4 Tren Perilaku Konsumen Saat Belanja Produk Kecantikan Sepanjang 2021, Diprediksi Bakal Berlanjut ke Tahun 2022

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang masih berlanjut di 2021 turut berdampak pada perubahan perilaku konsumen saat berbelanja produk kecantikan. Namun, situasinya jelas berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, menyusul temuan vaksin dan tren pemulihan ekonomi, terutama jelang akhir 2021.

Social Bella mencatat empat perubahan perilaku pelanggan kecantikan yang terus beradaptasi dengan kondisi yang terjadi. "Selama pandemi, kami melihat pelanggan kecantikan merupakan yang paling adaptif di tengah perubahan yang terus terjadi," kata Co-Founder & CMO Social Bella (SOCO) Chrisanti Indiana, dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Senin (27/12/2021).

Ia menyebut kemudahan teknologi dan informasi menjadi pendorong perubahan perilaku konsumen. Selain itu, implementasi WFH yang diprediksi masih berlanjut di tahun depan akan tetap berdampak signifikan terhadap tren konsumen produk kecantikan pada 2022. Apa saja temuan Social Bella?

1. Ulasan Produk Makin Jadi Pertimbangan Utama

Dengan kehadiran ratusan brand kecantikan ditambah melimpahnya informasi yang bisa diakses bebas, konsumen makin mencari pegangan yang bisa diandalkan sebelum memutuskan membeli produk kecantikan. Salah satunya adalah memanfaatkan ulasan dari sesama pengguna produk.

Indikasinya terlihat dari peningkatan pengguna platform SOCO hingga 31 persen dibandingkan tahun lalu. Lewat platform tersebut, pengguna bisa membaca sekaligus berbagi ulasan tentang beragam produk kecantikan dan perawatan pribadi. Semakin lengkap informasi yang dibagikan dan variatifnya produk akan semakin baik.

Khusus aplikasi SOCO, pelanggan cukup memindai barcode pada fitur yang ada di aplikasi SOCO pada produk kecantikan yang diinginkan untuk mendapatkan informasi lengkap mulai dari deskripsi produk, cara penggunaan, kandungan produk, hingga rating dan ulasan pelanggan lainnya. Kemudahan ini juga mendorong peningkatan total ulasan para pelanggan, sebesar 58 persen dibandingkan pada 2020.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2. Haus Pelajari Kandungan Aktif

Ilustrasi kosmetik lokal. (dok. Tusik Only/Unsplash)
Ilustrasi kosmetik lokal. (dok. Tusik Only/Unsplash)

Salah satu tren yang menonjol di 2021 dan diprediksi akan terus berlanjut di tahun depan adalah minat konsumen terhadap produk yang mengandung bahan aktif. Namun, tidak semua konsumen memahami tentang bahan aktif tersebut. Padahal, kandungan produk menjadi poin pertimbangan penting untuk menentukan produk yang akan digunakan.

Bahan aktif yang tepat bisa efektif memenuhi kebutuhan masing-masing kulit pelanggan. Maka, konsumen pun kini ada kecenderungan mencari informasi yang lebih komprehensif tentang bahan aktif tersebut. Sociolla merespons kebutuhan itu dengan meluncurkan laman khusus The Active Ingredients Guide yang tersedia di aplikasi SOCO.

3. Brand Lokal Makin Dilirik

Pandemi disebut menjadi momen penting yang semakin mendorong popularitas brand lokal. Sociolla mencatat adanya peningkatan ketertarikan para penyuka produk kecantikan yang sangat signifikan terhadap produk-produk seperti primer (80%), concealer (50%) serta loose powder (60%). Selain itu, angka penjualan untuk produk-produk tersebut yang berasal dari brand lokal pun meningkat hingga 66 persen pada 2021.

Sedangkan untuk produk skincare, ampoule, toner dan sunscreen menjadi produk yang paling diminati sepanjang 2021. Carasun adalah salah satu produk sunscreen lokal yang menjadi favorit para beauty enthusiast yang terjual lebih dari 1 juta setelah diluncurkan pada April 2021. Sementara, brand makeup lokal, Mother of Pearl oleh Tasya Farasya menjadi pendatang baru yang melejit di tahun ini.

4. Ingin Belanja Offline

Ilustrasi toko kosmetik. (dok. foto Charisse Kenion/Unsplash)
Ilustrasi toko kosmetik. (dok. foto Charisse Kenion/Unsplash)

Chrisanti juga menyebut pelanggan kosmetik mulai merindukan pengalaman berbelanja langsung di toko. Hal itu terutama melihat situasi pandemi yang perlahan-lahan membaik.

"Dengan adaptasi pandemi yang terus berjalan, kami melihat kedepan integrasi layanan online dan offline akan menjadi jawaban akan kebutuhan para pelanggan kecantikan. Pelanggan sudah mulai berkegiatan secara normal, namun dengan protokol kesehatan yang ketat," ujar dia.

Karena itu, konsep omnichanel dinilai paling ideal dalam menjalankan bisnis kecantikan saat ini. Dengan konsep ini, pelanggan tetap bisa menikmati kemudahan berbelanja offline di toko dengan memanfaatkan integrasi layanan online dengan memanfaatkan aplikasi yang ada. Kegiatan berbelanja offline dengan produk diantarkan secara online, maupun sebaliknya dengan berbelanja online dengan pengambilan produk offline di toko terdekat adalah era baru bagi industri kecantikan ke depan.

Sampah Produk Kecantikan

Infografis Sampah Kemasan Produk Kecantikan. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Sampah Kemasan Produk Kecantikan. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel