5.000 Pasien Corona COVID-19 Arab Saudi Pulih Dalam 24 Jam

Liputan6.com, Jakarta- Arab Saudi mencatat jumlah pemulihan tertinggi dari pasien Corona COVID-19 dalam 24 jam terakhir sejak dimulainya pandemi, demikian menurut pengumuman Kementerian Kesehatan setempat.

Sebanyak 5.085 pasien dinyatakan pulih dalam jangka waktu itu, sehingga jumlah total pasien pulih di Arab Saudi menjadi 117.882.

Meskipun dalam beberapa hari terakhir Negara Kerajaan itu telah mengalami sedikit penurunan dalam kasus baru Virus Corona COVID-19, terutama di kota-kota yang mencatat infeksi luas seperti Riyadh, namun menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi Mohammed Al-Abd Al-Aly jumlah tersebut tidak mencerminkan penurunan yang stabil.

Mohammed mengatakan, "Kurva epidemi sering berfluktuasi, jumlahnya berubah setiap hari berdasarkan banyak faktor, dan kepatuhan masyarakat terhadap tindakan pencegahan adalah peran utama."

“Namun, perubahan ini tidak mencerminkan perilaku sosial dalam satu atau dua hari; sebaliknya, mereka mencerminkan hasil praktik masyarakat dari dua hingga empat minggu yang lalu," jelas Mohammed.

Menurutnya, orang sering berasumsi karena kesalahan membaca angka-angka. "Hasil dari apa yang kita lakukan hari ini akan muncul dalam beberapa minggu ke depan," tambahnya.

"Pastikan Anda menghindari tempat-tempat ramai, menghindari menyentuh barang-barang pribadi dengan orang asing, berkumpul di jalan, dan selalu memberi perhatian ekstra kepada anak-anak," ujar Mohammed, demikian seperti dikutip dari Arab News, Jumat (26/6/2020). 

Belum Ada Bukti Kuat Dampak Kerusakan Pada Paru-Paru

Para pekerja membersihkan Masjidil Haram saat kegiatan umrah di kota suci Muslim Mekah, Arab Saudi, Senin, (2/3/2020). Semenjak pemerintah Arab Saudi melarang kegiatan umrah, tempat paling suci umat Islam ini menjadi terlihat lebih sepi dari biasanya. (AP Photo/Amr Nabil)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Arab Saudi membagikan sebuah cerita tentang seorang pria yang tertular penyakit COVID-19 karena dia mengabaikan membersihkan tangan usai berbelanja. Akibatnya, ia memindahkan infeksi itu ke enam anggota keluarganya, salah satunya menderita hipertensi dan diabetes dan saat ini sedang dirawat intensif di rumah sakit.

Selain itu, kementerian tersebut mencatat bahwa masker medis efektif dalam mencegah infeksi. Kendati demikian tidak boleh digunakan lebih dari satu hari. Sementara masker kain harus dicuci secara teratur.

Sedangkan mengenai Virus Corona COVID-19 yang dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen, Dr. Abdullah Asiri, asisten wakil menteri untuk kesehatan preventif dan konsultan penyakit menular di Arab Saudi mengatakan bahwa belum ada bukti terkait efek tersebut. 

Dr. Abdullah Asiri membantah desas-desus yang menyatakan bahwa 30 persen dari mereka yang tertular penyakit itu memiliki fibrosis paru (penyakit yang terjadi ketika jaringan paru-paru menjadi rusak).

Dr. Abdullah Asiri menerangkan, "Sebagian besar orang dengan COVID-19 tidak menunjukkan gejala infeksi paru-paru."

"Namun, beberapa pasien menderita pneumonia, dan kebanyakan dari mereka adalah kasus sederhana yang sembuh dalam empat hingga lima hari," ungkap Dr. Abdullah Asiri.

Seperti halnya virus apa pun, dampak Corona COVID-19 yang mungkin terjadi pada paru-paru pasien meningkat sehingga mereka bergantung pada ventilator, tambah Dr. Abdullah Asiri. 

Menurut pernyataan Kemenkes Arab Saudi, juga tidak ada kasus yang dikonfirmasi di negara mereka pada pasien Corona COVID-19 yang pulih dan kemudian tertular lagi, "namun, masih terlalu dini untuk mendapatkan jawaban akhir dalam hal ini," ujar Mohammed.

Pada Kamis 25 Juni, Arab Saudi mencatat 41 kematian karena Corona COVID-19, meningkatkan totalnya menjadi 1.428.

Saksikan Video Berikut Ini: