5 Cara Mencegah Anak Bertengkar dengan Saudaranya Sendiri

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Anak-anak, terutama yang memiliki saudara seperti adik ataupun kakak, pastinya pernah mengalami pertengkaran dengan sesama saudaranya karena suatu hal. Biasanya, alasan yang paling umum adalah karena memperebutkan mainan atau hal-hal lain yang sebetulnya tidak perlu diperebutkan.

Dilansir dari parents.com, sebuah studi menunjukkan bahwa saudara laki-laki dan perempuan yang berusia balita dan prasekolah memiliki rata-rata lebih dari enam pertengkaran per jam.

Terkadang, pertengkaran bisa terjadi ketika anak-anak bersaing satu sama lain untuk mendapatkan perhatian ataupun persetujuan orang tua mereka. Semakin dekat usia saudara kandung, maka semakin sering kecenderungan mereka untuk bertengkar.

Mungkin bagi orang tua yang memiliki anak lebih dari satu dan jarak umurnya berdekatan, seringkali melihat anak-anaknya bertengkar. Terutama, saat situasi seperti sekarang ini, di mana anak-anak akan bertemu sepanjang hari selama 24 jam penuh di rumah, maka potensi mereka untuk berkelahi akan semakin lebih besar.

Berikut 5 cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah pertengkaran antara anak-anaknya, dilansir dari parents.com dan raisingchildren.net.au

Ajari anak untuk mempertimbangkan perasaan saudaranya

Ilustrasi/copyright shutterstock/9nong
Ilustrasi/copyright shutterstock/9nong

Anak-anak sering bertengkar karena mereka menghadapi situasi dengan sudut pandang dan keinginan yang berbeda.

Misalnya, ketika seorang adik ingin mengajak kakaknya main ketika dirinya sedang bosan, sedangkan kakaknya lebih suka melakukan kegiatannya sendiri dan memandang bahwa ajakan adiknya adalah perilaku yang mengganggu.

Maka dari itu, sebagai orang tua, kamu harus bisa memberikan pengertian kepada anak-anak agar mereka bisa belajar untuk mempertimbangkan dan memprediksi perasaan dan perspektif orang lain, terutama saudaranya sendiri. Dengan hal itu, maka mereka akan lebih memiliki hubungan persaudaraan yang lebih sehat.

Jangan membandingkan anak

Tanpa disadari, orang tua seringkali membandingkan kemampuan anak satu sama lain. Sebagai orang tua, memang mau tak mau akan memperhatikan keunikan anak-anak dan seringkali jadi menyadari apa kekuatan dan kekurangan anak satu sama lain.

Terkadang, perilaku orang tua yang menyoroti kekuatan satu anak, akan membuat anak yang lain menafsirkan perbandingan orang tua sebagai kritik secara implisit terhadap anak tersebut.

Kebiasaan orang tua seperti ini akan membuat anak-anak merasa buruk dengan diri mereka sendiri, dan dapat memicu kebencian terhadap saudara kandungnya sendiri. Hal inilah yang akan membuat mereka punya dendam yang akhirnya akan memicu perkelahian.

Berusahalah untuk selalu bersikap setara

Ilustrasi/Shutterstock.com/imtmphoto
Ilustrasi/Shutterstock.com/imtmphoto

Perlakuan yang sama tidak selalu sama dengan perlakuan yang adil. Contohnya, ketika anak yang berusia 4 tahun dan kakaknya yang berusia 10 tahun harus tidur pada waktu yang sama. Hal itu tentu saja sama, namun anak yang lebih besar tidak akan menganggapnya adil.

Anak-anak lebih suka diperlakukan adil dibandingkan sama, karena memiliki keinginan untuk dipahami. Ketika anak-anak tidak diperlakukan adil, maka mereka akan mencoba mencari tahu alasannya. Hal itulah yang akan memicu pertengkaran di kemudian hari.

Maka dari itu, orang tua harus bersikap adil dan setara agar perkelahian bisa dicegah.

Perhatikan kebutuhan tiap anak

Anak-anak perlu merasa bahwa kamu mencintai dan menghargai mereka semua dengan setara. Dengan cara ini, mereka tidak akan merasa harus bersaing untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian kamu sebagai orang tua.

Kamu bisa menumbuhkan perasaan tersebut dengan menghabiskan waktu khusus dengan setiap anak secara teratur dan berusaha untuk tidak membandingkan anak-anak satu sama lain,

Anak-anak akan merasa lebih dhargai jika orang tua memberikan penjelasan terkait aktivitas atau perilaku anak secara komprehensif. Ini dapat membantu menciptakan ruang dan waktu bagi anak-anak untuk melakukan sesuatu tanpa saudara mereka.

Jadilah penengah, bukan ‘wasit’

ilustrasi keluarga/copyright by fizkes (Shutterstock)
ilustrasi keluarga/copyright by fizkes (Shutterstock)

Biasanya, saudara kandung jarang menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan anak yang lebih tua atau yang lebih dominan biasanya ‘menang’ melalui kekuatan atau paksaan.

Di saat yang sama, sebagai orang tua tidak boleh menjadi wasit perkelahian saudara kandung karena kamu akan selalu tahu siapa yang ‘benar’. Karena ketika kamu melakukan hal tersebut, dan memihak pada satu anak di atas yang lain, maka anak yang kalah akan merasakan kebencian dan merasa direndahkan.

Dilansir dari parents.com, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak usia 3 tahun ke atas akan rentan memiliki perasaan tersebut, dan orang tua harus bisa bersikap sebagai mediator agar bisa lebih tenang dalam menangani konflik seperti ini.

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel