5 Disrupsi Tantangan Pertumbuhan Ekonomi RI Versi Menteri Erick Thohir

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir membeberkan, lima tantangan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mulai dari disrupsi kesehatan, teknologi, demografi, lingkungan, hingga kondisi geopolitik dunia.

Padahal, Indonesia memiliki visi sebagai negara maju di 2045. Artinya, kelima tantangan ini perlu disikapi dengan tepat.

"Pertama, ada disrupsi kesehatan, salah satunya kemarin kita menghadapi Covid-19, ini disrupsi kesehatan, siapa yang meng-guarantee (garansi) sepuluh tahun lagi tidak ada?," katanya dalam Kuliah Umum di Universitas Padjadjaran, Sabtu (23/4).

"Kalau kita lihat dari sejarah manusia, itu selalu ada yang namanya pandemi, dan hari inipun masih banyak virus-virus yang belum menjadi endemi, polio masih, AIDS masih. Untung saja covid-19 sudah menjadi endemi," imbuh dia.

Kedua, yakni disrupsi teknologi. Alasannya ini berdampak langsung kepada terciptanya lapangan kerja. Menteri Erick mencoba mengutip sebuah penelitian yang dilakukan di tiga negara di dunia, yakni Amerika Serikat, Jerman, dan Italia.

"Akan lebih banyak pekerjaan yang hilang dibandingkan yang tumbuh, Amerika saja akan kehilangan 6,1 juta pekerjaan dengan kualitas pendidikan dan teknologi yang sangat maju, itu juga jadi ancaman kita," katanya.

Bonus Demografi Hingga Perubahan Iklim

hingga perubahan iklim
hingga perubahan iklim.jpg

Tantangan ini sejalan dengan adanya bonus demografi Indonesia hingga 2038 nanti. Menteri Erick menyebut populasi Indonesia akan didominasi oleh kalangan anak muda.

"Ini jumlah demografi kita itu 273 juta, dan trennya piramidanya akan seperti ini terus sampai 2038, artinya yang mudanya lebih banyak. Setelah itu nanti piramidanya seperti ini (piramida terbalik), seperti di Jepang yang tuanya lebih banyak, ini juga akan merubah pola kehidupan," paparnya.

Di sisi lain, kondisi lingkungan di dunia saat ini juga mengalami sejumlah faktor penghambat. Yang paling jadi perhatian yakni adanya perubahan iklim yang terus membayangi kegiatan di dunia.

Menteri Erick menyebut, salah satu contohnya dengan adanya krisis pangan yang terjadi saat ini akibat dari cuaca yang tak menentu. "Alhamdulillah Indonesia (sektor) pangannya kuat, luar biasa tahun ini. tapi kita tidak tahu tahun depan, lingkungan ini berubah, berarti ini juga satu adaptasi yang harus kita cermati,” paparnya.

Tantangan terakhir yang saat ini berdampak cukup besar terhadap sebagian negara-negara maju di dunia adalah dampak dari perang Rusia-Ukraina. Kondisi geopolitik ini berdampak secara langsung terhadap kenaikan harga komoditas di dunia, termasuk Indonesia.

"Ini akan memperlambat recovery, tambahan 2 tahun lagi prediksinya. Sekarang apa? Kemarin sudah ada statement-statement, seperti era globalisasi akan hilang, sekarang trennya lebih kepada regionalism," katanya.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6 [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel