, dan rekayasa 2-1.

"Kita inginkan ada suatu narasi yang lebih komprehensif, yang satu sisi tetap memberikan layanan kepada masyarakat, tapi kita (juga) memberikan solusi bagi masyarakat," ucap Menhub Budi.

Alasan Kemacetan Terus Terjadi

Sejumlah pedagang asongan menawarkan dagangan kepada pengendara di jalan tol Jagorawi yang sedang menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Sejumlah pedagang asongan menawarkan dagangan kepada pengendara di jalan tol Jagorawi yang sedang menanti waktu buka tutup jalur menuju kawasan wisata puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kawasan Puncak menjadi salah satu destinasi wisata paling banyak diminati warga Jakarta saat musim libur. Menhub Budi Karya Sumadi menyebutkan, hal ini antara lain ditunjang pesatnya pembangunan di kawasan tersebut.

Budi mengatakan, meningkatnya jumlah pengunjung ini menjadi beban tersendiri bagi kawasan Puncak, utamanya dari sisi transportasi.

"Pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak membuat daya tarik dan demand ini bertambah banyak dan tentu dampaknya sering terjadi suatu kemacetan yang kronis di setiap akhir pekan, libur panjang," terang dia.

Minta Siapkan Transportasi Massal

Suasana contraflow Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, Kamis (24/12/2020). Puncak arus lalu lintas keluar Jabodetabek via jalan tol diprediksi terjadi hari ini, Kamis (24/12). (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Suasana contraflow Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, Kamis (24/12/2020). Puncak arus lalu lintas keluar Jabodetabek via jalan tol diprediksi terjadi hari ini, Kamis (24/12). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Budi Karya pun ingin agar ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kemacetan di kawasan Puncak Bogor.

Sebab, yang selama ini dilakukan oleh Kementerian Perhubungan (kemenhub) bersama dengan pemangku kepentingan terkait hanya melakukan solusi jangka pendek.

"Kita inginkan ada suatu narasi yang lebih komprehensif, yang satu sisi tetap beri layanan pada masyarakat, tetapi kita beri solusi pada masyarakat," kata Menhub.

Dia pun memberikan solusi jangka panjang dengan transportasi massal. Kemenhub pun sudah menghadirkan subsidi bus. Hotel-hotel juga disarankan untuk bisa menyediakan bus sebagai akomodasi utama.

Dengan adanya transportasi massal seperti bus ini maka pengunjung atau wisatawan tidak perlu membawa kendaraan pribadi menuju Puncak Bogor.

"Kita sarankan hotel-hotel itu juga memiliki bus agar pengunjung tidak gunakan mobil. Bahkan kita berpikir bahwa bila mungkin kita ORT, Otonomus Rapid Transit, satu kereta dengan menggunakan ban, bukan metal, sehingga kapasitasnya besar," jelas Budi.

(Fifiyanti Abdurahman)

5 Saran Dokter untuk Penyintas Covid-19

Infografis 5 Saran Dokter untuk Penyintas Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 5 Saran Dokter untuk Penyintas Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: