4 alasan mengapa WhatsApp tidak akan berkuasa di Indonesia (UPDATE)

Enricko Lukman

(Update: WhatsApp terikat dengan handphone dan nomor Anda. Jadi, meskipun pengguna Indonesia sering mengganti nomornya, selama mereka tidak berganti handphone, mereka masih bisa dihubungi melalui WhatsApp. Sehingga poin pertama kami yang sebelumnya mengatakan bahwa pengguna harus repot-repot memberitahu jika berganti nomor agar bisa tetap menggunakan WhatsApp tidak benar)

WhatsApp tidak akan sukses di Indonesia head

Menurut studi dari Nielsen, WhatsApp adalah aplikasi chatting kedua yang paling banyak digunakan di Indonesia. Saingannya antara lain BBM (BlackBerry Messenger), Line, WeChat, dan KakaoTalk. Saya tidak berniat mengejek pihak manapun, tapi menurut saya ada lima alasan mengapa WhatsApp tidak akan menguasai pasar Indonesia dalam waktu dekat:

(Baca juga: Meski memiliki WhatsApp, Facebook belum menguasai Asia)

1. Tidak ada fitur telepon gratis

WhatsApp memproses 50 miliar pesan tiap harinya, dan tampaknya sudah menggeser peran SMS. Tapi, ada satu lagi metode komunikasi yang masih bisa digeser: telepon. Di saat BBM, Line, WeChat, dan KakaoTalk sudah melakukan inisiatif memperkenalkan fitur telepon online gratis, WhatsApp masih belum melakukan apa-apa terkait hal tersebut.

Jika Anda ingin menikmati telepon gratis menggunakan koneksi internet, maka WhatsApp bukanlah aplikasi yang tepat untuk Anda.

2. Tidak ada fitur tambahan yang menyenangkan

Poin yang satu ini sangat subjektif. Ada orang yang suka dengan WhatsApp karena tidak memiliki fitur tambahan yang mengganggu. Tapi ada juga orang yang suka menggunakan Line, WeChat, dan KakaoTalk karena ketiganya memiliki fitur-fitur tambahan yang menyenangkan seperti sticker dan game sosial yang terintegrasi. Lantas, model yang mana yang menarik perhatian lebih banyak pengguna di Indonesia? Saya yakin jawabannya adalah yang kedua.

Dengan fakta bahwa 30 juta dari 75 juta pengguna internet Indonesia adalah remaja, maka mereka adalah pasar — yang biasanya tertarik pada fitur-fitur baru — yang tidak akan pernah bisa dikuasai WhatsApp. Masyarakat Indonesia cenderung menggunakan banyak aplikasi chatting untuk terhubung dalam lingkup sosial yang berbeda. Jadi, WhatsApp masih bisa menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang lebih menyukai aplikasi chatting yang “profesional” dan dewasa.

3. Nol pemasaran

Line, WeChat, dan KakaoTalk sangat agresif memasarkan produknya di Indonesia — dan juga pasar lain di Asia Tenggara. Ketiganya melakukan berbagai taktik pemasaran seperti iklan TV dan lainnya. Ini membuat angka pengguna mereka bisa bertumbuh pesat dalam waktu singkat.

WhatsApp tidak melakukan taktik pemasaran apa-apa di Indonesia, dan satu-satunya alasan mengapa WhatsApp sangat populer di sini karena mirip dengan BBM, WhatsApp adalah salah satu aplikasi chatting pertama yang pernah hadir di Indonesia.

4. WhatsApp tidak gratis

Ada banyak masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan WhatsApp lebih dari setahun tapi belum pernah membayar apa-apa. Tapi jika nantinya WhatsApp mulai menarik biaya tahunan dari pengguna Indonesia secara ketat, akan ada banyak orang yang pindah menggunakan aplikasi chatting lain yang gratis.

(Baca juga: WhatsApp mungkin tidak akan gratis lagi di Indonesia)

Dan jika nantinya banyak teman Anda yang tidak lagi menggunakan WhatsApp, maka Anda nantinya juga akan berhenti menggunakannya.

Tentu saja prediksi ini hanya akan terjadi jika WhatsApp tidak melakukan perubahan apa-apa. Facebook — yang juga sangat populer di Indonesia — bisa mencari cara untuk meningkatkan kualitas WhatsApp dan membuatnya lebih populer lagi di sini. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan Facebook kedepannya.

Prediksi perubahan Facebook dan WhatsApp di masa depan

Crystal-Ball-whatsapp