5 alasan kenapa persaingan antara WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Line penting

Josh Horwitz
5638599313_4c908c53f6_b-720x480

Apakah Anda muak dengan blog teknologi yang menulis tentang aplikasi chatting yang Anda tidak pernah pakai, yang populer di negara yang tidak pernah Anda kunjungi? Apakah Anda membaca berita di Line, atau game di KakaoTalk, atau aplikasi HTML5 di Kik, dan ingin berteriak “Saya tidak peduli…Saya masih akan terus menggunakan WhatsApp!!!”?

Ranah chatting mobile disesaki oleh WhatsApp, Snapchat, Facebook Messenger, WeChat, Line, Viber, Hike, Tango, KakaoTalk, Cubie, dan puluhan (ya, puluhan) lainnya, yang semuanya sebenarnya sama.

Meski yang mana pemenang dan pecundang sudah jelas terlihat, beberapa mungkin berkata bahwa chatting mobile telah mencapai titik jenuh, dalam hal aplikasi maupun liputan media.

Tapi persaingan chatting mobile penting karena beberapa alasan. Di bawah ini kami telah mengumpulkan lima pertanyaan yang muncul dari perang yang sedang berlangsung antara WhatsApp, Line dan media sosial lainnya.

1. Bisakah pemasaran dan branding yang agresif menguntungkan lima pemain pertama?

Karena aplikasi chatting tersebut berebut pangsa pasar, dua strategi bisnis berbeda melawan satu sama lain: pemasaran dengan model word-of-mouth versus pemasaran dengan model top-down yang agresif.

Karena menjadi yang pertama yang memasuki pasar, WhatsApp mendapatkan status sebagai aplikasi chatting pilihan dengan menggunakan satu taktik pemasaran dan hanya satu taktik pemasaran yakni word of mouth. Aplikasi yang menetapkan harga USD 0,99 untuk satu tahun berlangganan ini menarik pelanggan hanya karena menjadi aplikasi chatting yang pertama. Seorang teman meminta temannya yang lain untuk “WhatsApp aku” di Facebook, Twitter, dan di percakapan yang cukup untuk menarik perhatian para pemilik smartphone untuk mengeluarkan uang sebesar USD 0,99 demi menggunakan SMS gratis.

Pendekatan pemasaran WhatsApp yang konservatif bukanlah sebuah kebetulan. Perusahaan ini telah lama menghindari periklanan tradisional – sebagai taktik promosi maupun sebagai mekanisme monetasi – dalam prinsip mereka. Pada sebuah artikel di bulan Juni 2012 di blog WhatsApp, CEO Jan Koum menjelaskan bagaimana pengalamannya di Yahoo membuatnya melihat iklan sebagai sebuah hal yang mengganggu teknis dan sumber dana:

Iklan tidak hanya menganggu keindahan, menghina intelijensi Anda dan menginterupsi pemikiran Anda. Pada setiap perusahaan yang menjual iklan, sebagian besar tim teknisnya menghabiskan harinya untuk memasukkan data, menulis kode yang lebih baik untuk mengumpulkan semua data pribadi Anda, meng-upgrade server yang menampung semua data dan memastikan semuanya dimasukkan , disusun, dikemas, dan dikirimkan… Dan pada akhirnya hasilnnya adalah banner iklan yang hanya sedikit berbeda di browser atau layar mobile Anda.

Hal itu tidak berarti bahwa perusahaan ini tidak aktif berjuang untuk mendapatkan pangsa pasar. WhatsApp bekerjasama dengan Nokia untuk membuat handphone Nokia Asha 210 dengan built-in WhatsApp dan berkolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi di India untuk melakukan pre-install pada beberapa perangkat tertentu.

Taktik pemasaran WhatsApp yang lebih tenang tidak begitu terlihat, berbeda dengan taktik Line, pesaingnya yang paling agresif. Di tiga pasar terkuat – Thailand, Taiwan, dan Jepang, Line buatan Asia ini telah memenuhi stasiun kereta bawah tanah dan bus dengan iklan-iklannya. Line juga meluncurkan kampanye televisi di India, Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Filipina, disamping wilayah yang sebelumnya telah disebutkan.

Pikirkanlah: kapan terakhir kali Anda melihat iklan Facebook di TV? Atau iklan Spotify? Atau iklan Linkedln? Atau iklan Dropbox? Di era dimana jejaring sosial yang paling berpengaruh tetap bergantung pada word of mouth, Line berenang menentang arus tersebut.

2. Bisa bertahan meski sederhana

Pemasaran dapat membuat pelanggan sadar dan men-download aplikasi gratis. Tapi hanya yang punya diferensiasi atau keunikanlah yang dapat membuat orang-orang menggunakannya – dan mungkin, nantinya, menghabiskan uangnya untuk itu.

Diferensiasi itu mudah ketika pemegang kendalinya adalah WhatsApp. Selain sms, meng-upload foto, dan belakangan ini memperkenalkan push-to-talk messaging, WhatsApp menawarkan sedikit fitur, dan lebih mengutamakan user experience yang efisien.

Ini membuat ranah aplikasi chatting terbuka untuk berbagai persaingan. Line punya chat dan game, sticker, dan akan segera menambahkan fitur shopping. WeChat punya semua hal itu ditambah dengan timeline yang mirip dengan Facebook dan akun perusahaan atau selebriti yang dapat di-follow siapapun. Kik punya chat dan kartu berbasis HTM5, dengan tujuan menarik developer untuk membuat konten yang membuat pengguna ketagihan. Viber mengkhususkan diri dengan video call dan juga telepon ke telepon rumah yang mirip dengan Skype.

Tapi bisa dibilang bahwa tidak ada fitur yang dapat menarik pengguna untuk beralih dari aplikasi chatting standard pilihan mereka. Beberapa orang menggunakan lebih dari satu aplikasi, dan mereka senang dengan itu. Selama WhatsApp tetap menjadi pusat dimana seseorang dapat menjangkau sejumlah nomor kontak yang mungkin merespon, aplikasi chatting lain bisa menang dalam hal pengguna aktif dengan hal menawarkan hal seperti game, suara chatting yang lebih baik, sticker yang lebih lucu dan fitur ekstra – bukan dalam hal elemen inti chatting.

Lucunya, saya pernah mendengar banyak pengguna setia WhatsApp yang lebih memilih aplikasi ini karena kesederhanaannya. “Ini cukup, “ kata mereka. “Saya tidak perlu berpikir tentang timeline dan sticker.” Di sisi lain, beberapa orang mungkin mendengar kritik tentang ini dan berpikir tentang keyboard QWERTY BlackBerry atau teknologi serupa yang “cukup” tapi dengan cepat tersingkir.

3. Bisakah jejaring sosial hidup berdampingan dan menghasilkan uang?

Beberapa jejaring sosial dan layanan yang bersaing telah hidup berdampingan dalam skala global. Dalam hal apapun, Facebook menguasai dunia, sementara MySpace dan Friendster melempem (meski Friendster diluncurkan di Asia Tenggara). Pemain regional seperti VK asal Rusia dan Mixi asal Jepang mempunyai pengguna lokal yang lumayan banyak tapi tetap menjadi co-star Facebook.

Tapi Line ingin mengglobal, seperti yang dibuktikan dengan kampanye marketing internasionalnya. Tentunya perusahaan ini dapat terus meraup pendapatan yang besar di pasar seperti Jepang dan Thailand, tapi di pasar seperti India dan pasar barat, tidak jelas apakah ia akan menarik pasar tersebut untuk menempatkannya di tempat kedua. Selain itu, tempat kedua mungkin tidak menghasilkan banyak uang dari sticker, game, dan akun resmi. Bisnis global butuh pendapatan global. Naver dan Tencent dapat memenuhi seluruh dunia dengan baliho Line dan WeChat, tapi tidak ada jaminan bahwa keduanya akan berhasil.

4. Apakah Facebook dan Twitter telah melewatkan sesuatu yang besar?

Kesuksesan Line telah memunculkan pertanyaan tidak hanya tentang masa depan WhatsApp, tapi juga tentang masa depan jejaring sosial andalan seperti Facebook dan Twitter.

Meski belum mengungkapkan jumlah pengguna aktif bulanan, Line telah menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan sejak peluncuran awalnya pada Juni 2011, menarik hingga 280 juta pengguna terdaftar. Perusahaan ini menghasilkan USD 194 juta pada akhir kuartal di September, naik 48 persen dari kuartal sebelumnya. Sebagai perbandingan, pendapatan Facebook naik 12 persen dari USD 1,81 miliar menjadi USD 2,01 miliar pada kuartal lalu. Pendapatan Twitter berlipat ganda dari tahun ke tahun di kuartal ketiga 2013 dari USD 82,6 juta menjadi USD 168,2 juta, hal ini berarti dalam 7 tahun Twitter belum mendapat uang sebanyak yang Line dapatkan dalam waktu dua setengah tahun.

Twitter dan Facebook sama-sama menggunakan model bisnis serupa, dimana mereka menawarkan produk gratis kepada pengguna dan membebankan tarif yang mahal bagi pengiklan untuk mendapat data dan daya tarik. Tapi ada dua perbedaan antara dua jejaring asal Amerika tersebut dan Line. Pertama, mereka sama-sama tidak membebankan biaya pada pengguna (mari berasumsi bahwa gagasan tentang Facebook adalah platform game dan aplikasi diabaikan). Kedua, keduanya sama-sama lambat untuk ukuran sebuah layanan yang sukses menarik pengguna untuk bergabung dengan Line – chatting mobile yang terus hidup.

Kedua perusahaan tersebut telah menunjukkan tanda-tanda stress di depan aplikasi chatting lainnya, dan masing-masing telah memberlakukan pengukuran yang mengindikasikan peningkatan dalam hal chatting.

Kuartal terakhir Facebook terus menumbuhkan pengguna aktif bulanan mobile-nya sebesar 45 persen dari tahun ke tahun, dan pendapatan mobile mencapai 49 persen dari total seluruh pendapatan iklan. Tapi Facebook mencatatkan penurunan terkait pengguna aktif harian dan bulanan pada demografik remaja yang membuat beberapa orang merenungkan tentang jejaring sosial di antara generasi pengguna mobile masa depan. Sementara itu, perusahaan ini terlambat dalam hal chatting mobile. Meski meluncurkan sebuah aplikasi chatting pada Agustus 2011, aplikasi ini tidak dapat menarik pengguna untuk beralih dari WhatsApp dan Line. Tapi Facebook mencoba untuk menebus kegagalan tersebut dengan mengembangkan beberapa peningkatan pada produk mobile-nya (aplikasi Facebook dan Messenger) untuk meningkatkan sektor chatting, termasuk judul chatting dan bahkan sticker (meski gratis).

Twitter menghadapi tantangan yang sedikit berbeda – pertumbuhan pengguna aktif bulanannya lambat. Sepanjang tahun lalu, Twitter telah melakukan perubahan pada fungsi pesan langsungnya, seperti memungkinkan pengguna untuk menerima pesan langsung dari follower manapun, dan mengirim peringatan berita. Kedua fitur tersebut tersedia di Line dan WeChat melalui akun perusahaan atau selebritinya.

Pengiklan di Asia dan sekitarnya mungkin mau menghabiskan USD 30.000 untuk layanan iklan di Facebook, atau Twitter, atau akun resmi Line. Atau mungkin mereka mau menghabiskan USD 10.000 di masing-masing jejaring sosial dan aplikasi tersebut. Tapi Twitter dan Facebook lebih suka menikmati uang itu sendiri daripada untuk KakaoTalk, atau Line, atau WeChat.

5. Bisakan jejaring sosial asal Asia berjaya di seluruh dunia?

Akhirnya, ada elemen budaya yang dipertaruhkan ketika aplikasi chatting bersaing untuk pangsa pasar. Hal ini mungkin kurang menarik bagi beberapa pembaca. Meski diskusi tentang budaya bisa menjadi sengit dan sensitif, ada baiknya untuk sedikit menyinggung tentang ini.

Kebanyakan cerita sukses global tentang ranah internet konsumen berasal dari barat. Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp semuanya lahir dan dibesarkan di Amerika. Asia sukses dalam ranah hardware. Tapi pesaing sesungguhnya bagi layanan web besar belum juga muncul.

Terlalu awal untuk mengatakan apakah Line akan bisa sejajar dengan Facebook dan Twitter di pasar non-Asia. Tapi Line tentu berharap bisa melakukannya, dan jika berhasil, mereka akan menjadi yang pertama.

(Sumber: pengguna Flickr malczyk)


Post 5 alasan kenapa persaingan antara WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Line penting muncul terlebih dahulu di Tech in Asia Indonesia.