5 Alasan Anak Tengah Disebut Paling Pintar dan Kuat

Ichsan Suhendra, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menjadi anak tengah tidaklah mudah. Banyak orang yang tidak menyadari, anak tengah kurang mendapat perhatian. Tapi, inilah yang membedakannya dari yang lain hingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Anak tengah lebih mandiri dan bisa menghargai hal-hal kecil. Berikut beberapa alasan mengapa anak tengah menjadi yang terkuat dan pintar dibanding yang lain, dilansir Life Hack, Rabu 24 Februari 2021.

1. Mereka tahu cara memecahkan masalah secara efisien

Saudara kandung selalu berdebat bahkan bertengkar. Namun, biasanya anak tengah selalu terjebak di antara drama yang berulang. Mereka seringkali menjadi ahli pada subjek yang diperdebatkan.

Anak tengah akan mengambil kedua sisi argumen dari saudara-saudaranya dan membangun pernyataan yang begitu kuat, emosional, dan logis, yang biasanya mengakhiri argumen saat itu juga.

2. Pengambil risiko

Saudara kandung yang lain sangat terbiasa mendapatkan semua perhatian, sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan apa pun tanpanya. Ini menguntungkan bagi anak tengah karena mereka biasanya tampil lebih dulu. Mereka kemudian menjadi pengambil risiko yang berani.

Anak tengah tidak merasa perlu meminta persetujuan dari guru atau orangtua. Mereka hanya keluar dan melakukan sesuatu pada level yang sangat tinggi, hingga membuat orang lain terkesan.

3. Baik hati

Saat tumbuh dewasa, anak tengah tidak punya pilihan selain membela kakaknya dan bersikap baik kepada yang lebih muda. Jauh di lubuk hati, anak tengah adalah orang yang sangat baik.

4. Lebih baik dalam hal keuangan

Anak termuda dan tertua biasanya yang paling manja. Mereka bisa menghabiskan uang orangtuanya dalam jumlah banyak. Sedangkan anak tengah, mereka mengambil apa yang mereka bisa, tetapi mereka lebih pintar saat membelanjakannya.

5. Lebih pintar

Anak tengah bisa belajar dari kakak tertuanya. Tetapi mereka juga terjebak untuk mengajari saudaranya yang lebih muda. Namun, ini bukanlah hal yang buruk. Diajarkan sesuatu adalah bentuk pembelajaran yang efektif, begitu juga dengan mengajar.

Menurut psikolog, biasanya anak tertua hanya bisa mengajarkan sementara yang termuda terbiasa diajari. Tetapi anak tengah mampu melakukan keduanya. Jadi, mereka lebih banyak melatih otaknya.