5 Dampak yang dapat Dialami Anak dari Kecanduan Media Sosial

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Tidaklah mengherankan bahwa tekanan untuk selalu tersedia di media sosial menjadi tantangan yang sangat nyata bagi remaja saat ini. Selain dari fakta bahwa pemahaman dan ketergantungan mereka pada media sosial jauh melebihi banyak orang dewasa, mereka juga menggunakan media sosial dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi juga. Media sosial adalah bagian kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar remaja. Berikut ini adalah dampak yang dialami oleh para remaja dari penggunaan media sosial bagi kesehatan mentalnya.

Mengganggu Kesehatan Mental

Para peneliti baru saja mulai membangun hubungan antara depresi dan media sosial. Meskipun mereka belum benar-benar menemukan hubungan sebab dan akibat antara media sosial dan depresi, mereka telah menemukan bahwa penggunaan media sosial dapat dikaitkan dengan intensifikasi gejala depresi, termasuk penurunan aktivitas sosial dan peningkatan kesepian.

Kegelisahan

Remaja sering kali merasa diinvestasikan secara emosional di akun media sosial mereka. Mereka tidak hanya merasakan tekanan untuk merespons dengan cepat secara online, tetapi mereka juga merasakan tekanan untuk memiliki foto yang sempurna dan unggahan yang ditulis dengan baik, yang semuanya dapat menyebabkan kecemasan yang besar. Faktanya, beberapa penelitian telah menemukan bahwa semakin besar lingkaran sosial remaja secara online, mereka semakin merasa cemas untuk mengikuti segala sesuatu secara online.

Butuh banyak waktu dan upaya untuk mengikuti aturan dan budaya tak terucapkan dari setiap platform media sosial. Akibatnya, hal ini memberi tekanan tambahan pada remaja, yang bisa menimbulkan perasaan cemas. Selain itu, jika remaja melakukan kecerobohan secara online, ini juga bisa menjadi sumber kecemasan yang ekstrem. Banyak remaja, terutama perempuan, cenderung khawatir tentang apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang mereka dan bagaimana mereka akan menanggapinya ketika mereka melihatnya nanti.

Kurang Tidur

Ilustrasi anak tidur. (dok. unsplash/@anniespratt)
Ilustrasi anak tidur. (dok. unsplash/@anniespratt)

Terkadang remaja menghabiskan begitu banyak waktu di media sosial sehingga mereka mulai kehilangan waktu tidur yang berharga. Akibatnya, kurang tidur ini dapat menyebabkan kemurungan, penurunan nilai, dan makan berlebihan, serta memperburuk masalah yang ada seperti depresi, dan kecemasan.

Anak Mudah Iri

Kecemburuan dan iri hati dapat membahayakan pada otak remaja jika mereka terus memikirkan apa yang orang lain miliki atau alami, yang tidak mereka miliki. Dan karena orang cenderung mengunggah hanya hal-hal positif yang mereka alami, atau meremehkan hal buruk dengan anekdot kecil yang lucu, pembaca dapat melihat bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih menarik daripada mereka.

Namun, mudah bagi seorang remaja untuk memainkan permainan perbandingan dan mulai berpikir bahwa setiap orang lebih bahagia atau lebih baik daripada mereka. Akibatnya, hal ini dapat menyebabkan depresi, kesepian, kemarahan, dan berbagai masalah lainnya. Terlebih lagi, rasa iri, jika tidak ditangani, seringkali mengarah pada penindasan dan perilaku jahat. Faktanya, banyak gadis yang kejam menargetkan orang lain karena mereka cemburu dengan pakaian target, pacar, kesuksesan, atau banyak hal lainnya.

Masalah Komunikasi

Ilustrasi/copyrightshutterstock/szefei
Ilustrasi/copyrightshutterstock/szefei

Meskipun media sosial adalah cara yang bagus untuk tetap berhubungan dengan teman dan keluarga, itu juga tidak sama dengan komunikasi tatap muka. Misalnya, seorang remaja tidak dapat melihat ekspresi wajah seseorang atau mendengar nada suaranya secara online. Akibatnya, kesalahpahaman sangat mudah terjadi, terutama saat orang-orang mencoba melucu atau menyindir saat online.

Banyak remaja menghabiskan begitu banyak waktu online untuk memeriksa status dan suka sehingga mereka lupa untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada di hadapan mereka. Untuk alasan ini, persahabatan dan hubungan kencan bisa rusak ketika media sosial menjadi pusat perhatian dalam kehidupan seseorang. Akibatnya, remaja berisiko memiliki hubungan yang tidak dalam atau otentik.

Remaja yang memprioritaskan media sosial akan sering berfokus pada gambar yang mereka ambil yang menunjukkan betapa menyenangkannya mereka daripada benar-benar berfokus pada kesenangan. Hasil akhirnya adalah persahabatan mereka memburuk.

Penting juga bagi keluarga untuk berdiskusi secara rutin tentang cara menggunakan media sosial secara bertanggung jawab dan aman. Saat keluarga menavigasi dunia media sosial bersama, dunia online remaja menjadi jauh lebih mudah diatur.

Cek Video di Bawah Ini

#Changemaker