5 Biang Masalah yang Membuat AC Milan Kehilangan Nama Besar dan Kini Jadi Klub Medioker

Bola.com, Jakarta - AC Milan, salah satu klub yang pernah besar di jagat persaingan elite dunia. Entah apa yang terjadi, Milan dalam satu dekade terakhir benar-benar buruk. Jangankan bicara soal gelar juara, mereka bahkan terseok-seok untuk menembus papan atas.

Milan memang pernah jadi salah satu tim yang paling ditakuti di Eropa. Misalnya kejayaan mereka pada tahun 1990-an, juga generasi emas mereka tahun 2003-2007. Namun, sejak musim 2010-2011, hanya kesulitan yang dihadapi Milan.

Mereka terakhir kali menjuarai Serie A pada musim itu, 2010-2011, dan terakhir kali bermain di Liga Champions pada musim 2013-2014. Jelas itu catatan buruk bagi klub besar mana pun.

Rossoneri sudah mencoba bangkit berkali-kali, tapi berulang kali pula mereka terjatuh. Sejumlah pemain top datang dan pergi, hampir semua gagal. Investor datang silih berganti, AC Milan tetap jalan di tempat.

Sebenarnya apa yang terjadi pada AC Milan? Tentu ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, ada banyak alasan yang menyebabkan Milan terjatuh sedalam ini. Namun, setidaknya ada empat alasan utama yang disimpulkan oleh LatinAmerican Post.

Mau ikuti challenge 5 tahun Bola.com dengan hadiah menarik? Klik Tautan ini.

 

Terlalu Sering Ganti Pelatih

Clarence Seedorf saat melatih AC Milan (AFP/ALBERTO PIZZOLI)

Milan sudah berganti-ganti pelatih, sebut saja Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Sinisa Mihajlovic, Cristian Brocchi, Vincenzo Montella, Gennaro Gattuso, dan sekarang Stefano Pioli. Saking seringnya, pelatih-pelatih itu tidak sempat menanamkan filosofi yang mereka inginkan.

Pelatih mana pun butuh waktu, terlebih untuk membangkitkan tim yang telanjur terpuruk seperti Milan. Namun, karena hasil-hasil pertandingan yang tidak memuaskan, pada akhirnya mereka terpaksa pergi sebelum tuntas bekerja.

Mereka tidak punya waktu, tidak punya dukungan untuk menjalankan proyek yang sudah dirancang. Artinya, proyek itu pun terus berganti setiap pelatih berganti, jelas tidak iedal.

Hal ini berarti Milan tidak punya identitas yang jelas atau proyek yang jelas untuk mengembangkan tim.

  

Seringkali Buang Uang buat Pemain Tak Penting

Pemain AC Milan Fabio Borini berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Ludogorets Razgrad pada leg kedua babak 32 besar Liga Europa di San Siro, Milan, Kamis (22/2). Milan menang tipis 1-0 sehingga lolos ke babak 16 besar. (Daniel Dal Zennaro/ANSA via AP)

Milan telah menghabiskan banyak uang untuk membeli pemain. Bahkan mereka pernah mendatangkan 10 pemain sekaligus hanya dalam satu bursa transfer.

Kasus unik ini terjadi di era Montella, ketika Milan menghabiskan 160 juta poundsterling untuk merombak skuad. Mereka mendatangkan Musacchio, Frank Kessie, Ricardo Rodriguez, Andre Silva, Fabio Borini, Hakan Calhanoglu, Antonio Donnarumma, Andrea Conti, Lucas Biglia, bahkan Leonardo Bonucci.

Sekarang, hanya segelintir pemain-pemain itu yang masih membela Milan sampai sekarang. Megatransfer ini pun dipandang tidak tepat, karena Milan tidak mendatangkan satu pun megabintang.

Tidak ada transfer megah sekelas Kaka atau Shevchenko. Milan sudah tepat memilih berinvestasi pada pemain-pemain muda, tapi pemain muda itu pun tersesat karena tidak banyak pemain senior yang bisa membimbing mereka.

Finansial yang Tak Stabil

Penyerang AC Milan, Ante Rebic (tengah), berhasil mencetak dua gol sekaligus membantu timnya menang 3-2 atas Udinese pada laga pekan ke-20 Serie A, di San Siro, Minggu (19/1/2020). (AFP/Marco Bertorello)

Transfer buruk berakibat pada tim yang buruk, yang ujung-ujungnya membuat Milan kian sengsara gagal memenangi pertandingan. Perlahan-lahan, Milan merosot jadi tim medioker.

Mereka terakhir kali tampil di Liga Champions pada musim 2013-2014. Karena menjalani musim-musim buruk di Serie A, Milan benar-benar kesulitan mencari cara kembali ke turnamen prestisius tersebut.

Akibatnya, Adidas memutus kerja sama dengan Milan sejak beberapa tahun lalu. Hal ini berimbas pada hilangnya dana sponsor senilai 19 juta euro per tahun.

Perlahan-lahan Milan terus kehilangan sponsor karena kesulitan mereka di lapangan, apalagi bicara soal trofi. Kabarnya, Milan merugi sampai ratusan juta euro karena lama tidak juara dan lama tidak bermain di Liga Champions.

  

Terlambat Memutuskan Punya Direktur Teknik

Leonardo (AFP PHOTO/PAUL ELLIS)

Singkatnya, karena terus berganti pelatih, Milan seharusnya mengangkat direktur teknik untuk menjaga proyek besar pembangunan skuad. Dengan demikian, siapa pun pelatih yang datang, dia harus mengikuti proyek yang sudah direncanakan tersebut.

Milan terlambat bergerak. Bermusim-musim berlalu, mereka tidak punya proyek yang jelas, tidak punya direktur teknik. Milan sempat memercayai Leonardo, yang ternyata gagal total.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Milan akhirnya mulai berbenah beberapa tahun terakhir. Mereka mendatangkan Ivan Gazidis sebagai CEO, lalu menunjuk Paolo Maldini sebagai direktur teknik.

Sayangnya, kabarnya Maldini pun tidak bisa bekerja bebas karena otoritasnya benar-benar dibatasi.

Doyan Konflik Internal

Mantan pemain Italia Paolo Maldini saat menghadiri The Best FIFA Football Awards di Royal Festival Hall, London, Inggris, 24 September 2018. (Adrian DENNIS/AFP)

Masalah yang dialami Maldini terbukti pada kasus pemecatan Zvonimir Boban beberapa waktu lalu. Boban menjabat sebagai CFO, tapi berseteru dengan Gazidis.

Boban menjalin kerja sama apik dengan Maldini. Mereka bertanggung jawab atas pemecatan Marco Giampaolo dan penunjukan Stefano Pioli dewasa ini.

Namun, kabarnya Gazidis tidak terlalu suka dengan perkembangan Milan di bawah Pioli. Dia ngotot menunjuk Ralf Rangnick untuk menangani Milan musim depan tanpa berkonsultasi dengan Maldini atau Boban.

Boban jelas berang, dia mengkritik Gazidis di depan media. Pada akhirnya, justru Boban yang harus meninggalkan Milan.

 

Sumber asli: LatinAmerican Post

Disadur dari: Bola.net (Richard Andreas, Published 29/4/2020)

Video