40 persen penularan HIV AIDS di Kalsel berada di Banjarmasin

·Bacaan 2 menit

Wali Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, H Ibnu Sina meminta warganya tidak hanya waspada terhadap COVID-19 saat ini, tapi juga virus HIV AIDS, karena 40 persen penularan berada di ibu kota provinsi ini.

"Dari data seluruh Kalsel jumlah kasus HIV AIDS sebanyak 3.300 orang tertular, 40 persen berada di kota kita," ujarnya di Banjarmasin, Senin.

Dengan diperingati Hari AIDS se-Dunia 2021, Ibnu Sina meminta warganya untuk selalu menerapkan hidup sehat, dengan tidak melakukan perbuatan yang bisa tertular penyakit mematikan tersebut.

Karena kasusnya cukup banyak di kota ini, Ibnu Sina meminta harus jadi perhatian semua pihak, tidak hanya kasus COVID-19 yang jadi fokus perhatian saat ini.

Baca juga: Lepas lebih dari tiga dekade, mampukah Indonesia akhiri HIV di 2030?

Baca juga: Pengobatan ARV bagi ODHA di masa pandemi COVID-19

"Dua tahun ini kita berjibaku dengan pandemi COVID-19, sedangkan kasus-kasus penyakit menular lainnya, termasuk juga penyakit yang menjadi perhatian seperti HIV kemudian DBD, selama ini semua tertutupi oleh pandemi COVID-19 padahal kasusnya berjalan terus," ujarnya.

"Makanya kami berharap ini menjadi perhatian kita juga," ucapnya.

Dia pun menyampaikan, untuk kasus HIV AIDS ini, sebagai tanda maksimal perhatian pemerintah kota, maka melalui dinas kesehatan setempat, di Launching Video Kampanye Koalisi Peduli HIV/AIDS bertepatan peringatan Hari AIDS se-Dunia yang jatuh hari ini.

Dia pun menyampaikan, salah satu cara untuk menghindari penularan penyakit tersebut tentunya dengan melakukan pencegahan.

"Tadi saya tekankan agar melakukan upaya pencegahan, kalau yang sudah terjadi, ini kan harus ditangani, tapi kalau yang bisa dicegah, ya, sebaiknya program pencegahan bisa dilaksanakan," ujarnya.

Memang, kata Ibnu Sina, cara paling mudah untuk melakukan pencegahan penularan penyakit tersebut adalah dengan memberikan pembelajaran dan menghindari pergaulan bebas.

"Anak-anak kita di masa pandemi ini lebih banyak di rumah, jadi lebih dekat dengan keluarga, dengan ayahnya, dengan ibunya, dengan orang tua sehingga mereka bisa diberikan edukasi tentang bahaya virus HIV AIDS," katanya.

Selain orangtua, Ibnu meminta peran para tokoh di masyarakat juga sangat penting dalam mensosialisasikan pencegahan, sehingga para remaja serta orang dewasa lebih paham tentang bahaya penyakit tersebut.

"Mudah-mudahan ini bisa disosialisasikan melalui tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, termasuk juga institusi pemerintah. Dalam hal ini SKPD terkait seperti dinas kesehatan kemudian juga pembinaan keluarga sampai camat dan lurah," katanya.*

Baca juga: Menjaga ODHA bertahan di tengah pandemi COVID-19

Baca juga: Kasus HIV/AIDS Kabupaten Bogor capai 2.616 orang

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel