5 Daratan Ini Belum Tersentuh Manusia

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Para ilmuwan telah mengungkapkan bahwa manusia telah merusak sebanyak 97 persen dari ekologi permukaan Bumi dan hanya 3 persen dari daratan yang secara ekologis masih utuh dengan habitat yang tidak tersentuh dan populasi yang sehat dari flora dan fauna asli.

Temuan ini dibahas dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal berjudul 'Frontiers in Forest and Global Change', membandingkan peta yang menunjukkan seberapa banyak manusia menghancurkan ekosistem di seluruh dunia dengan peta lain yang menunjukkan area di mana kelompok hewan telah berkurang populasinya atau punah.

Baca: Ilmuwan Rela Melakukan Apapun demi Alien

“Studi menunjukkan ada spesies yang telah hilang dari habitatnya, karnivora besar dan sedang dan herbivora besar hingga menengah,” kata penulis utama penelitian Andrew Plumptre, seperti dikutip dari laman Mashable, Sabtu, 24 April 2021.

Menurutnya, beberapa telah hilang atau berkurang jumlahnya karena perburuan oleh manusia, beberapa hilang karena masuknya spesies invasif, seperti kucing dan anjing, dan beberapa mati karena penyakit. Statistik baru ini memberi gambaran yang jauh lebih suram daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Penilaian sebelumnya memperkirakan bahwa sekitar 20 hingga 40 persen permukaan bumi masih belum terganggu dan rusak, tetapi angka tersebut berasal dari analisis yang sebagian besar didasarkan pada citra satelit yang belum tentu memberikan gambaran lengkap tentang apa yang terjadi di darat.

Untuk mengevaluasi dengan tepat keutuhan tanah permukaan, Plumptre dan tim bergantung pada tiga kriteria, yaitu keutuhan habitat, keutuhan fauna, dan keutuhan fungsional. Setelah memeriksa permukaan tanah berdasarkan tiga poin ini maka tim Plumptre menemukan bahwa sangat sedikit daratan di Bumi yang belum tersentuh manusia.

Ia dan tim juga menemukan bahwa ada lima ekosistem utuh yang tersisa di dunia lokasinya terletak di Kongo, Tanzania, Hutan Hujan Amazon, Siberia di Rusia, dan Chile Selatan. Meskipun angka-angka ini tidak terlihat bagus, tapi Plumptre dan tim masih menyuarakan optimisme mereka bahwa masalah ini dapat diatasi.

Mereka mengatakan bahwa lahan yang terkena dampak dan rusak telah kehilangan beberapa spesies kunci yang sebelumnya penting bagi pertumbuhan ekosistem lokal, tetapi banyak dari spesies ini telah menemukan cara untuk bertahan hidup di tempat lain.

"Ada kemungkinan ekosistem yang rusak ini dapat dipulihkan tepat waktu. Metode ini dapat mengembalikan hingga 20 persen daratan dunia kembali ke keadaan ekologis yang utuh," klaim Plumptre.